<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>HAYATUL ISLAM &#187; Nafsiyyah Fikriyyah</title>
	<atom:link href="http://hayatulislam.wordpress.com/category/nafsiyyah-fikriyyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hayatulislam.wordpress.com</link>
	<description>Menuju Kehidupan Islam Kaffah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Sep 2008 04:14:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hayatulislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e7af747d3eb9bbbe9e0a6f2e53671335?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>HAYATUL ISLAM &#187; Nafsiyyah Fikriyyah</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hayatulislam.wordpress.com/osd.xml" title="HAYATUL ISLAM" />
		<item>
		<title>Akrab Dengan Al-Qur’an</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/akrab-dengan-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/akrab-dengan-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 05:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/akrab-dengan-al-qur%e2%80%99an/</guid>
		<description><![CDATA[ Muhammad al-Khaththath
Al-Qur’an yang mulia adalah firman Allah SWT. Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad Saw, melalui wahyu yang dibawa oleh Jibril, baik lafadz maupun maknanya; membacanya merupakan ibadah. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang sampai kepada kita secara mutawatir. Allah SWT berfirman:
Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya, diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=67&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> Muhammad al-Khaththath</p>
<p>Al-Qur’an yang mulia adalah firman Allah SWT. Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad Saw, melalui wahyu yang dibawa oleh Jibril, baik lafadz maupun maknanya; membacanya merupakan ibadah. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang sampai kepada kita secara mutawatir. <span id="more-67"></span>Allah SWT berfirman:</p>
<p><em>Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya, diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.</em> <strong>(Qs. Fushshilat [41]: 42).</strong></p>
<p>Al-Qur’an adalah kitab yang dijaga dengan penjagaan Allah sendiri. Allah berfirman:</p>
<p><em>Sesunguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an dan Kami pasti akan menjaganya.</em> <strong>(Qs. al-Hijr [15]: 9).</strong></p>
<p>Al-Qur’an adalah kitab yang akan mengidupkan jiwa dan menentramkan hati. Al-Qur’an mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka yang Maha Perkasa dan Terpuji. Barang siapa yang berkata dengan menggunakan al-Qur’an ia akan terpercaya; yang mengamalkannya akan bahagia; yang memutuskan hukum dengannya pasti akan adil; dan yang mendakwahkannya ia telah menunjukkan kepada jalan yang lurus.</p>
<p>Al-Qur’an adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim. Al-Qur’an akan menjadi penguat bagi para pengemban dakwah. Dengan al-Qur’an hati akan menjadi lapang. Para pengemban al-Qur’an akan menjadi kokoh bagaikan gunung yang berdiri kokoh; dunia pun akan menjadi hina baginya ketika berada di jalan Allah. Ia akan senantiasa mengatakan yang hak dan tidak takut celaan, di jalan Allah, dari orang-orang yang suka mencela. Dengan al-Qur’an ia akan mampu bergerak cepat. Pengemban al-Qur’an lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada gunung Uhud, karena ia senantiasa membaca al-Qur’an hingga lisannya menjadi basah, dan jari-jemarinya akan menjadi saksi.</p>
<p>Seperti itulah para sahabat Rasulullah Saw menjalani kehidupan dunia ini. Mereka seakan-akan al-Qur’an yang bergerak. Mereka senantiasa menelaah ayat-ayatnya, membacanya dengan baik, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya. Ayat-ayat tentang adzab menggetarkan jiwa mereka, sedangkan ayat-ayat tentang rahmat melapangkan dada mereka. Air mata mereka pun bercucuran karena tunduk akan kemukjizatan dan keagungannya. Mereka berserah diri terhadap segala hukum dan hikmahnya. Mereka telah menerima al-Qur’an langsung dari Rasulullah Saw sehingga ayat-ayatnya terpatri kuat dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Karena itulah mereka menjadi manusia-manusia mulia dan menjadi para pemimpin; menjadi orang-orang yang berbahagia dan gembira. Ketika ditinggalkan Rasulullah Saw mereka tetap konsisten memperhatikan al-Qur’an, sebagaimana wasiat Rasulullah Saw. Maka para penghafal di kalangan sahabat senantiasa ada di barisan pertama ketika melaksanakan amar bil ma’ruf nahyi anil munkar. Para pengemban al-Qur’an senantisa menjadi barisan terdepan dalam segala kebaikan dan dalam menghadapi segala macam rintangan di jalan Allah SWT.</p>
<p>Sudah selayaknya al-Qur’an menjadi penyiram hati bagi kaum Muslim umumnya, dan bagi para pengemban dakwah khususnya. Al-Qur’an selayaknya juga menjadi pengiring setiap langkah mereka. Mereka seharusnya dipimpin oleh al-Qur’an menuju setiap kebaikan. Al-Qur’an pun akan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memperhatikan al-Qur’an siang maupun malam; senantiasa membacanya, menghafalnya serta mengamalkannya. Sehingga mereka akan menjadi sebaik-baik pengikut dari generasi salaf (terdahulu) maupun generasi khalaf (belakangan).</p>
<p>Marilah kita perhatikan ayat-ayat al-Qur’an beserta hadits nabi yang menceritakan tentang turunnya al-Qur’an, tentang jaminan terpeliharanya, tentang petunjuknya, dan tentang keutamaan membacanya, serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya:</p>
<p><em>Sesunguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an dan Kami pasti akan menjaganya.</em> <strong>(Qs. al-Hijr [15]: 9).</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.</em><strong> (Qs. al-Isra’ [17]: 9).</strong></p>
<p><em>(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. </em><strong>(Qs. Ibrahim [14]: 1).</strong></p>
<p><em>Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.</em><strong> (Qs. an-Nisaa’ [4]: 82).</strong></p>
<p>Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p><em>Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.</em> <strong>[HR. Bukhari dari Utsman bin Affan r.a].</strong></p>
<p><em>Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa “alif lam mim” adalah satu huruf. Akan tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim juga satu huruf.</em> <strong>[HR. at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud, dan ini hadits shahih].</strong></p>
<p><em>Orang yang mahir dengan al-Qur’an akan bersam-sama dengan para malaikat yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca al-Qur’an tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala.</em><strong> [HR. Muslim dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin. r.a].</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada al-Qur’an sedikitpun bagaikan rumah yang akan roboh.</em> <strong>[HR. at-Tirmudzi, Ia menshahihkannya. Dan ini adalah hadits shahih].</strong></p>
<p><em>Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan datang pada hari Kiamat kelak memberi syafa’at (pembelaan) bagi ahlinya.</em><strong> [HR. Muslim dalam kitab shahihnya. Dari Abu Umamah al-Bahili ra.)</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah akan mengangkat (menuju kemuliaan, penj.) dengan al-Qur’an ini kepada suatu kaum dan dengannya pula Allah akan menjatuhkan (menuju kehinaan, penj.) kepada kaum yang lain. </em><strong>[HR. Muslim].</strong></p>
<p>Abu Dawud dan at-Tirmidzi telah mentakhrij hadits yang sahih bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p><em>Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Quran (orang yang senantiasa bersama-sama dengan al-Qur’an, penj.) bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engakau telah membaca al-Qur’an dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.</em></p>
<p><em>Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur’an adalah seperti buah Utruja, rasanya enak baunya harum. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah Tamrah (kurma), rasanya enak tapi tidak wangi. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an adalah seperti buah Raihanah, rasanya pahit tapi baunya harum. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah Handzalah, rasanya pahit dan tidak wangi.</em><strong> [HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary r.a.].</strong></p>
<p><em>Perhatikanlah al-Qur’an! Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya al-Qur’an lebih cepat kaburnya (dari ingatan) dari pada unta dalam tambatannya.</em> <strong>[HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary r.a.].</strong></p>
<p>Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits di atas mendorong pengemban Al-Qur’an untuk menelaahnya, mengamalkannya serta senantiasa memperhatikannya, di saat mereka tinggal di rumah atau ketika sedang di perjalanan. Dengan begitu Al-Qur’an akan menjadi sebuah kekuatan dalam menempuh seluruh jalan kebaikan. Mereka tidak akan menyimpannya di rak hingga dipenuhi debu. Mereka pun tidak akan menghiasinya kemudian menyimpan di lemari, lalu dikunci hingga melupakannya.</p>
<p>Karena itu marilah kita memperhatikan al-Qur’an wahai saudar-saudaraku. Mari kita bergegas untuk membacanya dengan benar, menelaahnya dengan benar, mengamalkannya dengan benar, dan terikat padanya dengan benar; agar rasa kita menjadi enak dan bau kita menjadi harum mewangi. Dengan semua itu marilah kita menjadi barisan pertama dalam mengemban dakwah di dunia ini, mudah-mudahan kita menjadi barisan pertama kelak di surga dan hari Akhir, ketika dikatakan nanti, “bacalah dan naiklah terus.!”. Dengan demikian semoga kita termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Yang Agung, dan meraih kebahagian yang tiada taranya, serta berhak mendapatkan ridha Allah SWT. Allah berfirman:</p>
<p><em>Bergembiralah wahai orang-orang yang beriman.</em> <strong>(Qs. al-Ahzab [33]: 47).</strong></p>
<p>Ya, jadilah kita orang yang akrab dengan al-Qur’an, insyaAllah sukses dunia akhirat! Amien!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=67&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/akrab-dengan-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Pemikiran Islam</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/karakteristik-pemikiran-islam/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/karakteristik-pemikiran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 05:10:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/karakteristik-pemikiran-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad al-Khaththath
Pemikiran Islam adalah pemikiran yang khas, lain daripada yang lain. Ini wajar, sebab pemikiran Islam berasal dari wahyu atau bersandarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa agama-agama non samawi, ideologi-ideologi politik dan ekonomi, maupun teori-teori sosial sekedar muncul dari kejeniusan berfikir manusia yang melahirkannya.
Namun perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=66&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Muhammad al-Khaththath</p>
<p>Pemikiran Islam adalah pemikiran yang khas, lain daripada yang lain. Ini wajar, sebab pemikiran Islam berasal dari wahyu atau bersandarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa agama-agama non samawi, ideologi-ideologi politik dan ekonomi, maupun teori-teori sosial sekedar muncul dari kejeniusan berfikir manusia yang melahirkannya.<span id="more-66"></span></p>
<p>Namun perlu disadari, bahwa sekalipun pemikiran Islam berasal dari wahyu yang turun dari langit, pemikiran islam adalah diturunkan ke bumi untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (Qs. az-Zumar [39]: 41).</p>
<p>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Qs. al-Baqarah [2]: 185).</p>
<p>Oleh karena itu, agar bisa memahami keberadaan pemikiran islam sebagai petunjuk amal perbuatan manusia, maka perlu dipahami karakteristik pemikiran Islam.</p>
<p>Pemikiran Islam mempunyai beberapa ciri khas, antara lain: bersifat komprrehensif (syumuliyah), luas, praktis (amally), dan manusiawi.</p>
<p>Karakter pertama: Bersifat Komperehensif</p>
<p>Pemikiran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia, seperti politik, sosial kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan dan akhlak. Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Sedangkan aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam hukum-hukum tentang makanan, pakaian, dan akhlak. Selebihnya adalah aturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, seperti perkara muamalah ekonomi dan sosial, sanksi-sanksi hukum bagi para pelanggar hukum (uqubat), politik ketatanegaraan, pertahanan dan keamanan, politik luar negeri dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (yaitu al-Qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu.” (Qs. an-Nahl [16]: 89).</p>
<p>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan untuk kalian nikmat-Ku.’ (Qs. al-Mâ’idah [5]: 3).</p>
<p>Setelah memahami kedua ayat di atas seorang muslim tidak boleh menyatakan bahwa, ada sebagian perbuatan manusia yang tidak ada status hukumnya dalam Islam. Semua persoalan dari sejak Islam turun ke bumi 15 abad yang lalu hingga hari kiamat, semua masalah pasti tercakup dalam perkara yang dipecahkan oleh Islam. Kalau sekilas saja kita membaca buku-buku fiqih, kita akan mendapatkan bahwa masalah yang dipecahkan oleh syariah itu tidak hanya masalah ritual belaka, tapi seluruh masalah kehidupan.</p>
<p>Karakter kedua: Bersifat Luas</p>
<p>Keluasan pemikiran Islam memungkinkan Para Ulama untuk melakukan istinbath (menggali) hukum-hukum syari’iy dari nash-nash syariat-syariat tentang perkara baru apapun jenisnya, baik perbuatan ataupun benda. Dalil-dalil syariat hadir dalam bentuk gaya bahasa yang mampu mencakup perkara apa saja hingga hari kiamat. Apabila ditanyakan kepada seorang muslim hingga saat ini, apa dalil syariat tentang kebolehan mengendarai roket, pesawat atau kapal selam, kemudian ia meneliti dalil-dalil syariat untuk mengetahui hukumnya, niscaya dia akan menemukannya dalam firman Allah:</p>
<p>“Dia menundukan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semua.” (Qs. al-Jâtsiyah [45]:13).</p>
<p>“Suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami mengangkut keturunan mereka dalam ahtera yang penuh muatan dan kami menciptakan bagi mereka kendaraan seperti bahtera itu.” (Qs. Yâsîn [36]: 41 &#8211; 42 ).</p>
<p>Jika ada yang menanyakan, apakah umat Islam boleh memiliki bom atom, maka dia akan menjumpai hukum syara tentang itu, dalam firman Allah:</p>
<p>“Siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (Qs. al-Anfâl [8]: 60).</p>
<p>Sebab, arah dari perintah Allah SWT dalam Qs. al-Anfâl [8]: 60 tersebut adalah untuk menakut-nakuti musuh (irhabul aduww). Kalau di masa lalu, adanya pasukan berkuda (al khail) adalah efektif untuk menakut-nakuti musuh, karena pasukan kavaleri yang ada pada waktu itu adalah pasukan berkuda. Di masa sekarang, pasukan kavaleri bisa berkendaraan panser atau yang lain. Dan untuk menakut-nakuti musuh di masa sekarang, bisa dilakukan dengan parade kapal induk, pesawat tempur supersonik yang dilengkapi dengan rudal berkepala nuklir, dan persenjataan canggih lainnya.</p>
<p>Karakter ketiga: Bersifat Praktis (‘Amaliy)</p>
<p>Hukum-hukum Islam hadir untuk diterapkan dan dilaksanakan ditengah-tengah kehidupan. Manusia tidak akan dibebani melebihi yang dia sanggupi. Allah berfirman:</p>
<p>“Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 286).</p>
<p>Pada sebagian besar ayat-ayat al-Quran, Allah swt telah mengaitkan amal dengan iman seperti firman Allah:</p>
<p>“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.” (Qs. al-Ashr [103]: 1 – 3).</p>
<p>“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang mengerjakan amal shaleh, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi.” (Qs. an-Nûr [24]: 55).</p>
<p>Pemikiran Islam telah diterapkan di tengah-tengah manusia selama 13 abad, dalam naungan negara besar di dunia, Daulah Khilafah Islamiyah. Pemikiran-pemikiran islam yang dituangkan dalam hukum syariah yang sudah pernah diterapkan adalah: hukum syariah tentang pemerintahan (nizhamul hukm fil Islam), hukum syariah tentang ekonomi (nizhamul iqtishadi fil Islam), hukum syariah tentang hubungan sosial atau aturan pergaulan pria wanita (an nizhamul ijtima’i fil Islam), hukum-hukum syariah tentang kebijakan pendidikan (siyasah at ta’lim fil Islam), hukum-hukum syariah tentang politik luar negeri negara islam (siyasah kharijiyah lid daulah al Islamiyah).</p>
<p>Fakta-fakta sejarah tentang penerapan kelima aspek di atas tak bisa dibantah. Alkisah di dalam diskusi di Harvard University ada seorang cendekiawan Indonesia pernah mengatakan bahwa negara Khilafah itu sesungguhnya tidak ada. Maka seorang cendekiawan muslim dari Turki yang menjadi dosen di universitas bergengsi di AS itu bertanya: Lalu negara apa yang diumumkan pembubarannya oleh Kamal At Taturk pada tahun 1924 yang lalu itu?</p>
<p>Karakter Keempat: Bersifat Manusiawi</p>
<p>Islam menyeru kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia, tanpa melihat lagi ras atau warna kulitnya. Firman Allah swt:</p>
<p>“Hai manusia beribadahlah kepada Tuhan kalian….” (Qs. al-Baqarah [2]: 21).</p>
<p>“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah untuk kalian semua’.” (Qs. al-A’râf [7]: 158).</p>
<p>“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya kami telah menjadikan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan dan kami telah menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal-mengenal’.” (Qs. al-Hujurât [49]: 13).</p>
<p>Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Aku diutus untuk orang-orang yang berkulit merah maupun berkulit hitam.”</p>
<p>Orang-orang selain orang Arab pun telah beriman pada agama ini, seperti Persia, Romawi, Asia Tengah, India, Indonesia dan sebagainya. Demikianlah, Islam telah mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya hidayah, dari keterpurukan menuju kebangkitan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/66/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/66/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=66&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/karakteristik-pemikiran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keistimewaan Dan Keunggulan Pemikiran Islam</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/keistimewaan-dan-keunggulan-pemikiran-islam/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/keistimewaan-dan-keunggulan-pemikiran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 04:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/keistimewaan-dan-keunggulan-pemikiran-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Al-Khaththath
Islam adalah wahyu yang turun dari langit untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Oleh karena itu, ia turun sebagai suatu pemikiran-pemikiran yang mengandung pandangan-pandangan dan solusi-solusi tentang berbagai persoalan kehidupan yang tercantum di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.
Dan sebagai pemikiran langit, Islam dijamin keunggulannya oleh oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=55&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Muhammad Al-Khaththath<br />
Islam adalah wahyu yang turun dari langit untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Oleh karena itu, ia turun sebagai suatu pemikiran-pemikiran yang mengandung pandangan-pandangan dan solusi-solusi tentang berbagai persoalan kehidupan yang tercantum di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.<span id="more-55"></span></p>
<p>Dan sebagai pemikiran langit, Islam dijamin keunggulannya oleh oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi Maha Tinggi. Dia SWT berfirman:</p>
<p><em>“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan agama itu atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”</em><strong> (Qs. at-Taubah [9]: 33).</strong></p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p><em>“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar Dia menangkan agama itu terhadap semua agama. Dan cukuplah allah sebagai saksi.”</em> <strong>(Qs. al-Fath [48]: 28).</strong></p>
<p>Dimana letak keunggulan-keunggulan Islam, tulisan ini mencoba menguraikannya.</p>
<p><strong>Keunggulan Islam Atas Agama-Agama Lain</strong></p>
<p>Keistimewaan dan keunggulan pemikiran Islam dibandingkan dengan agama-agama samawi sebelumnya adalah:</p>
<p>Pertama, agama-agama sebelumnya ditujukan kepada kelompok manusia tertentu dan jaman tertentu. Sedangkan Islam ditujukan kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat .</p>
<p>Para Rasul terdahulu (sebelum Rasulullah Saw) diutus khusus untuk kaum mereka. Allah SWT mengutus Nabi Hud a.s. kepada kaum ‘Aad (lihat Qs. al-A’râf [7]: 65). Kepada kaum Tsamud Allah SWT mengutus Nabi Shalih a.s. (lihat Qs. al-A’râf [7]: 73). Nabi Syu’aib a.s. diutus kepada kaumnya, penduduk Madyan (lihat Qs. al-A’râf [7]: 85). Dan khusus kepada kaum Yahudi Bani Israil Allah SWT mengutus Nabi-nabi di kalangan mereka seperti Yusuf a.s., Musa a.s., Dawud a.s., Sulaiman a.s., Isa a.s. dan lain-lain.</p>
<p>Namun setelah itu para pengikutnya mengabaikan risalah rasul-Nya itu, dan mengubah pemikiran-pemikiran dari risalah yang mereka terima itu setelah Rasul mereka wafat. Allah SWT mengabadikan salah satu tindakan mereka mengubah pemikiran risalah Allah yang dibawa Nabi mereka itu. Dia SWT berfirman:</p>
<p>“(Tetapi) karena mereka melanggar janji mereka, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihart kekhianatan mereka kecuali sedikit dari mereka (yang tidak berkhianat)…” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 13) .</p>
<p>Sedangkan Nabi Muhammad Saw diutus kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Beliau adalah penutup para nabi. Allah SWT berfirman:</p>
<p><em>“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…”</em><strong> (Qs. al-A’râf [7]: 158).</strong></p>
<p><em>“Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”</em> <strong>(Qs. Saba [34]: 28).</strong></p>
<p>Juga fiman-Nya:</p>
<p><em>“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”</em> <strong>(Qs. al-Ahzab [33]: 40).</strong></p>
<p>Kedua, risalah-risalah Rasul terdahulu hanya memecahkan beberapa bagian tertentu dari persoalan kehidupan manusia seperti akidah, ibadah, hubungan laki-laki dan wanita atau persoalan makanan. Sedangkan syariat Islam hadir untuk memecahkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhan nya, hubungan dia dengan dirinya sendiri, dan interaksinya dengan orang lain.</p>
<p>Syariah Islam mengandung hukum-hukum Islam terhadap masalah-masalah aqidah dan ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT al Khalik, Sang Pencipta, agar jelas keyakinan manusia kepada-Nya dan agar benar tatacara beribadah kepada-Nya. Syariah Islam juga mengandung hukum-hukum Allah SWT tentang akhlak, pakaian, dan makanan yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Juga syariah Islam mengandung hukum-hukum muamalah seperti jual beli, sewa menyewa, akad perusahaan, dan berbagai masalah ekonomi baik mikro maupun makro; hukum-hukum berkaitan dengan masalah politik ketatanegaraan serta pertahanan dan keamanan; hukum-hukum yang berkaitan dengan sanksi-sanksi atas pelanggaran hukum dan tata cara peradilan; yang kesemuanya itu mengatur hubungan manusia yang satu dengan manusia lainnya dalam pergaulan di masyarakat. Kelengkapan syariah Islam itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:</p>
<p><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu.”</em> <strong>(Qs. al-Mâ’idah [5]: 3).</strong></p>
<p>Ketiga, mukjizat para rasul terdahulu bersifat temporal, akan berhenti dan lenyap bersamaan dengan wafatnya rasul tersebut. Misalnya, mukjizat tongkat nabi Musa, tongkat itu hilang ditelan bumi. Tongkat yang memiliki berbagai keistimewaan itu tidak ditemukan lagi hari ini. Demikian juga mukjizat kemampuan menghidupkan orang mati yang dimiliki Nabi Isa, hilang bersama hilangnya Nabi tersebut dari muka bumi. Mukjizat Nabi Sulaiman berupa kemampuannya menundukan burung, jin dan angin, juga telah sirna tiada muncul kembali. Serta mukjizat unta betinanya Nabi Shalih yang menghasilkan susu yang melimpah ruah pun musnah tak bisa diperbaharui. Sedangkan mukjizat Nabi Muhammad saw bersifat kekal dan abadi sampai Hari Kiamat. Mukjizat itu al-Qur’an al-Karim yang menantang manusia untuk membuat yang serupa dengannya. Kitab al-Qur’an yang kita baca hari ini adalah al-Qur’an yang dibacakan dan disampaikan oleh Rasulullah Saw 15 abad yang lalu. Dan jutaan kitab al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru duani dan ada dari masa ke massa adalah duplikasi tanpa penambahan dan pengurangan dari al-Qur’an yang diterima oleh para sahabat dari beliau Saw di Makkah dan Madinah saat beliau Saw masih hidup dan mendapatkan wahyu dari langit. Inilah satu-satunya kitab yang dijanjikan oleh Allah untuk dipelihara (dijaga) seperti dalam firman-Nya:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pulalah yang akan menjaganya.”</em> <strong>(Qs. al-Hijr [15]: 9).</strong></p>
<p><strong>Keunggulan Islam Dari Pemikiran “Buatan” Manusia</strong></p>
<p>Tiga keistimewahan diatas berhubungan dengan agama lagit atau agama samawi. Bila dibandingkan dengan pemikiran-pemikira yang dibuat oleh manusia, seperti ide Sosialisme Materialisme, Sekularisme Kapitalisme, maupun ide-ide produk manusia lainnya, Islam jelas berbeda dengan pemikiran-pemikiran tersebut. Sebab, Islam berasal dari Sang Pencipta semesta alam. Dialah Sang Pencipta yang maha mengetahui dan memahami karekteristik manusia. Sedangkan manusia penuh dengan keterbatasan, termasuk dalam memahami dirinya sendiri sekalipun.</p>
<p>Oleh karena itu, tak seorang yang mampu membuat sistem yang bersifat menyeluruh, sempurna dan rinci untuk mengatur kehidupan manusia layaknya aturan yang diturunkan oleh Sang Pencipta Manusia dan Alam Semesta kepada manusia. Karena kekurangan manusia yang punya sifat-sifat yang kjauh dari kesempurnaan, tidak jarang manusia saling berbeda pandangan dan memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai dan memahami sesuatu.</p>
<p>Demikianlah, apa yang dianggap baik sebagian manusia kadang-kadang dianggap buruk oleh yang lain. Disisi lain tidak mungkin secara bersamaan mereka rela dengan aturan yang dibuat orang lain. Bahkan golongan yang tidak ridha tadi bila berhasil memegang tampuk pemerintahan, niscaya mereka akan mengganti sistem yang tadinya dibuat oleh orang yang sebelumnya- sesuai dengan apa yang mereka sepakati dan inginkan.</p>
<p>Sebab lain yang menjadikan aturan buatan manusia tidak sempurna dan tidak layak untuk mengatur manusia secara keseluruhan, adalah tidak adanya pemahaman dari manusia pembuat aturan itu tentang perbedaan karakter masing-masing individu yang hidup dalam masyarakat. Mereka juga tidak memahami perkara-perkara apa saja yang akan muncul dan berkembang di masa yang akan datang. Boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini baik, besok sudah berubah dianggap buruk. Boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini buruk, suatu ketika nanti mereka menganggapnya baik. Bahkan boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini buruk, sebenarnya hakikatnya baik, tapi manusia tidak mengetahui hakikat itu. Demikian pula sebaliknya. Allah SWT menjelaskan keterbatasan anggapan manusia itu dalam firman-Nya:</p>
<p>“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah [2]: 216).</p>
<p>Sebagai contoh misalnya arus besar (mainstream) manusia hari ini adalah mendewa-dewakan sistem demokrasi sebagai sistem kehidupan dan sistem kenegaraan yang terbaik di seluruh dunia. Mereka mengadopsi suara terbanyak sebagai cara yang terbaik dalam memutuskan berbagai persoalan. Bahkan mereka menganggap suara rakyat adalah suara Tuhan. Padahal Allah SWT, Tuhan yang sebenarnya, yang telah menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan, berfirman:</p>
<p>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Qs. al-An’âm [6]: 116).</p>
<p>Jika persoalan yang membutuhkan ilmu dan kepakaran diputuskan dengan suara terbanyak, maka suara seorang pakar yang tahu betul masalah tersebut akan dikalahkan oleh suara dua orang bodoh dan tidak punya keahlian sama sekali dalam masalah itu yang diberi hak suara untuk mengambil keputusan. Padahal, jika suatu masalah diserahkan kepada orang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.</p>
<p><strong>Khatimah</strong></p>
<p>Allah Maha mengetahui apa yang terjadi. Islam yang merupakan syariah Allah telah mengatur secara keseluruhan aktifitas manusia maupun benda yang digunakan sebagai pemuas kebutuhan manusia, baik kebutuhan naluri maupun jasmani. Allah telah memaparkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan pemaparan yang komprehensif, untuk menjelaskan status hukum bagi setiap perkara yang akan terjadi, baik yang menyangkut perbuatan manusia maupun benda yang digunakan oleh manusia.</p>
<p>Oleh karena itu, kaum muslim yang meyakini kebenaran Allah dan rasul-Nya tak perlu lagi ragu untuk mengambil pemikiran Islam sebagai pemikiran dan pemahamannya yang akan berguna baginya untuk memandu pandangan, sikap, dan perilakunya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Karena Islam adalah pemikiran yang tertinggi dan tidak ada yang melebihnya. Wallahua’lam!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=55&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/keistimewaan-dan-keunggulan-pemikiran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengadopsi Pemikiran Islam</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/mengadopsi-pemikiran-islam/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/mengadopsi-pemikiran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 04:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/mengadopsi-pemikiran-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad al-Khaththath
Sebuah pemikiran tidak jarang dinisbahkan kepada bangsa yang menyebarkan dan mengadopsinya sehingga dinyatakan, misalnya, pemikiran Eropa atau pemikiran Rusia; kadang-kadang juga dinisbatkan kepada peletak dasar pemikiran itu sehingga sering dinyatakan pemikiran Marxis, pemikiran Plato, atau pemikiran Hegel.
Suatu pemikiran juga acapkali disandarkan pada kaidah dasar (al-qaidah al-asasiyyah) yang menjadi landasan pemikiran tersebut sehingga dinyatakan, misalnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=54&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Muhammad al-Khaththath</p>
<p>Sebuah pemikiran tidak jarang dinisbahkan kepada bangsa yang menyebarkan dan mengadopsinya sehingga dinyatakan, misalnya, pemikiran Eropa atau pemikiran Rusia; kadang-kadang juga dinisbatkan kepada peletak dasar pemikiran itu sehingga sering dinyatakan pemikiran Marxis, pemikiran Plato, atau pemikiran Hegel.<span id="more-54"></span></p>
<p>Suatu pemikiran juga acapkali disandarkan pada kaidah dasar (al-qaidah al-asasiyyah) yang menjadi landasan pemikiran tersebut sehingga dinyatakan, misalnya pemikiran Islam. Disebut demikian karena kaidah dasar yang membangun pemikiran tersebut adalah kaidah Islam. Kaidah Islam bukan berasal dari orang Arab atau manusia lainnya. Kaidah Islam berasal dari Allah SWT. Dialah yang telah memberi nama bagi ideologi (mabda’) dan agama ini dengan nama Islam. Allah SWT berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.</em> <strong>(Qs. Ali-Imran [3]: 19).</strong></p>
<p>Pemikiran Islam baik yang dinukil dari orang Arab atau dari selain orang Arab, tetap dipandang sebagai pemikiran Islam. Oleh karena itu tidak ada perbedaan antara pemikiran yang dinukil dari Imam Syafi’i yang berkebangsaan Arab, Imam al-Bukhari yang berkebangsaan Uzbekistan, Muhammad Asad an-Namsawi dari Austria atau Abul A’la al-Mawdudi dari India, atau pemikiran Syaikh Nawawi Al-jawi dari Banten, pun pemikiran Hamka atau Muhammad Natsir dari Indonesia. Semuanya adalah pemikiran Islam, meskipun terdapat keragaman ras atau bahasa pada individu-individu yang melakukan ijtihad atau yang menukilnya.</p>
<p>Akan tetapi, pemikiran orang Arab sebelum datangnya Islam, bukannya pemikiran Islam. Baik pemikiran itu diungkap di zaman jahiliyah pra Islam dulu, maupun di zaman jahiliyah modern sekarang. Misalnya saja, pemikiran nasionalisme Arab yang dikembangkan oleh George Habbas yang kemudian melahirkan pemberontakan bangsa Arab kepada Khilafah Utsmaniyah, merupakan pemikiran yang tidak Islami.</p>
<p>Oleh karena itu, pemikiran Islam merupakan penyebutan sebuah pemikiran dengan sebuah sebutan yang sempurna, tanpa adanya penambahan ataupun pengurangan. Dengan demikian, semua pemikiran yang bersumber dari Islam, bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah, disebut dengan pemikiran Islam. Siapa pun yang mengemukakannya.</p>
<p>Definisi Pemikiran Islam</p>
<p>Sebuah definisi yang benar harus memenuhi dua hal: menyeluruh (jami’an) sekaligus mencegah (mani’an). Yang dimaksud dengan menyeluruh (jami’an) yaitu mencakup seluruh bagian-bagian sifat-sifat dari sesuatu yang didefinisikan. Yang dimaksud dengan mencegah (mani’an) yaitu mencegah masuknya makna asing kedalam sesuatu yang didefinisikan. Berdasarkan alasan di atas, Dr. Muhammad Husain Abdullah dalam kitab Dirasât fil fikri al Islami mendefinisikan pemikiran Islam sebagai berikut:</p>
<p>Pemikiran Islam adalah upaya menilai fakta dari sudut pandang Islam. Dengan demikian, pemikiran Islam mengandung tiga hal, yakni: (1).Fakta (al-waqi’); (2). Hukum (justifikasi); (3). Keterkaitan fakta dengan hukum.</p>
<p>Fakta dapat berupa benda maupun perbuatan. Fakta berupa benda hanya memiliki dua macam hukum, yakni mubah (halal) dan haram. Buah anggur, misalnya hukum mubah, sedangkan khamer (perasan buah anggur yang telah diperlakukan dengan diproses fermentasi, sehingga menjadi minuman keras, beralkohol) hukumnya haram. Dalam konteks benda ini, ada sebuah kaidah syari’at yang diambil dari nash-nash al-Qur’an dan al-Hadis:</p>
<p>Hukum asal setiap benda adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.</p>
<p>Dalam hal ini halalnya buah anggur tidak lagi memerlukan dalil khusus dari al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana halalnya buah apel, daging ayam, tempe, tahu, sayur bayam, rumah, mobil, perahu, pesawat terbang, komputer, mesin cetak, dan benda-benda lainnya yang ada di daratan, lautan, maupun udara berdasarkan keumuman makna ayat:</p>
<p>“Allahlah yang menunjukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Qs. al-Jâtsiyah [45]: 12 -13).</p>
<p>Sebaliknya, haramnya sesuatu harus ada dalil khusus yang mengharamkannya. Misalnya, haramnya minuman khamer secara khusus adalah berdasarkan firman Allah:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 90).</p>
<p>Sedangkan jika fakta itu berupa perbuatan, maka hukumnya ada lima, yakni fardhu (wajib), mandub (sunnah), mubah, makruh dan haram. Misalnya, shaum Ramadhan hukumya wajib, shadaqah hukumnya sunah (mandub), makan roti mubah, berbicara di WC makruh, dan bermuamalah dengan riba itu haram. Kaidah Syara’nya adalah:</p>
<p>Hukum asal setiap perbuatan adalah terikat dengan hukum syara.</p>
<p>Hukum atas fakta harus diambil dari dalil-dalil syari’at yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul, Ijma’ Sahabat dan Qiyas.</p>
<p>Pemikiran Islam ada dua macam, yaitu pemikiran yang berkaitan dengan akidah, seperti keimanan kepada Allah, kepada Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan iman hari akhir.</p>
<p>Dan pemikiran yang berkaitan dengan hukum syari’at yang bersifat praktis, seperti shalat, puasa, zakat, haji, jihad, jual beli, sewa menyewa, akad nikah, akad perusahaan, akad khilafah, pengembangan pertanian dan perindustrian, dan lain-lain.</p>
<p>Asas-Asas Pemikiran Islam</p>
<p>Pemikiran Islam dibangun atas dua asas, yakni akal dan syari’at.</p>
<p>1. Akal – Islam telah memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya. Allah mendorong manusia untuk memperhatikan alam semesta dan apa saja yang ada didalamnya dengan cermat, sehingga dapat menghantarkan kepada keimanan tentang adanya al-Khalik, yang menciptakannya. Allah swt berfirman:</p>
<p>“Pada dirimu sendiri apakah kamu tidak memperhatikan?” (Qs. adz-Dzâriyât [51]: 21).</p>
<p>“Perhatikan manusia itu dari apa dia diciptakan.” (Qs. ath-Thâriq [86]: 5).</p>
<p>“Apakah mereka tidak memperhatikan pada kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah.” (Qs. al-A’râf [7]: 185).</p>
<p>Dengan pengamatan seperti ini manusia, manusia bisa membuktikan adanya al-Khaliq Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Dengan akalnya, manusia bisa menjangkau keberadaan al-Khaliq Yang Maha Esa yang telah menciptakan makhluq. Dengan akalnya pula, manusia bisa membuktikan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Oleh karena itu, akal merupakan asas bagi akidah Islam. Sekaligus menunjukan bahwa akidah Islam adalah akidah aqliyyah. Akidah yang menjadi asas bagi pemikiran Islam. Akidah yang dibangun berdasarkan akal.</p>
<p>2. Syari’at – Sumber pemikiran Islam, dengan seluruh bagiannya, adalah hukum syari’at yang bersumber dari wahyu, yaitu al-Quran dan as-Sunnah yakni Ijma sahabat dan Qiyas. Syari’at merupakan asas pemikiran Islam. Sampai kapanpun, pemikiran Islam tidak akan keluar dari syari’at. Agar suatu pemikiran dianggap sebagai pemikiran Islam maka harus digali dari dalil-dalil syari’at, misalnya jihad, syura, dan iman kepada jin.. Semuanya adalah pemikiran Islam yang datang dari dalil-dalil kitabullah dan Sunah Rasul. Adapun imperialisme, teori darwin, ataupun pemikiran sosialism, bukanlah pemikiran Islam. Bahkan pemikiran Islam telah menjelaskan sikapnya terhadap pemikiran-pemikiran semacam ini.</p>
<p>Ciri khas pemikiran Islam akan hilang jika terpisah secara keseluruhan atau sebagian dari wahyu. Allah melarang kita untuk melakukan pemisahan ini. Firman Allah:</p>
<p>“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali-Imran [3]: 85).<br />
Pemikiran Islam tidak menerima tambal sulam sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang mengambil perekonomian Marxis atau kapitalism, sedangkan akhlak atau interaksi sosialnya diambil dari pemikiran barat. Bahkan mereka terpesona dengan setiap perkara baru dan asing kemudian menyisipkannya kepada pemikiran Islam. Padahal yang seharusnya seorang muslim mengadopsi pemikiran Islam secara bulat dan menyeluruh. Sebagaimana pesan Allah SWT dalam firman-Nya:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh nyata bagimu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 208).</p>
<p>Seorang muslim mengadopsi pemikiran secara kaffah dengan sepenuh keyakinan bahwa pemikiran islam itu adalah pemikiran yang paling jernih dan paling tinggi sebab sumbernya berasal dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Wallahu a’lam!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=54&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/mengadopsi-pemikiran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peranan Dua Golongan Manusia</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/peranan-dua-golongan-manusia/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/peranan-dua-golongan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 08:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/peranan-dua-golongan-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Al-Khaththath
Baik buruknya moral masyarakat banyak ditentukan oleh moral para pemimpinnya, yaitu para ulama dan penguasa. Rasulullah Saw bersabda:
“Dua macam golongan manusia yang apabila keduanya baik, maka akan baiklah masyarakat. Tetapi bila keduanya rusak, maka akan rusaklah manusia itu. Kedua golongan manusia tersebut yaitu ulama dan penguasa.” [HR. Abu Naim].
Manusia juga ada dua kelompok. Kelompok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=13&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Muhammad Al-Khaththath</p>
<p>Baik buruknya moral masyarakat banyak ditentukan oleh moral para pemimpinnya, yaitu para ulama dan penguasa. Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p>“Dua macam golongan manusia yang apabila keduanya baik, maka akan baiklah masyarakat. Tetapi bila keduanya rusak, maka akan rusaklah manusia itu. Kedua golongan manusia tersebut yaitu ulama dan penguasa.” [HR. Abu Naim].<span id="more-13"></span><br />
Manusia juga ada dua kelompok. Kelompok pertama, kelompok yang mengikuti jejak ulama, patuh kepada ajaran-ajaran yang dibawakannya, serta merasa terikat dengan hukum dan peraturan Islam. Mereka bekerja membantu ulama dalam memerangi musuh-musuh Islam, memberantas segala kemaksiatan, demi tercapaianya kebaikan dan kemakmuran bersama. Kelompok kedua, adalah kelompok orang yang tunduk di bawah perintah para penguasa, takut untuk melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan, sekalipun itu hak. Mereka selalu mencari perlindungan penguasa dan menyuruh manusia untuk mematuhi peraturan yang berlaku.</p>
<p>Di antara ulama ada yang patut diteladani, karena hatinya baik, sopan santun dan berakhlak luhur, cinta keadilan dan benci kezaliman, berlaku jujur dan benar sekalipun atas dirinya sendiri. Segala permasalahan yang ditimbulkan oleh penguasa zalim selalu dihadapinya dengan hati penuh iman, dengan keyakinan yang didasarkan alasan-alasan syariat yang kuat dan mantap. Bila melihat penguasa yang angkuh dan melanggar batas-batas kemanusiaan, ulama itu memberinya nasihat agar dia kembali ke jalan yang benar.</p>
<p>Ada pula penguasa yang adil, bertakwa kepada Allah, imannya kuat dan teguh. Dia menghabiskan waktunya siang dan malam untuk berkhidmat kepada rakyat dengan memperhatikan segala keluhan dan kebutuhan mereka. Penguasa yang selalu tegak membela Islam, sangat marah apabila kehormatan Islam diinjak-injak dan sedih bila syiar-syiar Islam dinodai. Dia merasa senang bila keadilan ditegakkan, dan sangat tersinggung bila terrjadi suatu penganiayaan (kezaliman). Semua itu karena dia merasa memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya. Dia selalu ingat kepada sabda Rasulullah yang berbunyi:</p>
<p>“Setiap kalian adalah penggembala dan semua akan ditanya tentang penggembalaannya, dan seorang Imam (kepala negara) dia akan ditanya tentang gembalaannya.” [HR. Al-Bukhari].</p>
<p>Bagi penguasa seperti ini, orang tua di antara umat Islam dianggap sebagai orang tuanya, yang muda dianggap sebagai saudaranya, dan yang kecil dianggapnya sebagai anaknya. Dengan demikian maka hakikat pembangunan dalam semua lapangan baik fisik maupun mental, dapat dirasakan manfaatnya oleh semua anggota masyarakat.</p>
<p>Tetapi tidak jarang terjadi kedua golongan manusia ini, yakni ulama dan penguasa, kondisinya bertolak belakang dengan sifat-sifat yang telah disebutkan di atas. Para ulama hanya pasif, berdiam diri dan menutup mata atas segala apa yang diperbuat oleh penguasa yang zalim. Sedangkan para penguasa cenderung untuk berbuat berbuat fasik, bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, dan mengikuti hawa nafsunya.</p>
<p>Menurut pemikiran sebagian ulama, kemungkaran yang sudah demikian hebatnya sudah sulit untuk dicegah. Nasihat dan teguran sudah tidak ada harganya lagi. Oleh karena itu, sikap diam adalah satu-satunya jalan untuk mencari selamat. Padahal akibat dari sikap diam itu justru menjadikan dekadensi moral alias kemerosotan akhlak masyarakat semakin bertambah luas. Masyarakat semakin tuli terhadap nasihat, buta terhadap kebenaran, dan hatinya semakin terkunci untuk menerima keadilan. Para ulama semakin tidak berdaya menahan lajunya pergaulan bebas yang merangsang manusia untuk lebih berani berbuat kezaliman, kerusakan dan kemungkaran. Tentu saja sikap berdiam diri itu tidak dibenarkan karena para ulama itu adalah penerus amanat risalah Nabi Muhammad Saw. Seolah mereka lupa akan firman Allah SWT yang berbunyi:</p>
<p>Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Qs. al-A’râf [7]: 164).</p>
<p>Justru ayat tersebut menjelaskan sikap para ulama sekaligus misi mulia mereka yakni menjadikan masyarakat bertaqwa.</p>
<p>Memang dewasa ini, akibat modernisasi yang tidak berlandaskan Islam, kubu kezaliman dalam segala corak dan bentuknya telah mendominasi negeri-negeri kaum muslimin. Sehingga kerusakan moral melanda seluruh segi-segi kehidupan manusia, kemungkaran dilakukan secara terang-terangan bahkan orang merasa bangga melakukan perbuatan yang terkutuk. Para ulama merasa kewalahan menghadapi situasi yang serba sulit ini, sehingga mereka mengambil sikap sendiri-sendiri. Ada yang tinggal diam melepaskan tanggung jawabnya sebagai ulama, merasa cukup dengan hanya melaksanakan ibadah formal, namun apa yang terjadi di massyarakat tidak dihiraukannya. Ada juga para ulama yang menjadi penyambung lidah para penguasa, mendukung dan membenarkan segala tindakan mereka. Ulama yang lain ada yang hanya pandai berceramah tetapi terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan ibadah formal seperti sholat, zakat dan sebagainya. Namun tidak berani menyinggung situasi yang sedang terjadi sebagai akibat dari kebijakan dan langkah penguasa yang zalim. Bahkan ada yang lebih parah lagi, sebagian ulama ada yang menganut paham sosialis atau kapitalis ala Barat dan mendukungnya dengan mencari-cari dalil dari ajaran Islam yang dipaksa-paksakan, seolah-olah paham tersebut tidak bertentangan dengan hukum Islam.</p>
<p>Sikap dan tindakan para ulama tersebut tidak bisa dibenarkan. Sebagai pewaris dan pelanjut risalah dakwah Nabi Muhammad, seharusnya mereka melaksanakan amar makruf nahi mungkar dengan tetap bertawakal kepada Allah. Kondisi ini perlu kita cermati mengingat Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p>“Akan datang penguasa-penguasa yang fasik dan jahat. Siapa saja yang percaya dengan kebohongannya dan membantu kezalimannya, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak akan masuk ke telagaku di surga.” [HR. At-Tirmidzi].</p>
<p>Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata:</p>
<p>“Rasanya tulang-tulang punggungku hancur karena dua orang, yang satu orang alim bermuka tebal, dan yang satu lagi seorang jahil yang berpura-pura menjadi ahli ibadah. Yang pertama menipu manusia dengan ilmunya, dan yang kedua menipu manusia dengan ibadahnya.”</p>
<p>Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan:</p>
<p>“Ulama itu ada tiga macam. (1) Ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain dengan mengejar-ngejar kesenangan dunia. (2) Ulama yang menyelamatkan dirinya dan orang lain dengan menyeru manusia untuk berbakti kepada Allah SWT secara lahir dan batin. (3) Dan ulama yang membinasakan dirinya tetapi menyelamatkan orang lain. Pada lahirnya dia memanggil manusia untuk mengerjakan kebaikan, tetapi secara diam-diam dia sendiri hanya mengejar-ngejar harta untuk mencari kekayaan dan kedudukan dunia. Maka hendaklah kita mengoreksi diri masing-masing, termasuk ke dalam golongan manakah kita di antara tiga macam ulama itu.”</p>
<p>Sejarah perjuangan dan keberhasilan para ulama terdahulu terukir karena mereka benar-benar merasa bertanggung jawab terhadap umat di hadapan Allah SWT. Mereka berjuang menegakkan amar makruf nahi mungkar serta tidak gentar menghadapi segala macam tantangan dan ancaman yang dilancarkan oleh para penguasa yang zalim dan bengis. Mereka percaya dan bertawakal, bahwa hanyalah Allah SWT satu-satunya penolong dan pelindung. Mereka rela menerima takdir ilahi dan senantiasa memohon agar kelak kembali ke sisi-Nya dalam keadaan syahid. Mereka mengikhlaskan niat dan amal ibadahnya semata-mata hanya untuk Allah. Ucapan dan perkataan mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka, sehingga benar-benar dapat meninggalkan bekas yang baik dalam hati para penguasa dan mempengaruhi hati itu untuk meninggalkan kezaliman dalam kekuasaannya.</p>
<p>Tetapi di zaman dimana kerakusan hawa nafsu sangat menonjol dalam hati para penguasa, mereka telah berhasil mengunci dan membisukan mulut para ulama. Akibatnya ucapan para ulama itu sudah tidak sesuai lagi dengan amal perbuatannya. Itulah sebabnya para ulama menjadi gagal dalam membawa misinya. Seandainya para ulama berdiri tegak dan benar-benar melaksanakan tugas dan kewajibannya, sudah barang tentu mereka akan berhasil. Karena harapan umat senantiasa digantungkan kepada para ulama dan penguasanya. Bila kedua-duanya rusak, tentu umat akan rusak pula.</p>
<p>Untuk mengetahui apakah seorang ulama itu baik atau tidak, begitu pula apakah seorang penguasa itu adil atau zalim, akan tampak pada pengamalannya terhadap hukum-hukum syariah. Segala sikap, perilaku, dan amal para ulama dan penguasa harus diukur dengan takaran syariah Islam, dan harus dilihat dengan kacamata Islam. Dengan itu dapat diketahui baik buruknya sifat dan sikap mereka terhadap Islam; dan bagaimana cara mereka menerapkan hukum-hukum syariah serta tanggung jawab mereka dalam mengemban dakwah Islam di kalangan umat. Dengan demikian akan terciptalah suatu kehidupan masyarakat yang baik, aman dan teratur. Sebaliknya, jika para ulama dan penguasa mengingkari sifat-sifat kebaikan tersebut, maka yang akan terjadi justru sebaliknya, yaitu kerusakan, kemungkaran, kebodohan, dan kezaliman.</p>
<p>Dalam hiruk pikuk kampanye pemilihan kepala negara yang melibatkan para penguasa dan ulama di negeri ini, kita berharap agar semua rakyat muslim di negeri ini merenungkan petunjuk ajaran Islam yang berkaitan dengan ulama dan penguasa di atas, dan menjadikan syariah Islam sebagai standar dalam memilih kepala negara. Para ulama, dengan segenap ilmu syariahnya, khususnya fiqh siyasah, hendaknya tampil memberikan rambu-rambu kepada umat maupun calon kepala negara, bukan tampil gegap gempita hanya untuk dukung-mendukung capres-cawapres secara pragmatis, lebih-lebih bila tampak kehilangan nuansa ideologis. Jika tidak, maka jangan heran bila kondisi kita ke depan bakal jauh lebih buruk dari hari ini, Na’udzbillahi mindzalik!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=13&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/peranan-dua-golongan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Refleksi Rasa Syukur</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/refleksi-rasa-syukur/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/refleksi-rasa-syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 08:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/refleksi-rasa-syukur/</guid>
		<description><![CDATA[Syamsuddin Ramadhan
Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Allah SWT berfirman:
“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=12&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Syamsuddin Ramadhan</p>
<p>Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya.<span id="more-12"></span> Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 152).</p>
<p>Imam ‘Ali Ash-Shabuni dalam Shafwât al-Tafâsir menyatakan, “Ingatlah kalian kepadaKu dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan firman Allah SWT, ‘bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu’, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya: ‘Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?’ Rabbnya menjawab: ‘Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu’.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, I/142).</p>
<p>Di ayat yang lain Allah SWT menyatakan:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (Qs. al-Baqarah [2]: 172).</p>
<p>‘Ulama-‘ulama tafsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “jika kalian benar-benar menyembah kepadaNya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmatNya yang tidak bisa dihitung itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diriNya.”</p>
<p>Atas dasar itu, bersyukur atas nikmat Allah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.</p>
<p>Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT dan meninggalkan maksiyat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni.</p>
<p>Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan Allah merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seorang yang selalu taat kepada Allah SWT, menjalan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya ia adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, setiap orang yang menampik dan menolak dengan keras syari’at Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.</p>
<p>Allah SWT telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikanNya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (Qs. Yunus [10]: 60).</p>
<p>“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Qs. al-Baqarah [2]: 243).</p>
<p>Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Tatkala mendapatkan kenikmatan mereka sering melupakan Allah SWT. Akan tetapi, tatkala mendapatkan kesusahan mereka mereka ingat dan bersyukur kepada Allah. Namun, setelah terlepas dari penderitaan mereka kembali ingkar kepada Allah SWT. Allah telah menyatakan dengan sangat jelas:</p>
<p>“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengetakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (Qs. al-An’âm [6]: 63-64).</p>
<p>Ketika manusia ditimpa dengan berbagai macam kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika bencana itu dilepaskan dari mereka. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah SWT. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada Allah SWT agar dihindarkan dari kesusahan hidup; mulai kelaparan, kekeringan, bencana alam dan lain-lain. Mereka rela berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali menerapkan aturan-aturan kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah SWT. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah SWT? Bukankah refleksi syukur sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syari’at Islam dan selalu berdzikir kepada Allah SWT?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=12&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/refleksi-rasa-syukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buah Syariat Qurban</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/buah-syariat-qurban/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/buah-syariat-qurban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 08:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/buah-syariat-qurban/</guid>
		<description><![CDATA[Musim haji akan segera mencapai puncaknya. Kita akan menyambut datangnya hari raya haji atau hari raya kurban atau Iedul Adha 1425H pada tanggal 10 Dzul Hijjah minggu depan, yakni sehari setelah para jamaah haji wuquf di padang Arafah (9 Dzul Hijjah).
Pada hari raya ini kaum muslimin disunnahkan menyembelih hewan qurban pada tanggal 10 (hari nahar) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=11&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Musim haji akan segera mencapai puncaknya. Kita akan menyambut datangnya hari raya haji atau hari raya kurban atau Iedul Adha 1425H pada tanggal 10 Dzul Hijjah minggu depan, yakni sehari setelah para jamaah haji wuquf di padang Arafah (9 Dzul Hijjah).<span id="more-11"></span></p>
<p>Pada hari raya ini kaum muslimin disunnahkan menyembelih hewan qurban pada tanggal 10 (hari nahar) maupun pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah atau dikenal dengan hari tasyriq.</p>
<p>Apa makna qurban, bagaimana hakikat syariat ini, dan apa pelajaran yang mesti dipetik oleh kaum muslimin dalam ajaran ini? Tulisan ini mencoba menguraikannya.</p>
<p>Syariat Qurban</p>
<p>Syariat qurban terkait dengan syariat ibadah haji. Dalam surat Al Hajj Allah SWT menyebut hikmah ibadah haji sebagai mendapatkan berbagai manfaat perdagangan maupun saling mengenal antara kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru dunia di dalam haji disamping untuk mengingat Allah dalam memenuhi syiar-syiar haji. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Qs. Al Haj; 28).</p>
<p>Hari-hari yang ditentukan (ayyam ma’luumaat) dalam ayat di atas maksudnya adalah tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yaitu hari nahar dan hari tasyriq (lihat Al Quran dan Terjemahannya hal 516). Hari nahar adalah hari penyembelihan qurban, demikian juga hari tasyriq selama tiga hari berikutnya. Diriwayatkan dari Jabir r.a. yang mengatakan:</p>
<p>Rasulullah Saw melempar jumrah (aqabah) pada hari raya qurban (yaumun nahr) pada waktu dluha, sedangkan sesudahnya, dilakukannya bila matahari tergelincir. [HR. Al-Khamsah].</p>
<p>Diriwayatkan bahwa sahabat Anas r.a. menyatakan:</p>
<p>“Bahwa Nabi Saw tiba di Mina dan mendatangi jumrah lalu melemparinya, kemudian kembali ke tempat tinggalnya di Mina dan menyembelih kurbannya.” [HR. Al-Khamsah].</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:</p>
<p>“Segala hari tasyriq (11,12,13 Dzul hijjah) adalah hari menyembelih.” [HR. Ahmad].</p>
<p>Dari perbuatan (fiil) Rasulullah Saw maupun ucapan (qaul) beliau Saw dalam riwayat-riwayat hadits di atas jelas bahwa qurban merupakan salah satu dari ajaran syariat Islam. Perbuatan maupun pernyataan Rasulullah Saw itu adalah jawaban atas perintah Allah SWT dalam firman-Nya:</p>
<p>Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (Qs. Al-Kautsar; 1-2).</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p>Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Qs. Al-Hajj: 34).</p>
<p>Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT mengabarkan bahwa menyembelih korban dan menumpahkan darah dengan nama Allah adalah disyariatkan pada semua agama. As-Shobuni dalam Shafwatut Tafaasir, Juz II/265 mengatakan bahwa Allah memerintahkan penyembelihan korban sebagai rasa syukur kepada Allah atas rezki yang dikaruniakan Allah, berupa ternak seperti unta, sapi, dan kambing dan agar mereka menyebut asma-Nya dan menyembelih korban untuk mencari keridloan-Nya karena Dialah Sang Pencipta dan Pemberi rizki, bukan seperti orang-orang musyrik yang berkorban demi patung-patung berhala.</p>
<p>Hakikat Berkurban</p>
<p>Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): &#8220;Aku pasti membunuhmu!&#8221; Berkata Habil: &#8220;Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.&#8221; (Qs. Al-Maa&#8217;idah: 27).</p>
<p>Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Al-Hajj: 37).</p>
<p>Korban dilakukan dengan memberikan yang terbaik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk mendapatkan keridloan-Nya. Ash Shobuni (idem) mengatakan bahwa prinsip korban ini adalah sikap taqwa dari kaum muslimin dengan tunduknya kaum muslimin mengikuti perintah-perintah Allah dan sikap mencari ridlo Allah dalam pelaksanaan perintah-perintah itu.</p>
<p>Sikap Jiwa ber-Qurban</p>
<p>Seorang muslim yang telah terbudaya dengan melaksanakan syariat Qurban akan terbentuk dalam dirinya untuk senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan menggapai keridloan-Nya, dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya yang wajib-wajib maupun yang sunnah-sunnah, sekalipun untuk itu dia harus mengorbankan apa saja yang dimilikinya, baik harta maupun nyawanya.</p>
<p>Dia memahami bahwa segala aktivitasnya, adalah didasari kesadaran bahwa itu adalah perintah agama-Nya, perintah Allah dan rasul-Nya. Ia sadar betul bahwa bilamana dia mengerjakan suatu kebajikan, tanpa didasari oleh motivasi agama, maka akan percuma baginya. Dia paham, jika suatu perbuatan dilakukan tanpa motivasi agama, hanya sekedar kemanusiaan, mungkin saja orang akan membanggakan dan memujinya, mungkin negara memberikan piagam penghargaan kepadanya, tapi kalau di hadapan Allah, semua perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlas lilahi ta’ala dan tidak dilakukan dengan cara-cara yang disunnah Rasul-Nya tidak akan Dia SWT terima. Jadi kalau dia menyembelih korban, dia laksanakan sesuai tuntunan Rasulullah Saw, yakni menyembelih onta, sapi, atau kambing. Tidak dia ganti dengan ayam, bebek, atau hewan lainnya yang tidak disyariatkan. Sebab, dia sadar bahwa yang diterima oleh Allah SWT adalah aktivitas yang disyariatkan oleh-Nya.</p>
<p>Oleh karena itu, buah dari syariat Qurban adalah tercetaknya jiwa-jiwa muslim yang rela berkorban dan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya sebagaimana yang dijelaskan dan dicontohkan oleh rasul-Nya.</p>
<p>Maka, jika dia menyembelih hewan qurban dan dengan-Nya memberi maka orang-orang fakir, yang meminta maupun yang tidak meminta, bukanlah agar dia mendapat predikat dermawan. Atau kalau dia kirim hewan korban-Nya ke daerah bencana dan dia membantu orang-orang yang terkena musibah, bukanlah untuk mendapatkan sebutan orang bermoral dan berperikemanusiaan. Tapi semua itu dia lakukan dalam rangka ketaqwaan-Nya kepada Allah Sang Pencipta dan kesukaannya mendapatkan Ridlo-Nya. Wallahu’alam!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=11&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/buah-syariat-qurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Keluarga Ideologis</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/membangun-keluarga-ideologis/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/membangun-keluarga-ideologis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 08:09:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/membangun-keluarga-ideologis/</guid>
		<description><![CDATA[Nurfaizah dan Najmah
Musuh-musuh Islam memang tidak menghendaki kaum Muslim berpegang teguh pada Islam secara utuh. Mereka tidak akan pernah tinggal diam terhadap upaya kaum Muslim untuk menegakkan syariat Islam. Mereka berusaha keras untuk memisahkan kaum Muslim dari syariat Islam. Mereka terus berupaya mengaburkan syariat Islam dan mengikis sedikit demi sedikit syariat Islam dari kehidupan kaum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=10&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nurfaizah dan Najmah</p>
<p>Musuh-musuh Islam memang tidak menghendaki kaum Muslim berpegang teguh pada Islam secara utuh. Mereka tidak akan pernah tinggal diam terhadap upaya kaum Muslim untuk menegakkan syariat Islam. Mereka berusaha keras untuk memisahkan kaum Muslim dari syariat Islam. Mereka terus berupaya mengaburkan syariat Islam dan mengikis sedikit demi sedikit syariat Islam dari kehidupan kaum Muslim.<span id="more-10"></span><br />
Ternyata usaha mereka berhasil. Sedikit demi sedikit syariat Islam ditinggalkan oleh umatnya sehingga yang tersisa hanyalah aturan yang terkait dengan ibadah ritual dan keluarga. Namun, tidak berhenti sampai di sana, mereka pun terus berupaya untuk merusak hukum-hukum keluarga dalam rangka merusak tatanan kehidupan keluarga Muslim yang masih tersisa.</p>
<p>Berawal dari Feminisme</p>
<p>Munculnya feminisme tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah perjuangan kaum perempuan Barat menuntut kebebasannya. Karena pada abad Pertengahan kaum perempuan tidak memiliki tempat ditengah masyarakat, maka mereka diabaikan, tidak memiliki sesuatu pun, dan tidak boleh mengurus apapun. Sejarah Barat dianggap tidak memihak kaum perempuan. Dalam masyarakat feodalis (di Eropa hingga abad ke-18), dominasi mitologi filsafat dan teologi gereja sarat dengan pelecehan feminitas; wanita diposisikan sebagai sesuatu yang rendah, yaitu dianggap sebagai sumber godaan dan kejahatan.</p>
<p>Kemudian muncul renaisance, yang berintikan semangat pemberontakan terhadap dominasi gereja, kemudian diikuti dengan Revolusi Prancis dan Revolusi Industri. Inilah puncak reaksi masyarakat terhadap dominasi kaum feodal yang cenderung korup dan menindas rakyat, di bawah legitimasi gereja. Inilah pula awal proses liberalisasi dan demokratisasi kehidupan di Barat. Perubahan ini tidak hanya berpengaruh pada berubahnya sistem feodal menjadi sistem kapitalis sekular, tetapi ikut menginspirasikan kaum perempuan untuk bangkit memperjuangkan hak-haknya.</p>
<p>Kondisi ini dipermudah dengan seruan kaum kapitalis sebagai golongan pemilik kapital yang mendorong kaum perempuan bekerja di luar rumah. Ketika kaum perempuan bekerja di luar rumah, mereka merasa terasing dengan kondisi seperti ini. Mereka berurusan dengan pabrik-pabrik, pusat-pusat bisnis, dan dengan kaum lelaki sebagai pihak yang dianggap bertentangan dengan kepentingannya. Akhirnya, mereka bersaing dengan laki-laki dan berusaha merebut posisi kaum laki-laki untuk memperoleh kebebasan mutlak agar terlepas dari segala macam ikatan dan nilai serta tradisi. Kaum perempuan mulai menuntut persamaan secara mutlak dengan kaum laki-laki termasuk dalam urusan kebebasan hubungan seksual tanpa perkawinan.</p>
<p>Musuh-musuh Islam berupaya untuk mentransfer kebobrokan perilaku masyarakat semacam ini ke Dunia Islam untuk menghancurkan sistem keluarga Islam dan menggantinya dengan perilaku yang sama dengan mereka. Menyebarnya ide feminisme di Dunia Islam didorong oleh banyaknya permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, termasuk di yang ada di negeri-negeri Muslim. Kekerasan, kemiskinan, dan ketidakadilan/diskriminasi sering disebut-sebut sebagai permasalahan krusial yang dialami perempuan dari masa ke masa.</p>
<p>Dari fakta tersebut, muncullah berbagai tuntutan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Pasalnya, perubahan masyarakat dari sistem feodal menjadi sistem kapitalis ternyata tidak serta-merta mengubah nasib kaum perempuan menjadi lebih baik. Bahkan dengan sistem kapitalis ini, nasib kaum perempuan semakin terpuruk. Kemiskinan struktural yang terjadi mengharuskan mereka ikut berperan dalam menopang ekonomi keluarga. Pada saat yang sama, mereka harus berperan dalam sektor domestiknya. Inilah yang menurut kalangan feminis dianggap sebagai sebuah ketimpangan, ketidakadilan, atau disparitas jender.</p>
<p>Untuk itu, salah satu perjuangan dari kaum feminis radikal adalah menyerang dan menolak institusi keluarga dan sistem patriarkal yang dalam pandangan mereka merupakan simbol dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan. Feminisme berupaya mengubah struktur pembagian tugas kehidupan menjadi kebebasan menentukan tugas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan bisa memilih menjadi ibu, ayah, keduanya sekaligus, atau tidak sama sekali. Sebaliknya, seorang laki-laki bisa menjadi seorang ‘ibu’, ayah, keduanya sekaligus atau tidak sama sekali; tanpa ada batasan; tidak ada tolok ukur dan standar yang pasti.</p>
<p>Ukuran nilai dan kemaslahatan dikembalikan kepada masing-masing orang. Caranya adalah dengan mengubah tata nilai patriarkal di tengah masyarakat—seperti nilai kepatuhan, penderitaan tanpa protes, dan submissin (mental bawahan). Lalu konsep jender pun berubah. Pada akhirnya, pembagian peran pun akan berubah sehingga terwujud persamaan dan kesetaraan di tengah keluarga dan masyarakat. Itulah yang disebut dengan masyarakat ideal dalam kacamata kaum feminis, yaitu sebuah masyarakat yang berkesetaraan jender; laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam semua aktivitas di semua level (domestik atau publik) dan tidak mendapat halangan untuk menikmati hasil-hasilnya.</p>
<p>Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Apa yang dihasilkan oleh feminisme telah membawa dampak buruk. Fakta menunjukkan, bahwa pengaruh feminisme sekular telah membawa kerusakan bagi tatanan fungsi dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat, sekaligus mengakibatkan hancurnya tatanan sosial masyarakat secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena kebebasan yang ditawarkan feminisme berakibat pada runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, fenomena un wed dan no-mar, merebaknya free sex, meningkatnya kasus aborsi, dilema wanita karir, sindrom cinderella complex, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah, dan lain-lain. Walhasil, yang terbentuk tentu saja bukan masyarakat yang kokoh, tetapi sebuah masyarakat yang penuh dengan konflik yang tidak memberikan ketenangan dan kepastian, karena berbagai penyimpangan banyak terjadi di dalamnya.</p>
<p>Membangun Keluarga Ideologis</p>
<p>Motivasi awal yang benar merupakan pondasi untuk membangun kehidupan rumahtangga yang kokoh. Dalam hal ini, Islam menetapkan bahwa motivasi seseorang melangsungkan kehidupan suami-istri adalah untuk melaksanakan salah satu dari bentuk ibadah kita kepada Allah Swt. Kehidupan pernikahan adalah kehidupan persahabatan antara seorang suami dan istrinya. Suami menjadi sahabat bagi istrinya dan istri menjadi sahabat bagi suaminya secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Allah telah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami-istri, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p>Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri —supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya— dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. ar-Rûm [30]: 21).</p>
<p>Bagaimana kita dapat membentuk keluarga yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, yakni sebuah keluarga yang berbasiskan ideologi Islam?</p>
<p>Pertama, pondasi dasar dari pernikahan tersebut adalah akidah Islam bukan manfaat ataupun kepentingan. Dengan menjadikan Islam sebagai landasan, maka segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga tersebut dikembalikan pada Islam semata.</p>
<p>Kedua, adanya visi dan misi yang sama antara suami-istri tentang hakikat dan tujuan hidup dan berkeluarga dalam Islam.</p>
<p>Ketiga, memahami dengan benar fungsi dan kedudukan masing-masing dalam keluarga dan berupaya semaksimal mungkin menjalankannya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Keempat, menjadikan Islam dan syariatnya sebagai solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarganya. Halal-haram dijadikan landasan dalam berbuat, bukan hawa nafsu.</p>
<p>Kelima, menumbuhsuburkan amar makruf nahi mungkar di antara sesama anggota keluarga sehingga seluruh anggota keluarga senantiasa berjalan pada rel Islam.</p>
<p>Keenam, menghiasi rumah dengan membiasakan melakukan amalan-amalan sunnah, seperti membaca al-Qur’an, bersedekah, mengerjakan shalat sunnah, dan sebagainya.</p>
<p>Ketujuh, senantiasa memanjatkan doa kepada Allah dan bersabar dalam situasi apapun.</p>
<p>Peran Penting Keluarga</p>
<p>Itulah bangunan dasar untuk membentuk keluarga yang kokoh dan ideologis. Lebih dari itu, bangunan keluarga tersebut akan mencapai kekuatan yang hakiki jika berhasil berpengaruh di tengah-tengah lingkungannya, karena keluarga memiliki peran yang penting dalam pembentukan sebuah masyarakat. Keluarga adalah pranata awal pendidikan primer bagi seorang manusia. Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan sendi-sendi pendidikan yang fundamental, maka keluarga adalah pemberi pengaruh pertama.</p>
<p>Keluarga memiliki peran strategis dalam proses pendidikan anak, bahkan umat manusia. Keluarga lebih kuat pengaruhnya dari sendi-sendi yang lain. Sejak awal masa kehidupannya, seorang manusia lebih banyak mendapatkan pengaruh dari keluarga. Sebab, waktu yang dihabiskan di keluarga lebih banyak daripada di tempat-tempat lain.</p>
<p>Pada hakikatnya pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan sepanjang hayat. Pembinaan dan pengembangan kepribadian serta penguasaan tsaqâfah Islam dilakukan melalui pengalaman hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga, terutama ibu dan bapaknya.</p>
<p>Begitu pentingnya pembinaan dan pendidikan di dalam keluarga, pendidikan anak sejak dini dalam keluarga akan tertanam secara kuat di dalam diri seorang anak. Sebab, pengalaman hidup pada masa-masa awal umur manusia akan membentuk ciri-ciri khas, baik dalam tubuh maupun pemikiran, yang bisa jadi tidak ada yang dapat mengubahnya sesudah masa itu.</p>
<p>Untuk itu, keluarga secara langsung ataupun tidak turut mempengaruhi jatidiri sebuah masyarakat. Dari keluargalah muncul generasi manusia yang bermartabat, memiliki rasa kasih sayang, dan saling tolong-menolong di antara mereka. Dengan begitu, akan terciptalah tatanan kehidupan masyarakat yang kuat, yang didukung keluarga-keluarga yang harmonis dan berkasih sayang, karena memiliki pemikiran ideologis sebagai pondasinya.</p>
<p>Kebutuhan Sistem Politik Yang Kondusif</p>
<p>Akhirnya, hal penting lainnya yang tidak bisa kita abaikan dalam pembentukan keluarga yang kuat dan ideologis adalah peran sistem yang mendukung hal tersebut. Sebab, bagaimanapun kuatnya kita memproteksi keluarga dengan ide-ide Islam dan pembinaan yang intensif kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya, apabila sistem yang berlaku di tengah kehidupan keluarga itu tidak menggunakan aturan-aturan Islam, maka sulit bagi bangunan keluarga yang kokoh itu bisa bertahan. Sebab, gempuran dari luar akan senantiasa menghadang, baik itu berupa pemikiran-pemikiran yang bertentangan yang bisa mempengaruhi tingkah laku dan moral anggota keluarga maupun rintangan berupa kesulitan ekonomi yang berdampak pada sulitnya pemenuhan kebutuhan fisik dan non-fisik anggota keluarga. Dari sinilah biasanya muncul tindak kriminalitas dan penyimpangan sosial lainnya.</p>
<p>Untuk itu, penataan kehidupan yang benar berkaitan dengan semua urusan masyarakat sangat diperlukan. Dengan sistem politik Islamlah semua ini bisa terwujud.</p>
<p>Sistem politik Islam memiliki kemampuan untuk memberikan solusi atas semua persoalan, baik menyangkut persoalan individu, keluarga, maupun masyarakat. Sistem Islam mampu membendung serangan musuh-musuh Islam ke tengah-tengah kaum Muslim dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan dan tatanan yang sesuai dengan aturan Islam. Hal ini dilakukan dengan cara penerapan aturan-aturan Islam yang komprehensif. Sebab, sistem politik Islam itu sendiri intinya adalah bagaimana menciptakan pengaturan urusan masyarakat sesusai dengan tuntunan syariat Islam hingga tercipta tatanan masyarakat yang baik, damai, dan sejahtera; yang dipenuhi dengan ampunan dan keridhaan Allah Swt.</p>
<p>Membendung Penghancuran Keluarga Muslim</p>
<p>Untuk membendung upaya penghancuran keluarga Muslim dan Islam pada umumnya, maka kaum Muslim secara bersama-sama dituntut untuk memiliki kesadaran dalam memahami Islam secara menyeluruh dari segala aspeknya. Dengan begitu, kaum Muslim akan mampu mencermati dan mengantisipasi bahaya ide-ide asing yang bertentangan dengan Islam seperti feminisme, kesetaraan jender, emansipasi, liberalisme, dan sebagainya. Pemahaman Islam seperti ini bisa kita peroleh dengan cara membina diri kita dan kaum Muslim secara terus-menerus dengan tsaqâfah Islam. Tsaqâfah Islam tersebut kemudian dijadikan sebagai acuan atau pijakan dalam menyikapi berbagai pemikiran dan pemahaman asing yang menyerang. Hal ini harus dibarengi dengan senantiasa mengikuti berita dan fakta-fakta yang berkembang, kemudian menyikapinya dan memberikan solusi sesuai dengan Islam.</p>
<p>Selain itu, penting untuk melibatkan diri secara aktif dalam upaya menyebarkan ide-ide Islam tersebut ke tengah-tengah masyarakat. Sebab, membentuk keluarga yang kokoh tidak cukup dilakukan oleh individu di dalam sebuah keluarga semata. Akan tetapi, hal itu juga harus ditempuh secara politis, sistimatis, dan ideologis dalam suatu gerakan yang terorganisasi secara rapi. Sebab, kaum feminis pun, dalam menghancurkan keluarga Muslim, melakukannya bukan hanya sebatas aktivitas penyebaran ide secara individual semata, tetapi melalui sebuah gerakan yang memiliki kekuatan besar dan didukung oleh ideologi tertentu (kapitalis sekular) di belakangnya.</p>
<p>Oleh karena itu, yang perlu menjadi agenda kaum Muslim saat ini untuk membendung upaya penghancuran keluarga Muslim adalah bagaimana menghadirkan Islam dengan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh dalam pengaturan umat secara nyata, baik dalam tingkat individu, keluarga, masyarakat, maupun negara. Dengan begtiu, kaum Muslim bisa keluar dari keterpurukannya dan sekaligus bangkit kembali sebagai umat terbaik (khayr al-ummah), yang tegak di atas keluarga-keluarga yang kuat. [Majalah al-wa’ie, Edisi 54]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=10&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/membangun-keluarga-ideologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metode Mencintai Nabi Saw</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/metode-mencintai-nabi-saw/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/metode-mencintai-nabi-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 08:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nafsiyyah Fikriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/metode-mencintai-nabi-saw/</guid>
		<description><![CDATA[Luthfi Hidayat
Islam adalah sebuah agama sekaligus jalan hidup yang unik. Al-Qur’an dan as-Sunnah, yang menjadi landasan dalam berkehidupan, secara jelas direpresentasikan secara utuh oleh pribadi Rasulullah Muhammad Saw. Artinya, Muhammad merupakan gambaran utuh dan praktis tentang Islam. Tidak ada satu pun rangkaian pesan Islam yang tidak direpresentasikan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw. Jadilah beliau manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=9&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Luthfi Hidayat</p>
<p>Islam adalah sebuah agama sekaligus jalan hidup yang unik. Al-Qur’an dan as-Sunnah, yang menjadi landasan dalam berkehidupan, secara jelas direpresentasikan secara utuh oleh pribadi Rasulullah Muhammad Saw. Artinya, Muhammad merupakan gambaran utuh dan praktis tentang Islam. Tidak ada satu pun rangkaian pesan Islam yang tidak direpresentasikan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw. Jadilah beliau manusia paling agung sepanjang sejarah penciptaan manusia.<span id="more-9"></span><br />
Kemuliaan dan keagungan Rasulullah Saw adalah suatu keniscayaan. Karena itu, mencintai beliau juga merupakan keniscayaan. Kecintaan kepada beliau sejatinya tidak berhenti pada tataran batiniah (kalbu), tetapi harus melampui gerak lahiriah, yaitu dengan mengikuti segenap perilaku beliau dari perkara yang paling sederhana sampai pada perkara yang besar dan rumit. Kecintaan kepada beliau juga tidak boleh diekspresikan sebatas dalam tataran ritual, moral, dan personal semata; ia harus termanifestasikan pula dalam seluruh aspek kehidupan —mencakup bidang ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dan kenegaraan. Semua itu harus kita wujudkan sebagai wujud kecintaan dan pengagungan kita kepada beliau.</p>
<p>Pengagungan dan rasa cinta yang parsial kepada Rasulullas Saw, yang hanya sebatas pada aspek ritual dan moral, adalah tindakan mengebiri keagungan sosok Rasulullah Saw.</p>
<p>Kewajiban Mencintai Nabi Saw</p>
<p>Karena Nabi Saw adalah manusia —bahkan makhluk— teragung, sejatinya kecintaan kepada beliau juga harus menempati kedudukan yang paling tinggi —tentu setelah kecintaan kepada Allah SWT— dibandingkan dengan kecintaan kepada selain beliau. Dengan kata lain, seseorang belum dikatakan sungguh-sungguh mencintai Rasulullah Saw jika ia masih menomerduakan kecintaan kepada beliau di bawah kecintaan kepada selain beliau.</p>
<p>Namun demikian, bagi seorang Muslim, kecintaan pada semua itu sejatinya tidak mengalahkan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Artinya, ia akan selalu mendudukkan rasa cintanya kepada Rasulullah pada urutan pertama —tentu setelah rasa cintanya kepada Allah SWT.</p>
<p>Mari kita merenungkan firman Allah SWT berikut:</p>
<p>Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, dan kaum keluarga kalian; juga harta dan kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik. (Qs. at-Taubah [9]: 24).</p>
<p>Firman Allah di atas sekaligus merupakan dalil bahwa seorang Muslim wajib mendudukkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya pada urutan teratas. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya ini sekaligus menjadi parameter untuk menakar kadar keimanan seorang Muslim.</p>
<p>Lebih dari itu, manisnya iman akan dirasakan seorang Muslim jika dia telah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada ragam kecintaannya kepada sekelilingnya. Rasulullah Saw telah bersabda:</p>
<p>Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya, ia telah menemukan manisnya iman: (1) orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lainnya; (2) orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; (3) orang yang tidak suka kembali pada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. [HR. Muttafaq ‘alaih].</p>
<p>Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya. [HR. Muttafaq ‘alaih].</p>
<p>Bahkan, pengampunan dosa dari Allah hanya akan terwujud dengan bersungguh-sungguh mencintai Rasulullah Saw, dan kecintaan kepada Allah belum teruji jika manusia tidak sungguh-sungguh mencintai Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>Katakanlah, “Jika kalian benar-benra mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Qs. Ali-Imran [3]: 31).</p>
<p>Kesungguhan dalam mencintai Rasulullah Saw ini telah terpatri kuat dalam pribadi para sahabat. Merekalah orang-orang yang berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mewujudkan kecintaan ini. Secara praktis hal itu diwujudkan dengan cara mengikuti dan meneladani Rasulullah Saw, sekaligus dengan menaati seluruh perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Hal itu antara lain didasarkan pada firman Allah SWT berikut:</p>
<p>Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (Qs. al-Hasyr [59]: 7).</p>
<p>Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berdasarkan hawa nafsu; sesungguhnya semuanya tidak lain kecuali merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya. (Qs. an-Najm [53]: 3-4).</p>
<p>Hakikat Mencintai Nabi Saw</p>
<p>Dalam kitab Min Muqawwimât an-Nafsiyyah al-Islâmiyyah yang dikeluarkan Hizbut Tahrir, al-Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p>Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat.”</p>
<p>Al-Zujaj juga berkata, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya serta meridhai segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah Saw.”</p>
<p>Cinta dalam arti yang dimaksudkan di atas adalah kewajiban. Sebab, mencintai Allah dan Rasul-Nya terikat dengan pengamalan syariat yang telah diwajibkan oleh keduanya. Artinya, ketika seorang Muslim menyatakan bahwa kecintaannya yang tertinggi adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dia wajib untuk mengekspresikan kecintaannya itu dengan meneladani segala perilaku beliau dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (Qs. al Ahzab [33]: 21).</p>
<p>Metode Mencintai Nabi Saw</p>
<p>Rasa cinta kepada Rasulullah Saw sangat dangkal kalau hanya diungkapkan dalam acara-acara ritual seperti peringatan mengenang kelahiran beliau. Kecintaan semacam ini tidak bermakna apa-apa jika dalam aspek kehidupan nyata, ajaran yang dibawa oleh beliau justru banyak ditinggalkan. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan mencintai Rasulullah, sementara teladan kehidupan real dia ambil dari selain Rasulullah —dalam berekonomi dia meneladani Adam Smith dan David Richardo; dalam berpolitik dia merujuk kepada Machievelli dan Mountesque; dalam kehidupan sosial dan perubahan masyarakat dia mencontoh konsep Karl Marx, Lenin, dan Stalin; dalam pendidikan dan psikologi di berkaca pada teori Sighmund Freud; dan seterusnya. Padahal, hanya Rasulullahlah yang layak dijadikan teladan pada semua aspek di atas.</p>
<p>Kecintaan dan pengagungan kita kepada Rasulullah Saw mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua hal yang terkait dengan pribadi maupun sosial kita dengan tuntunan Rasulullah Saw. Meneladani Rasulullah Saw dalam ibadah mahdhah diwujudkan dalam bentuk ketundukan dalam menjalankan dan memelihara shalat —misalnya— sesuai dengan tuntunan beliau. Rasulullah bersabda:</p>
<p>Shalatlah kalian, sebagaimana aku shalat. [HR. Bukhari].</p>
<p>Rasulullah Saw adalah sosok yang berakhlak agung dan mulia, yang layak kita tiru. Siti Aisyah ra., ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah Saw adalah al-Qur’an itu sendiri.” [HR. Muslim dan Abu Dawud].</p>
<p>Perlu dicatat, ada perbedaan mendasar antara akhlak dan moral. Akhlak adalah terminologi Islam dengan landasan niat dari Allah dan Rasul-Nya serta bernilai pahala di sisi-Nya. Sebaliknya, moral bersifat umum, yang dorongannya kadang-kadang dari humanisme yang belum tentu muncul dari perintah Allah dan Rasul-Nya. Sikap moral belum dapat menjamin akan mendapatkan pahala dari Allah dan Rasul-Nya bagi pelakunya.</p>
<p>Kecintaan kita kepada Rasulullah Saw juga harus kita wujudkan dalam cara berpakaian, makan, dan minum kita. Allah dan Rasul-Nya mewajibkan seorang Muslim dan Muslimah untuk berpakaian yang menutup aurat. Aurat bagi laki-laki adalah dari bawah lutut hingga atas pusarnya, sementara aurat seorang wanita adalah seluruh anggota tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya. Allah dan Rasul-Nya juga mewajibkan kaum Muslim untuk makan dan minum dari barang yang halal dan baik (thayyib), jika mereka memang mencintai Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Dalam berkeluarga, selayaknya seorang Muslim menjadikan Rasul sebagai contoh bapak rumah tangga yang baik. Seorang suami adalah pemimpin yang harus melindungi keluarganya dari sengatan api neraka. Sebagai seorang suami, Rasulullah adalah laki-laki yang sangat mencintai dan menyayangi istri-istrinya. Beliau telah menyatakan rasa kecintaan ini pada hadisnya:</p>
<p>Telah ditanamkan padaku rasa cinta kepada wanita, wewangian, serta dijadikan mataku sejuk terhadap shalat. [HR. an-Nasa’i].</p>
<p>Dalam kehidupan sosial, Rasulullah Saw juga wajib kita jadikan teladan. Rasul bukanlah tipe individualis yang hanya memikirkan dirinya sendiri; bukan pula manusia yang suka berdiam di rumah seraya memisahkan diri dengan masyarakat sekitar. Kondisi ini tidak selaras dengan misi beliau sebagai pembawa risalah bagi umat manusia. Beliau bergaul dengan masyarakat dari kalangan atas maupun bawah. Kondisi demikian bisa kita lihat dari kunjungan beliau kepada Ibn Anas bin Malik, juga Qais bin Saad bin Ubadah di rumahnya, lalu beliau bedoa untuk mereka. Beliau juga mengunjungi Rubayyi’ binti Muawwidz ketika Rubayyi’ menikah. Ragam kunjungan beliau ke berbagai lapisan masyarakat seharusnya menjadi teladan kita dalam bergaul di masyarakat.</p>
<p>Jangan lupa, Rasulullah Saw juga adalah seorang politikus dan negarawan ulung. Ketajaman analisis politik beliau terekam jelas dari bagaimana strategi perubahan masyarakat yang beliau jalankan. Beliau tidak bersedia menerima kekuasaan dari kalangan Quraisy, walaupun suku ini kuat dari sisi posisi politik dan militer, tetapi rapuh dari kekuatan ideologis. Beliau justru menempuh cara yang khas dengan menyatukan kelompok yang tadinya bercerai-berai, Aus dan Khajraz, dengan kekuatan keyakinan ideologi Islam. Kelompok kecil yang tadinya bercerai-berai ini mampu mengalahkan kekuatan Quraisy yang secara fisik lebih kuat. Strategi perubahan kekuasaan ini terbukti sangat canggih dan memiliki kekuatan ideologi yang optiomal.</p>
<p>Muhammad Syeit Khaththab, seorang jenderal dari Irak, dalam bukunya Ar-Rasûl al-Qâ’id (Rasulullah Saw sang panglima) menorehkan strategi peperangan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang panglima besar bukan hasil warisan atau keturunan. Beliau adalah panglima besar yang berawal dari seorang anak yatim. Suatu prestasi yang tidak pernah terwujud oleh panglima perang sepanjang sejarah.</p>
<p>Rasulullah saw. pada prinsipnya mempunyai dua keistimewaan dibandingkan para panglima perang yang lain di sepanjang zaman dan tempat. Pertama, beliau adalah seorang panglima ‘ishâmi’ (bersih dan terpelihara). Kedua, peperangan-peperangan yang dilakukannya adalah untuk membela dakwah Islam, melindungi kebebasan penyebaran Islam, serta mengokohkan sendi-sendi perdamaian; bukan bermotif permusuhan atau merampas dan menjajah.</p>
<p>Fase perjuangan jenderal agung ini dimulai dari fase konsolidasi, fase mempertahankan akidah, fase ofensif, dan fase stabilisasi. Dengan perkembangan yang sangat logis ini, meningkatlah secara berangsur-angsur posisi panglima ‘ishâmi’ ini dengan kekuatan pendukungnnya dari posisi lemah menjadi kuat; dari posisi defensif menjadi ofensif; kemudian melakukan penyerbuan. Dengan posisi yang amat gemilang itu, Rasulullah Saw mengalahkan semua kehebatan panglima di sepanjang periode sejarah, karena ia berhasil melahirkan suatu kekuatan besar yang memiliki akidah dan tujuan yang satu, dari sesuatu yang tidak terwujud sebelumnya.</p>
<p>Rasulullah Saw juga adalah seorang hakim (qâdhî) yang adil dalam berbagai keputusan pengadilan. Ketika beliau melakukan ‘sidak’ ke pasar, beliau melihat pelaku pasar melakukan kecurangan, yakni dengan meletakkan barang basah di bawah, di atasnya barang yang baik dan kering untuk memberatkan timbangan. Ini tentu akan merugikan konsumen. Kemudian Rasul memasukkan tangannya untuk mengecek kecurangan ini, lalu beliau bersabda (yang artinya), “Bukan tergolong ummatku orang yang melakukan penipuan terhadap kami.”</p>
<p>Keadilan beliau juga jelas pada khutbah beliau (yang artinya), “Siapa yang pernah hartanya aku ambil, inilah hartaku, maka ambillah. Siapa yang punggungnya pernah aku cambuk, maka sekarang cambuklah punggungku atau qishâsh-lah.”</p>
<p>Sebagai seorang ekonom, beliau bisa kita contoh dari sisi mikro maupun makro. Rasulullah Saw menjadi orang terpercaya di Makkah. Meskipun orang Makkah memusuhi beliau sebagai rasul, secara pribadi keamanahan beliau diakui. Beliau adalah tempat menyimpan wadiah (titipan). Pondasi ekonomi secara mikro adalah kepercayaan. Ketika hijrah, titipan dikembalikan semua. Secara makro, sistem ekonomi yang beliau bangun adalah sistem ekonomi yang memberikan kemakmuran real secara individual, bukan kemakmuran semu seperti yang ada pada sistem kapitalis.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Cara mencintai dan mengagungkan Rasulullah Saw adalah dengan meneladani Rasulullah Saw secara total, tidak boleh secara parsial. Satu-satunya cara untuk mewujudkan tujuan agung di atas adalah dengan melangsungkan kembali kehidupan Islam secara total di bumi ini. Wallâhu a’lam. [Majalah al-wa’ie, Edisi 56]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=9&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/metode-mencintai-nabi-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>