Penentuan Idul Adha Wajib Berdasarkan Rukyatul Hilal Penduduk Makkah

Pertanyaan :

Tahun ini umat Islam di Indonesia kemungkinan akan melaksanakan hari raya Idul Adha di hari yang berbeda. Sebenarnya, bagaimana metode yang syar’I dalam penentuan Idul Adha?

Jawaban

Para ulama mujtahidin telah berbeda pendapat dalam hal mengamalkan satu ru’yat yang sama untuk Idul Fitri. Madzhab Syafi’i menganut ru’yat lokal, yaitu mereka mengamalkan ru’yat masing-masing negeri. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali menganut ru’yat global, yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum Muslim. Artinya, jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat itu berlaku untuk seluruh kaum Muslim sedunia, meskipun mereka sendiri tidak dapat meru’yat.

Namun, khilafiyah semacam itu tidak ada dalam penentuan Idul Adha. Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Ru’yat yang dimaksud, adalah ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia.

Karena itu, kaum Muslim dalam sejarahnya senantiasa beridul Adha pada hari yang sama. Fakta ini diriwayatkan secara mutawatir (oleh orang banyak pihak yang mustahil sepakat bohong) bahkan sejak masa kenabian, dilanjutkan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin, Umawiyin, Abbasiyin, Utsmaniyin, hingga masa kita sekarang.

Namun meskipun penetapan Idul Adha ini sudah ma’luumun minad diini bidl dlaruurah (telah diketahui secara pasti sebagai bagian integral ajaran Islam), anehnya pemerintah Indonesia dengan mengikuti fatwa sebagian ulama telah berani membolehkan perbedaan Idul Adha di Indonesia. Jadilah Indonesia sebagai satu-satunya negara di muka bumi yang tidak mengikuti Hijaz dalam beridul Adha. Sebab, Idul Adha di Indonesia sering kali jatuh pada hari pertama dari Hari Tasyriq (tanggal 11 Dzulhijjah), dan bukannya pada Yaumun-nahr atau hari penyembelihan kurban (tanggal 10 Dzulhijjah).

Kewajiban kaum Muslim untuk beridul Adha (dan beridul Fitri) pada hari yang sama, telah ditunjukkan oleh banyak nash-nash syara’. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Hadits A’isyah RA, dia berkata “Rasulullah SAW telah bersabda :

“Idul Fitri adalah hari orang-orang (kaum Muslim) berbuka. Dan Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya sebagai hadits shahih; Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 697, hadits no 1305).

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang serupa dari shahabat Abu Hurairah RA dengan lafal :

“Bulan Puasa adalah bulan mereka (kaum muslimin) berpuasa. Idul Fitri adalah hari mereka berbuka. Idul Adha adalah hari mereka menyembelih kurban.” (HR.Tirmidzi) Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 697, hadits no 1306)

Imam At-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahlul ‘ilmi (ulama) menafsirkan hadits ini dengan menyatakan :

“Sesungguhnya makna shaum dan Idul Fitri ini adalah yang dilakukan bersama jama’ah [masyarakat muslim di bawah pimpinan Khalifah/Imam] dan sebahagian besar orang.” (Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 699)

Sementara itu Imam Badrudin Al-‘Aini dalam kitabnya Umdatul Qari berkata, “Orang-orang (kaum Muslim) senantiasa wajib mengikuti Imam (Khalifah). Jika Imam berpuasa, mereka wajib berpuasa. Jika Imam berbuka (beridul Fitri), mereka wajib pula berbuka.”

Hadits di atas secara jelas menunjukkan kewajiban berpuasa Ramadhan, beridul Fitri, dan beridul Adha bersama-sama orang banyak (lafal hadits: an-Naas), yaitu maksudnya bersama kaum Muslim pada umumnya, baik tatkala mereka hidup bersatu dalam sebuah negara khilafah seperti dulu, maupun tatkala hidup bercerai-cerai dalam kurungan negara-kebangsaan seperti saat ini setelah hancurnya khilafah di Turki tahun 1924.

Maka dari itu, seorang muslim tidak dibenarkan berpuasa sendirian, atau berbuka sendirian (beridul Fitri dan beridul Adha sendirian). Yang benar, dia harus berpuasa, berbuka dan berhari raya bersama-sama kaum Muslim pada umumnya.

(2) Hadits Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata: “Sesungguhnya Amir (Wali) Makkah pernah berkhutbah dan berkata :

“Rasulullah SAW mengamanatkan kepada kami untuk melaksanakan manasik haji berdasarkan ru’yat. Jika kami tidak berhasil meru’yat tetapi ada dua saksi adil yang berhasil meru’yat, maka kami melaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud [hadits no 2338] dan Ad-Daruquthni [Juz II/167]. Imam Ad-Daruquthni berkata,’Ini isnadnya bersambung [muttashil] dan shahih.’ Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 841, hadits no 1629)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa penentuan hari Arafah dan hari-hari pelaksanaan manasik haji, telah dilaksanakan pada saat adanya Daulah Islamiyah oleh pihak Wali Makkah. Hal ini berlandaskan perintah Nabi SAW kepada Amir (Wali) Makkah untuk menetapkan hari dimulainya manasik haji berdasarkan ru’yat.

Di samping itu, Rasulullah SAW juga telah menetapkan bahwa pelaksanaan manasik haji (sepertiwukuf di Arafah, thawaf ifadlah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah), harus ditetapkan berdasarkan ru’yat penduduk Makkah sendiri, bukan berdasarkan ru’yat penduduk Madinah, penduduk Najd, atau penduduk negeri-negeri Islam lainnya. Dalam kondisi tiadanya Daulah Islamiyah (Khilafah), penentuan waktu manasik haji tetap menjadi kewenangan pihak yang memerintah Hijaz dari kalangan kaum Muslim, meskipun kekuasaannya sendiri tidak sah menurut syara’. Dalam keadaan demikian, kaum Muslim seluruhnya di dunia wajib beridul Adha padaYaumun nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tatkala para jamaah haji di Makkah sedang menyembelih kurban mereka pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan bukan keesokan harinya (hari pertama dari Hari Tasyriq) seperti di Indonesia.

(3) Hadits Abu Hurairah RA, dia berkata :

“Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang puasa pada Hari Arafah, di Arafah” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 875, hadits no 1709).

Berdasarkan hadits itu, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Disunnahkan berpuasa pada Hari Arafah (tanggal 9 Dhulhijjah) bagi mereka yang bukan jamaah haji.”

Hadits di atas merupakan dalil yang jelas dan terang mengenai kewajiban penyatuan Idul Adha pada hari yang sama secara wajib ‘ain atas seluruh kaum Muslim. Sebab, jika disyari’atkan puasa bagi selain jamaah haji pada Hari Arafah (=hari tatkala jamaah haji wukuf di Padang Arafah), maka artinya, Hari Arafah itu satu adanya, tidak lebih dari satu dan tidak boleh lebih dari satu.

Karena itu, atas dasar apa kaum Muslim di Indonesia justru berpuasa Arafah pada hari penyembelihan kurban di Makkah (10 Dzulhijjah), yang sebenarnya adalah hari raya Idul Adha bagi mereka? Dan bukankah berpuasa pada hari raya adalah perbuatan yang haram? Lalu atas dasar apa pula mereka Shalat Idul Adha di luar waktunya dan malahan shalat Idul Adha pada tanggal 11 Dzulhijjah (hari pertama dari Hari Tasyriq)?

Sungguh, fenomena di Indonesia ini adalah sebuah bid’ah yang munkar (bid’ah munkarah), yang tidak boleh didiamkan oleh seorang muslim yang masih punya rasa takut kepada Allah dan azab-Nya!

Sebahagian orang membolehkan perbedaan Idul Adha dengan berlandaskan hadits:

“Berpuasalah kalian karena telah meru’yat hilal (mengamati adanya bulan sabit), dan berbukalah kalian (beridul Fitri) karena telah meru’yat hilal. Dan jika terhalang pandangan kalian, maka perkirakanlah !”

Beristidlal (menggunakan dalil) dengan hadits ini untuk membolehkan perbedaan hari raya (termasuk Idul Adha) di antara negeri-negeri Islam dan untuk membolehkan pengalaman ilmu hisab, adalah istidlal yang keliru. Kekeliruannya dapat ditinjau dari beberapa segi :

Pertama, Hadits tersebut tidak menyinggung Idul Adha dan tidak menyebut-nyebut perihal Idul Adha, baik langsung maupun tidak langsung. Hadits itu hanya menyinggung Idul Fitri, bukan Idul Adha. Maka dari itu, tidaklah tepat beristidlal dengan hadits tersebut untuk membolehkan perbedaan Idul Adha berdasarkan perbedaan manzilah (orbit/tempat peredaran) bulan dan perbedaan mathla’ (tempat/waktu terbit) hilal, di antara negeri-negeri Islam. Selain itu, mathla’ hilal itu sendiri faktanya tidaklah berbeda-beda. Sebab, bulan lahir di langit pada satu titik waktu yang sama. Dan waktu kelahiran bulan ini berlaku untuk bumi seluruhnya. Yang berbeda-beda sebenarnya hanyalah waktu pengamatan, ini pun hanya terjadi pada jangka waktu yang masih terhitung pada hari yang sama, yang lamanya tidak lebih dari 12 jam.

Kedua, hadits tersebut telah menetapkan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri berdasarkanru’yatul hilal, bukan berdasarkan ilmu hisab. Pada hadits tersebut tak terdapat sedikit pun“dalalah” (pemahaman) yang membolehkan pengalaman ilmu hisab untuk menetapkan awal bulan Ramadlan dan hari raya Idul Fitri. Sedangkan hadits Nabi yang berbunyi: “(……jika pandangan kalian terhalang), maka perkirakanlah hilal itu!” maksudnya bukanlah perkiraan berdasarkan ilmu hisab, melainkan dengan menyempurnakan bilangan Sya’ban dan Ramadhan sejumlah 30 hari, bila kesulitan melakukan ru’yat.

Ketiga, Andaikata kita terima bahwa hadits tersebut juga berlaku untuk Idul Adha dengan jalan Qiyas –padahal Qiyas tidak boleh ada dalam perkara ibadah, karena ibadah bersifat tauqifiyah– maka hadits tersebut justru akan bertentangan dengan hadits Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, yang bersifat khusus untuk Idul Adha dan manasik haji. Dalam hadits tersebut, Nabi SAW telah memberikan kewenangan kepada Amir (Wali) Makkah untuk menetapkan ru’yat bagi bulan Dzulhijjah dan untuk menetapkan waktu manasik haji berdasarkan ru’yat penduduk Makkah (bukan ru’yat kaum Muslim yang lain di berbagai negeri Islam).

Berdasarkan uraian ini, maka Indonesia tidak boleh berbeda sendiri dari negeri-negeri Islam lainnya dalam hal penentuan hari-hari raya Islam. Indonesia tidak boleh menentang ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum Muslim di seantero pelosok dunia, karena seluruh negara menganggap bahwa tanggal 10 Dzulhijjah di tetapkan berdasarkan ru’yat penduduk Hijaz. Sungguh, tak ada yang menyalahi ijma’ kaum Muslim itu, selain Indonesia !

Lagi pula, atas dasar apa hanya Indonesia sendiri yang menentang ijma’ tersebut dan berupaya memecah belah persatuan dan kesatuan kaum Muslim? Apakah Indonesia berambisi untuk menjadi negara pertama yang mempelopori suatu tradisi yang buruk (sunnah sayyi’ah) sehingga para umaro’ dan ulama di Indonesia akan turut memikul dosanya dan dosa dari orang-orang yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat nanti?

Kita percaya sepenuhnya, perbedaan hari raya di Dunia Islam saat ini sesungguhnya terpulang kepada perbedaan pemerintahan dan kekuasaan Dunia Islam, yang terpecah belah dan terkotak-kotak dalam 50-an lebih negara kebangsaan yang direkayasa oleh kaum kafir penjajah.

Kita percaya pula sepenuhnya, bahwa kekompakan, persatuan, dan kesatuan Dunia Islam tak akan tewujud, kecuali di bahwa naungan Khilafah Islamiyah Rasyidah. Khilafah ini yang akan mempersatukan kaum Muslim di seluruh dunia, serta akan memimpin kaum Muslim untuk menjalani kehidupan bernegara dan bermasyarakat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Insya Allah cita-cita ini dapat terwujud tidak lama lagi !

Ya Allah, kami sudah menyampaikan, saksikanlah !

(www.konsultasi.wordpress.com)

(Jawaban diamdil dari tulisan K.H. Muhammad Shiddiq al Jawi)

Tulisan terkait :

1.  Metode Penentuan Idul Adha

View the original article here

Seputar ash-Shaghâir dan al-Kabâir

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Syaikhuna al-jalil, saya punya pertanyaan seputar ungkapan di buku ash-Syakhshiyyah juz I halaman 46, “Dan masuk neraka orang yang dikehendaki Allah dari kaum Muslimin yang lebih berat dosa-dosa besar mereka (kabâiruhum) dan keburukan-keburukan mereka (sayyiâtuhum) atas dosa-dosa kecil mereka (shaghâiruhum) dan kebaikan-kebaikan mereka (hasanâtuhum).” Apa maksud dosa-dosa kecil (ash-shaghâir)? Dan kenapa diletakkan bersama kebaikan-kebaikan (hasanât) jika makna shaghâir adalah dosa-dosa? Perlu diketahui bahwa saya bukan anggota Hizb dikarenakan tidak adanya aktivitas Hizb di daerah kami.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

Ash-shaghâir adalah dosa-dosa yang dijatuhi hukuman ringan. Sedangkan al-kabâir adalah dosa-dosa yang dijatuhi hukuman keras… Misal:

Kebohongan atau kedustaan (al-kadzbu) adalah haram… Akan tetapi seandainya Anda berkata kepada anak Anda, “Ke sinilah aku beri sesuatu yang ada di tanganku”. Dan ketika anak itu datang tetapi tidak ada sesuatu di tangan Anda untuk diberikan kepadanya. Maka Anda dengan begitu telah berbohong. Ini adalah kemaksiatan, akan tetapi pengaruhnya ringan. Jadi itu termasuk ash-shaghâir. Imam Ahmad telah mengeluarkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda:

«???? ????? ?????????: ??????? ?????? ????? ???? ???????? ?????? ????????»

“Siapa saja yang berkata kepada anak-anak: “Ke sinilah ini untukmu” kemudian ia tidak memberinya, maka itu merupakan kebohongan –kadzbatun-“

Akan tetapi seandainya komandan pasukan mengirim Anda untuk menelisik musuh di balik gunung, lalu Anda datang mengatakan kepadanya bahwa di balik gunung tidak ada musuh sedangkan musuh itu benar-benar ada di balik gunung, maka Anda telah berbohong dan itu merupakan kemaksiatan, akan tetapi pengaruhnya besar dan dosanya besar serta hukumannya besar. Jadi itu dihitung bagian dari al-kabâir… Begitulah.

Adapun kenapa diletakkan dosa-dosa kecil bersama kebaikan (hasanât), maka itu diletakkan bersama kebaikan (hasanât) dengan makna bahwa ash-shaghâir dan al-hasanât itu berada dalam timbangan yang sama. Akan tetapi, ini adalah uslub dalam bahasa arab dan itu adalah uslub al-muqâbalah. Jadi Anda menyebutkan dua jenis dan Anda ikuti dengan dua jenis di mana jenis ketiga berlawanan dengan jenis pertama dan jenis keempat berlawanan dengan jenis kedua. Misalnya firman Allah SWT:

????????? ???? ?????????? ??????? ????? ???? ??? ??????? ????????

“dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (TQS Saba’ [34]: 24)

Dan begitulah: “wa innâ” berlawanan dengan “la’ala hudan”, dan “iyyâkum” berlawanan dengan “fî dhalâlin mubîn”. Dan tidak berarti bahwa “wa innâ wa iyyâkum” serupa dan dalam satu timbangan, dan “hudan aw fî dhalâlin mubînin” adalah serupa dan berada dalam satu timbangan. Akan tetapi seperti yang kami katakan, yang pertama berlawanan dengan yang ketiga dan yang kedua berlawanan dengan yang keempat… Begitulah, maknanya dengan uslub al-muqâbalahuntuk kalimat “lebih berat dosa-dosa besar mereka (kabâiruhum) dan keburukan mereka (sayyiâtuhum) atas dosa-dosa kecil mereka (shaghairuhum) dan atas kebaikan mereka (hasanâtuhum)…” maknanya adalah “lebih berat dosa-dosa besar mereka (kabâiruhum) atas dosa-dosa kecil mereka (shaghâiruhum)… dan lebih berat keburukan mereka (sayyiâtuhum) atas kebaikan mereka (hasanâtuhum). Dan dosa-dosa kecil mereka (shaghâiruhum) dan kebaikan mereka (hasanâtuhum) berada di satu timbangan dan serupa. Sebagai penegasan atas hal itu huruf jar “ ‘alâ “ diulang sebelumash-shaghâir dan sebelum al-hasanât untuk menjelaskan bahwa keduanya adalah dua jenis yang berbeda, dan tidak hanya dicukupkan dengan huruf jar al-‘athaf huruf “wâwu” sehingga dikatakan “ ‘alâ shaghâirihim wa hasanâtihim”. Akan tetapi, untuk menghilangkan kerancuan maka dikatakan “ ‘alâ shaghâirihim wa ‘alâ hasanâtihim”.

Adapun penutup pertanyaan Anda “perlu diketahui saya bukan anggota Hizb karena tidak ada aktivits Hizb di daerah kami”, maka jika Anda ingin mengemban kebaikan yang kami serukan, maka kami bisa membantu Anda jika Anda ingin…

Dan penutup, saya ucapkan salam kepada Anda dan saya doakan kebaikan untuk Anda.

Saudaramu

Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

7 Dzulqa’dah 1435 H

2 September 2014 M

http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_39311

Sumber :
Silsilah Jawaban sy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir Atas Pertanyaan Di Akun Facebook Beliau

Jawaban Pertanyaan Seputar: ash-Shaghâir dan al-Kabâir
Kepada Abu Abdullah Khalaf

This entry was posted on 11 September 2014 at 8:14 pm and is filed under Ushul Fikh. Dengan kaitkata: dosa besar. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, atau trackback from your own site.

View the original article here

Hukum MMM

Pertanyaan :

Saat ini sedang ramai adanya arisan berantai MMM. Ustadz, apa hukumnya MMM? (Ruslan GD, Jakarta)

Jawaban :

MMM singkatan Mavrodi Mondial Moneybook atau Manusia Membantu Manusia. Mavrodi berasal dari nama penggagasnya, Sergei Mavrodi, seorang residivis dari Rusia yang pernah dipenjara lantaran membuat sistem MMM di Rusia. MMM diklaim bukan aktivitas bisnis/investasi tapi komunitas sosial (social networking) semacam arisan yang para anggotanya saling memberikan bantuan secara sukarela kepada anggota yang lain. Anggota MMM diharuskan melakukan dua hal pokok, yaitu membantu (provide help) dan meminta bantuan (get help) (www.mmmindonesialegal.com).

Mekanismenya, setiap orang yang akan menjadi anggota MMM diminta mendaftar dengan cara membuat akun di website MMM dengan memilih paket dana sesuai keinginan, yakni minimal Rp 1 juta dan maksimal Rp 10 juta. Setelah mendaftar dalam waktu tiga-lima hari, anggota diminta membantu (provide help) anggota yang lain, yakni mentransfer uang sesuai pilihan paket. Transfer uang diklaim tidak melalui rekening admin (pengelola) tapi langsung antar rekening anggota. Anggota diwajibkan membantu (provide help) selama satu bulan, dan setelahnya dijanjikan mendapatkan reward (dengan melakukan get help) dari anggota lainnya sebesar 30 persen dari nilai total bantuannya. Misal, seorang anggota yang memilih paket bantuan Rp 10 juta, akan mendapat reward sebesar Rp 3 juta per bulan tanpa perlu usaha apapun. (www.tempo.co, http://www.tribunnews.com).

Hukum MMM adalah haram secara syar’I, berdasarkan dua alasan utama;

Pertama, penggunaan istilah “bantuan” atau “komunitas sosial” adalah suatu penipuan atau kebohongan, karena tidak sesuai dengan faktanya. Yang disebut “bantuan” adalah memberi harta (uang, dll) kepada pihak lain tanpa meminta kompensasi/reward. Misalnya, memberi bantuan uang kepada korban bencana alam, atau membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban kekejaman Yahudi di Gaza, dan sebagainya. Dalam pemberian bantuan ini, jelas pihak pemberi tidak mendapat reward atau kompensasi finansial apapun. Itulah makna “bantuan” yang sesungguhnya, yang dalam terminologi hukum Islam diistilahkan dengan “shadaqah” atau ”hibah”. Maka dari itu, klaim MMM sebagai komunitas sosial atau berprinsip saling “membantu” adalah kebohongan yang nyata. Sebab MMM jelas kegiatan bisnis atau investasi yang berorientasi keuntungan, bukan kegiatan sosial, karena anggotanya dijanjikan mendapat kompensasi berupa reward sebesar 30 persen.

Islam dengan tegas telah mengharamkan segala bentuk penipuan atau kebohongan. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW suatu saat melewati seonggok makanan yang dijual di pasar. Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya ke dalam onggokan makanan itu hingga jari beliau menyentuk makanan yang basah. Rasulullah SAW bertanya, “Apa ini wahai penjual makanan?” Penjual makanan menjawab, “Itu kena hujan wahai Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW berkata, “Mengapa tak kamu letakkan yang basah itu di atas supaya dapat dilihat orang-orang? Barangsiapa yang menipu maka ia bukan golongan kami.” (HR Muslim).

Kedua, apa yang disebut reward sebesar 30 persen sesungguhnya adalah riba yang sudah jelas keharamannya dalam Islam dan merupakan dosa besar (al kabaa’ir). Na’uzhu billahi min dzalik. Karena uang yang ditransfer oleh anggota MMM kepada anggota lainnya hakikatnya bukanlah “bantuan”, melainkan dihukumi sebagai “pinjaman” (qardh) kepada anggota lainnya, yang suatu saat akan dikembalikan ditambah dengan ribanya sebesar 30 persen.

Islam telah mengharamkan pemberian pinjaman yang menghasilkan adanya tambahan atau manfaat. Dalilnya hadis dari Anas ra, dia berkata, “Seorang lelaki dari kami bertanya dia pernah memberi pinjaman (qardh) kepada saudaranya, lalu saudaranya memberi hadiah kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda, Jika salah seorang kamu memberikan pinjaman lalu dia diberi hadiah, atau dinaikkan di atas kendaraan, jangablah dia menaiki kendaraan itu dan jangan pula menerima hadiah itu, kecuali itu sudah pernah terjadi sebelumnya antara dia (pemberi pinjaman) dan dia (peminjam)”. (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (www.konsultasi.wordpress.com)

Sumber : Tabloid Media Umat edisi 135/19 September 2014

This entry was posted on 19 September 2014 at 2:04 pm and is filed under Ekonomi. Dengan kaitkata: hukum MMM. mavrodi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, atau trackback from your own site.

View the original article here

Hukum Menyegerakan Zakat Perdagangan

Tanya :

Ustadz, bolehkah menyegerakan membayar zakat perdagangan, yaitu dibayar sebelum berlalunya haul (satu tahun)?

Jawab :

Masalah menyegerakan zakat disebut oleh para fuqaha dengan istilah ta’jiil az zakaat, yaitu mengeluarkan zakat sebelum waktu wajibnya, yaitu sebelum berlalunya haul (satu tahun qamariyah) sejak tanggal ketika harta mencapai nishabnya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/225& 23/294; Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 815; Rawwas Qal’ah Jie,Mu’jam Lughah Al Fuqaha`, hlm. 102).

Gambaran faktanya, misalkan seseorang hartanya mulai mencapai nishab sejak 1 Ramadhan 1435 H. Kemudian dia mengeluarkan zakatnya sebelum waktu wajibnya, yaitu sebelum tanggal 1 Ramadhan 1436 H atau sebelum berlalunya satu tahun qamariyah sejak 1 Ramadhan 1435 H. Misalnya dia membayar zakat pada bulan Zulqa’dah 1435 H. Di sinilah mungkin ada yang bertanya, apakah pembayaran zakat sebelum waktu wajibnya seperti ini dibolehkan, ataukah disyaratkan harus berlalu satu tahun qamariyah terlebih lebih dahulu?

Sebelumnya perlu diketahui bahwa zakat perdagangan wajib dikeluarkan jika terdapat dua kriteria, yaitu nilai barang dagangannya sudah mencapai nishab, dan sudah berlalu satu tahun (haul). Dua kriteria tersebut disebut misalnya oleh Imam Al Baghawi dengan perkataannya, ”Umumnya para ulama berpendapat bahwa wajib hukumnya mengeluarkan zakat barang dagangan pada nilainya (qiimah), jika nilai barang dagangan mencapai nishab dan berlalu haul dengan sempurna, dan dikeluarkan zakatnya seperempat puluh (2,5 persen) dari nilainya.” (Imam Al Baghawi, Syarah Al Sunnah, 5/350).

Hanya saja perlu diketahui bahwa nishab dan haul tersebut mempunyai kedudukan yang berbeda. Nishab merupakansebab dikeluarkannya zakat, sedangkan haul adalah syarat yang melekat pada sebab tersebut (nishab). Jadi haul itubukan syarat dikeluarkannya zakat, melainkan syarat untuk nishab (yang merupakan sebab zakat). (‘Atha Abu Rasytah,Jawab Su`al : Zakah ‘Uruudh Al Tijarah, tanggal 11 Syawal 1435/7 Agustus 2014).

Maka dari itulah, zakat perdagangan boleh hukumnya dikeluarkan sebelum waktu wajibnya (sebelum haul), tidak disyaratkan berlalu haul lebih dulu, asalkan nilai barang dagangannya sudah mencapai nishab dan tidak berkurang dari nishab. Inilah pendapat jumhur ulama, yaitu pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, juga pendapat Imam Abu Ubaid dan Imam Ishaq bin Rahawaih. Inilah yang lebih rajih (kuat) dalam masalah ini, berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang melarangnya, seperti Imam Sufyan Tsauri. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 23/243; Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 816).

Dalil bolehnya mengeluarkan zakat perdagangan sebelum waktu wajibnya (sebelum haul), adalah hadits-hadits Nabi SAW, di antaranya:

Pertama, hadits dari Ali bin Abi Thalib RA, dia berkata,”Al ‘Abbas pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai penyegeraan zakatnya sebelum haulnya. Maka Rasulullah SAW memberikan rukhsah (keringanan) dalam hal yang demikian itu.” (HR Tirmidzi no 673 dalam Sunan At Tirmidzi, dan Al Hakim no 5431 dalam Al Mustadrak ‘Ala Al Shahihain. Hadits ini dinilai sahih oleh Imam Al Hakim dan penilaian ini disepakati oleh Imam Dzahabi).

Kedua, hadits dari Ali bin Abi Thalib ra, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda kepada ‘Umar, ”Sesungguhnya kita telah mengambil zakat dari Al ‘Abbas pada tahun yang awal (lalu) untuk tahun ini. (‘aamal awwali li al ‘aami).” (HR Tirmidzi no 674 dan Al Daruquthni no 2033).

Berdasarkan hadits-hadits seperti inilah, Imam Syaukani berkata,”Boleh hukumnya menyegerakan membayar zakat sebelum berlalunya haul, walaupun untuk dua haul (dua tahun). Inilah pendapat Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah, juga pendapat Al Hadi dan Al Qasim.” (Imam Syaukani, Nailur Authar, hlm. 816).

Kesimpulannya, boleh hukumnya mengeluarkan zakat perdagangan sebelum waktu wajibnya (sebelum haul), tidak disyaratkan harus berlalu haul lebih dahulu, asalkan nilai barang dagangannya sudah mencapai nishab dan tidak berkurang dari nishab. Wallahu a’lam. (www.konsultasi.wordpress.com)

Sumber : Tabloid Media Umat edisi September 2014

Tulisan terkait :

1.  Zakat Barang Perdagangan.

2.  Nishab Zakat Barang Dagangan.

3.  Seputar Zakat Perdagangan.

4.  Nishab Zakat.

This entry was posted on 18 September 2014 at 11:01 pm and is filed under Ekonomi. Dengan kaitkata: zakat perdagangan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, atau trackback from your own site.

View the original article here

Nafais Tsamarat: Menyongsong Kematian

Abu Bakar berkata: Berkeinginan kuatlah untuk menyongsong kematian, maka hal itu akan memberikan kamu kehidupan (Ibn Khalikan, Wafiyat al-A’yan, III/67).

Maksudnya, ketika pikiran seseorang tertuju untuk menyongsong kebaikan dan hidup setelah kematian, maka dia akan menemukan makna dan tujuan hidupnya.[]

By anakislam Posted in 1

Israel Menenggelamkan Al-Quds Dengan 218 Sinagog

Dr. Hassan Khater, Sekretaris Jenderal Organisasi Islam-Kristen untuk menolong Al-Quds (Yerusalem) dan tempat-tempat suci, hari ini (11/4) membongkar keberadaan (218) sinagog di dalam kota Al-Quds, dan (70) di antaranya berada di dalam Kota Tua.

Khater dalam sebuah pernyataan pers menyebutkan bahwa otoritas pendudukan terus membangun rumah-rumah ibadat (sinagog) dan simbol-simbol keagamaan Yahudi di sebagian besar kota suci. Dan Kota Tua sebagai target utamanya. Ia menegaskan bahwa ada rencana baru yang telah terbongkar baru-baru ini untuk membangun sinagog besar di sekitar Masjid Al-Aqsha, dan hingga di sebelah timur Sinagog Hurva yang telah resmi dibuka pada akhir Maret.

Khater menilai bahwa apa yang dilakukan otoritas pendudukan dalam hal ini bukan untuk memenuhi kebutuhan yang wajar, melainkan untuk mengubah gambaran yang wajar bagi kota suci, dan mengubah karakter alami agama asli yang membedakannya sepanjang sejarah-yaitu karakter Arab Islam-Kristen yang mengakar-menjadi karakter asing yang dibuat melalui inspirasi pendudukan yang sebelumnya tidak pernah dikenal oleh kota dan warganya.

Sekretaris Jenderal Organisasi ini menjelaskan bahwa pendudukan melalui kelompok ekstremis keagamaannya bekerja sesuai dengan rencana yang serius, dan jangka panjang untuk menenggelamkan kota tua dan kota Al-Quds secara umum dengan sinagog dan simbol-simbol keagamaan yang dibuat-buat, dalam upaya signifikan dan serius, yang bertujuan untuk memperkuat identitas keagamaan bagi proyek pemukiman Yahudi, dan menyamarkan identitas proyek ini, yang pada kenyataanya proyek-proyek ini tidak lain adalah kolonialisme era modern, disamping cara menipu dan menyesatkan sebagian besar orang Yahudi di dunia yang masih di luar lingkaran petualangan jahat dan keji ini.

Khater memberikan tanggung jawab penuh kepada masyarakat internasional yang diwakili UNESCO, Organisasi Konferensi Islam (OKI), Vatikan, dan PBB atas apa yang sedang dihadapi Al-Quds, yaitu Yahudinisasi keagamaan yang serius, yang bertujuan mengubah identitas, kesucian, dan sejarahnya.

Khater juga meminta ulama dan pendeta Kristen yang peduli dengan kondisi saat ini dan masa depan Al-Quds untuk segera bertindak, dan mengadakan KTT internasional bagi para ulama untuk mengkaji apa yang dilakukan oleh otoritas pendudukan terhadap Al-Quds untuk menyusun mekanisme dan langkah-langkah efektif guna memberikan kontribusi dalam upaya menyelamatkan kota, dan tempat-tempat sucinya sebelum terlambat.

Khater mengatakan bahwa peran cendekiawan dan tokoh agama-Islam dan Kristen-dalam melakukan pembelaan terhadap Al-Quds sangat lemah dari pada peran para rabi dan kelompok keagamaan Yahudi dalam melakukan Yahudinisasi Al-Quds. Bahkan ia menegaskan bahwa peran cendekiawan dan tokoh agama dalam hal ini adalah sama pentingnya dengan peran para pemimpin dan politisi, terutama pertempuran di panggung Al-Quds dan tempat-tempat suci. (mediaumat.com, 11/4/2010)

By anakislam Posted in 1