<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>HAYATUL ISLAM &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://hayatulislam.wordpress.com/category/hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hayatulislam.wordpress.com</link>
	<description>Menuju Kehidupan Islam Kaffah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Sep 2008 04:14:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hayatulislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e7af747d3eb9bbbe9e0a6f2e53671335?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>HAYATUL ISLAM &#187; Hikmah</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hayatulislam.wordpress.com/osd.xml" title="HAYATUL ISLAM" />
		<item>
		<title>Menghargai Allah</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/menghargai-allah/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/menghargai-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 04:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/menghargai-allah/</guid>
		<description><![CDATA[ O. Solihin
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa sebagian dari para sahabat Rasul ketika turun ayat: “Bagi Allah kekuasaan langit dan bumi, apabila kamu keluarkan isi hatimu atau tetap kamu sembunyikan akan diperhitungkan oleh Allah.” Ternyata para sahabat sempat mengeluh kepada Rasulullah Saw bahwa mereka tidak lagi bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=51&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> O. Solihin</p>
<p>Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa sebagian dari para sahabat Rasul ketika turun ayat: “Bagi Allah kekuasaan langit dan bumi, apabila kamu keluarkan isi hatimu atau tetap kamu sembunyikan akan diperhitungkan oleh Allah.” <span id="more-51"></span>Ternyata para sahabat sempat mengeluh kepada Rasulullah Saw bahwa mereka tidak lagi bisa melaksanakan apa yang diperintahkan Allah karena mereka sudah merasa begitu banyak melakukan amal kebaikan. Mendengar keluhan sebagian sahabatnya itu Rasulullah lalu menjelaskan bahwa perilaku tersebut tidak layak dilakukan oleh seorang Muslim. Seharusnya bila Allah memerintahkan sesuatu kaum Muslimin harus mengatakan, “Kami mendengar dan mentaati” bukan malah melaksanakan pembangkangan.” (Terjemah Riadhus Shalihin, jld. I, hal. 178-179). Inilah cara bagaimana kita menghargai Allah.</p>
<p>Menghargai kadang kala menjadi sesuatu yang berat. Mudah diucapkan tetapi sulit dalam prakteknya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita kadang begitu sulit menghargai orang lain. Padahal orang lain pun sama seperti kita. Mereka, sebagai manusia normal tentu saja membutuhkan perhatian, penghargaan dan juga kecintaan. Keberadaannya di dalam kehidupan tidak ingin hanya dianggap bilangan saja, tetapi juga diperhitungkan. Inilah perwujudan dari naluri mempertahankan diri (gharizah al baqa).</p>
<p>Ketika kita harus berusaha untuk menghargai seseorang, maka saat itulah kita harus bisa menjadi orang yang mampu memberikan segalanya. Ketika menghargai orangtua kita, tentu saja kita harus bisa menjadikan mereka senang dan mengikuti segala titahnya. Mengikuti perintahnya, ini adalah perwujudan dari menghargai orangtua kita. Maka, alangkah indahnya bila ternyata kita pun bisa dan terbiasa menghargai Allah sebagai Pencipta alam, manusia dan kehidupan ini. Menjadikan Allah sebagai dzat yang wajib disembah, jelas merupakan suatu ungkapan rasa syukur kita kepada-Nya sebagai seorang hamba. Dan tentu saja ini adalah sebuah penghargaan yang besar kepada Allah.</p>
<p>Dengan demikian, bila kita telah menyatakan ingin menghargai Allah, maka kita harus memposisikan diri sebagai seorang yang mampu melaksanakan segala perintah-Nya. Karena dengan melaksanakan keinginan dan perintah dan juga menghindari larangan-Nya, kita sudah menghargai Allah. Bila tidak, tentu saja kita tak menghargai Allah. Firman Allah:</p>
<p>“Sesungguhnya sambutan orang mukmin apabila diajak kepada Allah dan Rasulullah untuk menghukumi antara mereka, ialah berkata: ‘Kami mendengar dan taat’. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nûr [24]: 51).</p>
<p>Mendengar dan mentaati segala seruannya adalah wujud dari penghargaan yang besar kepada Allah.</p>
<p>Namun, amat disayangkan bahwa kondisi kaum Muslimin saat ini jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka lebih memilih tidak menghargai Allah. Betapa banyak dari kaum Muslimin yang tidak memperhatikan larangan-larangan-Nya. Budaya menenggak minuman keras, berjudi, kehidupan seks bebas, narkotika, maraknya pornografi dan bentuk kemaksiatan lainnya adalah wujud pembangkangan sebagian kaum Muslimin kepada Allah. Tentu saja dalam hal sebagian kaum muslimin —tentu yang melakukan kemaksiatan— sudah tidak menghargai lagi Allah sebagai Pencipta dan dzat yang wajib disembah.</p>
<p>Ya, sering kali kita egois dan merasa ingin dihargai orang lain. Namun kita juga sering lupa kalau harus menghargai orang lain. Kata pepatah, bila kita ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Jadi, sesama manusia saja kita harus saling menghargai, apalagi kepada Allah? Wallahu’alam bish showab.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=51&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/menghargai-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasulullah Saw Di Mata Umat Islam</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/rasulullah-saw-di-mata-umat-islam/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/rasulullah-saw-di-mata-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 04:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/rasulullah-saw-di-mata-umat-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Farid Wadjdi
Bagi kaum Muslim, Rasulullah Saw jelas menempati tempat yang sangat istimewa. Betapa tidak, Rasulullah Saw telah menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya dengan membawa risalah Islam dari Allah SWT. Dengan risalah yang diperjuangkan, diemban, dan diterapkan oleh Rasululllah Saw, Islam hadir di tengah-tengah manusia.
Rasulullah Saw adalah pemimpin segala bidang. Ia pemimpin umat di masjid, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=50&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Farid Wadjdi</p>
<p>Bagi kaum Muslim, Rasulullah Saw jelas menempati tempat yang sangat istimewa. Betapa tidak, Rasulullah Saw telah menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya dengan membawa risalah Islam dari Allah SWT. Dengan risalah yang diperjuangkan, diemban, dan diterapkan oleh Rasululllah Saw, Islam hadir di tengah-tengah manusia.<span id="more-50"></span></p>
<p>Rasulullah Saw adalah pemimpin segala bidang. Ia pemimpin umat di masjid, di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. Ia tampak seperti psikolog yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi beradab. Ia juga seorang politikus yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas peribadahannya telah mengantarkan jiwa pengikutnya ke alam kelezatan samawiyah dan keindahan suasana ilahiah.</p>
<p>Bahkan sahabat sendiri sulit menceritakan bagaimana kemuliaan sosok Rasulullah Saw. Saat seorang Yahudi datang menemui Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah, Umar tidak mampu menjawabnya dan menyuruh Yahudi itu menemui Bilal ra. Bilal pun sama. Dia menyuruh Yahudi itu mendatangi Ali bin Abi Thalib yang sejak kecil sudah mengenal Rasulullah Saw, bahkan ia sering tidur bersama beliau. Ali malah balik bertanya kepada Yahudi itu, “Lukiskanlah keindahan dunia ini, akan aku gambarkan kepadamu akhlak Nabi Muhammad Saw.”</p>
<p>Laki-laki itu menyatakan, ia tidak sanggup. Ali pun menukas, “Kamu tidak mampu melukiskan keindahan dunia ini, padahal Allah SWT telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ini ketika Dia berkata: Katakanlah: keindahan dunia ini kecil. (Qs. an-Nisa’ [4]: 77).”</p>
<p>Artinya, menggambarkan keindahan dunia yang sebenarnya kecil ini saja sulit, apalagi menggambarkan keluhuran dan kemuliaan Rasulullah Saw.</p>
<p>Para penulis non-Muslim pun —lepas dari bagaimana sikap mereka kepada Rasulullah Saw— mengakui kebesaran Rasulullah Saw “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi sampai Granada,” tulis Thomas Carlyle dalam On Heros and Hero Workship. Bahkan, Michael Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia, menempatkan Muhammad sebagai urutan yang pertama. “Dia adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus atau siapa pun di dunia ini,” tulisnya.</p>
<p>Berbagai cara kemudian ditunjukkan oleh umat Islam sebagai ekspresi kecintaannya kepada Rasulullah Saw. Di masyarakat kita berkembang acara muludan untuk memperingati kelahiran Rasulullah Saw. Ada pula acara pembacaan barzanji yang berisi kisah-kisah Rasulullah Saw. Lagu-lagu shalawat Rasul yang berisi puji-pujian kepada beliau pernah sangat digemari. Wujud kecintaan kepada Rasulullah Saw pun ditunjukkan dengan upaya meniru akhlak beliau. Semua itu sebagian besar karena didorong oleh kecintaan kepada Rasulullah Saw.</p>
<p>Namun, tidak jarang pula cara menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah Saw ditunjukkan dengan cara keliru yang justru bertentangan dengan ajaran beliau sendiri. Di beberapa daerah, misalnya, acara muludan diisi dengan ritual-ritual khusus yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw, bahkan bisa jatuh pada kemusyrikan; misalnya memandikan benda-benda yang dianggap keramat, yang diklaim merupakan kepunyaan wali.</p>
<p>Padahal ibadah-ibadah ritual dalam Islam haruslah merujuk pada apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebab, ibadah adalah hubungan khusus manusia dengan Allah SWT, manusia tidak bisa mereka-reka (menduga-duga) bagaimana tatacara berhubungan dengan Allah SWT tersebut. Ibadah tentu saja tidak hanya semata-mata mengikuti perasaan spiritual belaka, tetapi juga harus mengikuti bagaimana tatacara yang diperintahkan Allah SWT. Saat Allah SWT memerintahkan shalat, Dia juga —melalui Rasul-Nya— menyuruh kita melaksanakannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Upaya mengarang-ngarang tatacara ibadah inilah yang justru bisa menjebak kaum Muslim pada perbuatan bid’ah, takhayul, dan khurafat.</p>
<p>Demikian pula halnya dengan meniru Rasulullah Saw hanya pada satu aspek saja, misalnya akhlaknya saja, tentunya tidak sempurna. Sebab, kita tahu, Rasulullah Saw haruslah ditiru secara total, bukan hanya pada aspek individual atau ritualnya saja.</p>
<p>Akibat Sikap yang Keliru</p>
<p>Sadar atau tidak, menyikapi Rasulullah Saw secara keliru dan tidak sempurna di atas telah memberikan pengaruh yang buruk atas kaum Muslim. Bid’ah, takhayul, dan khurafat, selain diharamkan secara tegas oleh Allah SWT, sedikit-banyak telah menjadi faktor kejumudan dan kemunduran berpikir umat. Ibadah ritual yang tidak bersandarkan pada hukum syariat sering membuat manusia terjerumus pada sifat berlebih-lebihan, seperti sifat mengkultuskan. Padahal Rasulullah Saw sendiri mencela sifat pengkultusan ini, bahkan terhadap beliau sekalipun. Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadisnya:</p>
<p>Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama. Sesungguhnya yang telah membinasakan bangsa-bangsa lain sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam urusan agama. [HR. Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah].</p>
<p>Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan putra Maryam (Isa as.). [HR. Bukhari dan Ahmad].</p>
<p>Sikap berlebih-lebihan dan kultus ini pula yang membuat pemeluk agama Nasrani menyimpang hingga menjadikan pendeta dan pemuka agama menjadi tuhan baru, di samping Allah SWT. Mereka patuh demikian saja kepada pemuka agama mereka yang telah menjadikan yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Mereka membiarkan manusia membuat hukum yang sesungguhnya hanya hak Allah SWT. Hal ini disinggung oleh Allah SWT dalam firman-Nya:</p>
<p>Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (Qs. at-Taubah [9]: 31).</p>
<p>Memandulkan Islam</p>
<p>Di samping itu, meneladani Rasulullah Saw secara parsial seperti dalam aspek individualnya saja juga berpengaruh buruk pada tubuh umat. Ajaran Islam pun kemudian seakan-akan hanya meliputi aspek individual seperti shalat, puasa, dan akhlak. Akibatnya, Islam tidak fungsional (mandul) untuk memecahkan persoalan kehidupan. Islam pun seakan-akan tidak mampu berperan menyelesaikan kemiskinan, kebodohan, penjajahan, kriminalitas, dll.</p>
<p>Karena Islam hanya dipahami sebatas ibadah ritual, maka ibadah ritual itu pun dipaksa untuk dijadikan solusi untuk memecahkan persoalan kehidupan manusia. Ibadah ritual tidak lagi dianggap sebagai ketaatan murni untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi untuk menyelesaikan persoalan manusia. Kalau mau kaya, naik pangkat, punya pengaruh, lakukanlah shalat ini dan itu, atau baca doa ini dan itu. Pergi ke kuburan bukan lagi untuk berziarah, tetapi lebih didorong untuk meraih keuntungan materi. Kaum Muslim pun mencukupkan diri dengan doa untuk menyelesaikan kemiskinan, kriminalitas, dan persoalan kehidupan lainnya. Padahal doa itu bukan tharîqah (metode) untuk menyelesaikan perkara itu. Doa hanyalah ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:</p>
<p>Doa adalah intinya ibadah. [HR. at-Tirmidzi].</p>
<p>Rasulullah Saw sendiri telah mencontohkan, beliau demikian sering berdoa secara khusyuk dan sungguh-sungguh, tetapi beliau tetap tidak meninggalkan hukum kausalitas (sebab-akibat) untuk menyelesaikan persoalan manusia. Untuk bisa menang dalam Perang Badar, Rasulullah saw. demikian serius mempersiapkan strategi perang, meminta pendapat Hubab bin al-Mundzir tentang strategi yang terbaik, mengatur pasukan dan mempersiapkan persenjataan yang terbaik. Kemudian setelah itu beliau masuk ke bangsalnya seraya meminta pertolongan kepada Allah. Saat itu beliau banyak sekali berdoa hingga Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sebagian doamu ini telah cukup.”</p>
<p>Untuk mempertahankan Madinah dari serangan musuh, Rasullullah bersama kaum Muslim bekerja keras membangun parit (khandak). Dalam enam hari Rasulullah Saw turun langsung, bercucuran keringat, dan bekerja keras; tidak hanya berdoa.</p>
<p>Saat beliau hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, Rasulullah senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan. Akan tetapi, Rasulullah tetap tidak meninggalkan tharîqah (metode) dengan memenuhi sebab-sebab yang mungkin beliau lakukan agar beliau selamat. Untuk itu, beliau menyuruh Ali bin Thalib ra. tidur pada tempat tidurnya.</p>
<p>Untuk menyelesaikan persoalan kriminalitas di tengah-tengah masyarakat Rasulullah Saw juga tidak menyandarkan pada doa atau ibadah, apalagi pada seruan moralitas atau akhlak belaka. Rasulullah Saw memberlakukan sanksi hukum yang tegas atas pelakunya. Rasulullah Saw menghukum orang-orang Yahudi yang telah membunuh seorang laki-laki yang membela seorang wanita Muslimah di pasar Madinah. Ghamidiyah dan Maiz dihukum rajam sampai mati oleh Rasulullah Saw saat mereka mengaku sendiri telah berzina.</p>
<p>Memalingkan Umat, Mengokohkan Sekularisme</p>
<p>Sadar atau tidak, salah kaprah dalam mencintai Rasulullah saw. dan mengikutinya hanya pada satu aspek saja telah mengokohkan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) di Dunia Islam. Sebab, hal tersebut telah membuat hukum-hukum Allah SWT yang lain terabaikan. Tidak sedikit kaum Muslim yang merasa cukup kalau dia telah menunaikan shalat atau ibadah haji. Sebaliknya, mereka menolak saat diajak untuk menerapkan Islam dalam perekonomian atau politik; seakan-akan politik dan ekonomi luput dari perhatian dan pengaturan Islam.</p>
<p>Implikasi dari pengokohohan sekularisme ini adalah semakin lestarinya penjajahan atas kaum Muslim. Karena tidak mengerti atau menolak syariat Islam di bidang politik, tidak sedikit kaum Muslim yang lebih memilih demokrasi dan memujinya sebagai ide yang paling baik (ideal) untuk manusia. Bukankah AS menyerang Irak, Iran, Syiria, dan Afganistan dengan alasan demokrasi ini. Bukankah pula Timor-Timur lepas dari Indonesia akibat melaksanakan prinsip penting demokrasi, ‘kebebasan menentukan nasib sendiri’.</p>
<p>Karena menolak syariat Islam dalam bidang ekonomi, jadilah ekonomi negeri Islam diatur berdasarkan prinsip dan aturan ekonomi kapitalis. Semua ini kemudian berujung pada eksploitasi kekayaan negeri-negeri Islam untuk kepentingan penjajah Barat.</p>
<p>Sekularisme ini pulalah yang menghilangkan dakwah dan jihad dalam kebijakan luar negeri dari negeri-negeri Islam. Mandulnya dakwah dan jihad ini jelas memandulkan Islam. Jadilah negeri-negeri Islam demikian gampang dicaplok oleh penjajah kufur kapitalis yang rakus tanpa ada perlawanan yang seimbang dari kaum Muslim.</p>
<p>Sadar atau tidak, sikap yang keliru dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya juga telah menyebabkan kaum Muslim dilalaikan dari persoalan utama hidup mereka, yakni menegakkan syariat Islam yang merupakan tuntutan akidah dan Khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Umat Islam lebih disibukkan oleh rutinitas ritual yang ironisnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Mencintai dan meneladani Rasul sebatas aspek-aspek ritual, moral, dan personal semata adalah belum lengkap. Rasul harus diteladani secara total dan diposisikan sebagai pribadi, kepala keluarga, kepala negara, politikus, qadhi, panglima militer, dan lain-lain. Memuliakan Rasulullah Saw adalah dengan berpegang teguh pada semua ajaran yang dibawakannya. Allah SWT berfirman:</p>
<p>Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. (QS Ali Imran [3]: 103).</p>
<p>Tali Allah pada ayat ini adalah Dinul Islam. [Majalah al-wa'ie, Edisi 56]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=50&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/rasulullah-saw-di-mata-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca al-Qur’an</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/membaca-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/membaca-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2007 04:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/membaca-al-qur%e2%80%99an/</guid>
		<description><![CDATA[ O. Solihin
Pada bulan suci nan mulia ini, ada peristiwa penting bagi kaum muslimin, yakni peristiwa nuzulul quran atau turunnya al-Qur’an. Bahkan mengingat pentingnya peristiwa turunnya al-Qur’an ini, sebagian besar kaum muslimin selalu memperingatinya dalam berbagai acara, dengan tujuan untuk memahami hakikat diturunkannya al-Qur’an. Sebab, di dalam al-Qur’an terkandung berbagai macam hikmah untuk menuntun kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=49&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> O. Solihin</p>
<p>Pada bulan suci nan mulia ini, ada peristiwa penting bagi kaum muslimin, yakni peristiwa nuzulul quran atau turunnya al-Qur’an. Bahkan mengingat pentingnya peristiwa turunnya al-Qur’an ini, sebagian besar kaum muslimin selalu memperingatinya dalam berbagai acara, dengan tujuan untuk memahami hakikat diturunkannya al-Qur’an. Sebab, di dalam al-Qur’an terkandung berbagai macam hikmah untuk menuntun kita dalam kehidupan di dunia ini.<span id="more-49"></span></p>
<p>Mungkin di antara kita banyak yang kesulitan mendapat kesempatan untuk membaca, mengkaji, mendalami, dan memahami al-Qur’an di luar bulan Ramadhan. Maka, alangkah baiknya, bila pada bulan yang mulia ini, kita bisa menyempatkan diri untuk membaca dan mengkaji al-Qur’an yang mulia ini.</p>
<p>Menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an termasuk ibadah yang paling utama. Sebab al-Qur’an adalah kalamullah dan merupakan pedoman hidup manusia secara integral, yang dengan kesempurnaannya akan mampu mengatasi seluruh problematika umat manusia dari berbagai aspek kehidupan. Bahkan al-Qur’an juga merupakan satu-satunya asas Islam yang harus menjadi standar dari semua aktivitas kaum muslimin. Dalam salah satu kesempatan Rasulullah Saw pernah berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffary agar senantiasa membaca al-Qur’an, beliau bersabda:</p>
<p><em>“Hendaklah engkau membaca al-Qur’an, karena itu akan menjadi cahaya bagimu di bumi dan tabungan bagimu di langit.”</em> <strong>[HR. Ibnu Hibban].</strong></p>
<p>Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah menceritakan satu kisah: “Rasulullah Saw pernah memberangkatkan satu pasukan untuk menyerang musuh. Beliau meminta mereka untuk membekali diri dengan bacaan al-Qur’an. Maka beliau meminta kepada seluruh anggota pasukan tersebut untuk membacakan apa yang dihafalnya. Tiba-tiba beliau menghampiri salah seorang di antara mereka yang paling muda usianya seraya berkata: ‘Apa saja yang kamu hafal, hai fulan?’ ‘Saya hafal surat ini, surat itu dan surat al-Baqarah’, jawabnya. ‘Kamu hafal surat al-Baqarah?’ Rasulullah Saw bertanya lagi. Anak muda itu berkata: ‘Benar’. Rasulullah Saw pun bersabda:</p>
<p>“Berangkatlah dan kamu yang menjadi pemimpin mereka.”</p>
<p>Semoga saja, kita bisa memanfaatkan bulan Ramadhan ini dengan berbagai ativitas mulia. Salah satunya adalah dengan memperbanyak membaca dan mengkaji al-Qur’an. Wallahu’alam bishhowwab.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=49&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/membaca-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman Dan Istiqomah</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/iman-dan-istiqomah/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/iman-dan-istiqomah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2007 06:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/iman-dan-istiqomah/</guid>
		<description><![CDATA[ O. Solihin
“Dari Abi Amr, dinamakan juga Amrah bin Sufyan bin Abdillah r.a. ia berkata: Saya telah berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang saya tidak akan bertanya tentang itu kepada orang lain, selaian Engkau!” maka beliau Saw bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah; dan istiqomahlah (konsisten).” [HR Muslim].
Istiqomah berarti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=46&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> O. Solihin<br />
“Dari Abi Amr, dinamakan juga Amrah bin Sufyan bin Abdillah r.a. ia berkata: Saya telah berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang saya tidak akan bertanya tentang itu kepada orang lain, selaian Engkau!” maka beliau Saw bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah; dan istiqomahlah (konsisten).” [HR Muslim].<span id="more-46"></span></p>
<p>Istiqomah berarti berpegang kepada agama dengan kuat, berjalan di atas jalan sesuai petunjuk Allah dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan. Firman Allah:</p>
<p><em>“Maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu.”</em> <strong>(Qs. Hûd [11]: 112).</strong></p>
<p>Dalam al-Quran kata iman selalu dirangkai dengan amal sholeh, ini membuktikan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan belaka yang tak pernah ada realisasinya dalam kehidupan. Konsekuensi logis dari ucapan keyakinan itu adalah melakukan perbuatan benar dan baik, sesuai dengan penilaian dalam aturan dari Allah SWT. Dengan begitu, tak bisa distandarkan kepada hati atau akal manusia. Amal sholeh yang kita lakukan adalah sebagai perwujudan dari keimanan kita kepada Allah SWT. Di sinilah kemudian kita membutuhkan sikap istiqomah. Dan sesuai dengan pengertiannya, istiqomah ini adalah sikap tegas dan senantiasa bertanggungjawab atas tindakan yang kita lakukan.</p>
<p>Adakalanya sikap istiqomah ini harus berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bakal menimpa kita. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, cemoohan kerap melekat kepada orang yang berani tampil istiqomah dalam agamanya, justru di saat masyarakatnya terbiasa berbuat maksiat. Bahkan sangat ditekankan untuk tetap berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam dalam masyarakat yang begitu berani berbuat dosa, yakni melakukan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Firman Allah:<br />
<em><br />
“Jangan kalian takut (khawatir) dan janganlah resah (sedih) dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.”</em> <strong>(Qs. Fushshilat [41]: 30).</strong></p>
<p>Itulah janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beristiqomah dalam melaksanakan segala perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallahu ‘alam bishowab.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=46&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/iman-dan-istiqomah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meminta Jabatan</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/meminta-jabatan/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/meminta-jabatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2007 06:25:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/meminta-jabatan/</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata:
“Demi Allah, sungguh aku ingin sekali bila jarak antara kami dengan urusan pemerintahan itu melebihi jarak dua kutub Timur dan Barat.” Adalah sebuah perkataan mulia yang juga merupakan nasihat kepada kita tentang bagaimana menyikapi aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan terhadap umat, yakni urusan pemerintahan. Ternyata beliau begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=45&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>O. Solihin</p>
<p>Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata:<br />
“Demi Allah, sungguh aku ingin sekali bila jarak antara kami dengan urusan pemerintahan itu melebihi jarak dua kutub Timur dan Barat.” Adalah sebuah perkataan mulia yang juga merupakan nasihat kepada kita tentang bagaimana menyikapi aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan terhadap umat, yakni urusan pemerintahan.<span id="more-45"></span> Ternyata beliau begitu menginginkan agar sebisa mungkin jabatan untuk mengurusi kepentingan umat itu menjauh darinya. Karena beban yang harus dipikulnya teramat berat dan harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah di akhirat nanti.</p>
<p>Pernyataan yang seperti ini jarang ditemukan dalam aktivitas politik kita. Justeru sebaliknya, banyak yang menginginkan jabatan di pemerintahan. Entah itu menjadi anggota dewan legislatif, menteri atau yang paling prestisius, yakni sebagai presiden. Sudah banyak pernyataan yang dilontarkan oleh beberapa tokoh politik kita, yang menginginkan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Keinginan menjadi presiden sudah sangat lumrah dilontarkan oleh beberapa tokoh politik. Hal yang dulu sangat ditabukan itu telah menjadi pernyataan yang biasa di era reformasi. Terlepas dari apakah itu murni keinginannya atau ada yang mendorongnya, barangkali ada baiknya merenungkan kembali sabda Rasulullah Saw yang menasihati kita berkaitan dengan urusan pemerintahan ini. Dari Abu Musa r.a. berkata: ‘Aku dan dua orang lelaki dari anak cucu pamanku masuk ke tempat Nabi Saw.’ Lalu salah seorang dari lelaki tersebut berkata: ‘Ya Rasulullah, angkatlah kami sebagai pengurus untuk mengurusi sebagian apa yang Allah serahkan pengurusannya itu kepadamu.’ Dan yang seorang lagi juga mengatakan seperti itu. Maka jawab Rasulullah Saw: ‘Demi Allah, sungguh kami tidak akan menyerahkan kepengurusan atas pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya, atau kepada seseorang yang sangat menginginkannya (ambisi)’.” [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].</p>
<p>‘Pernyataan’ Rasul tersebut bukan berarti bahwa beliau tidak ingin jabatannya direbut oleh orang lain. Juga bukan berarti tidak percaya kepada orang tersebut. Namun, Rasul juga punya alasan yang juga disampaikannya dalam sabdanya:</p>
<p><em>“Barangsiapa meminta jabatan pengurus kaum muslimin hingga dapat, kemudian keadilannya mengalahkan kedzalimannya, maka ia akan masuk surga, dan siapa yang kedzalimannya mengalahkan keadilannya, maka dia akan masuk neraka.”</em><strong> [HR. Abu Dawud].</strong></p>
<p>Jadi, harus hati-hati. Jangan hanya menuruti hawa nafsu semata.</p>
<p>Juga urusan meminta jabatan ini bukan hal yang sembarangan. Karena masalah pengurusan umat (rakyat) ini adalah masalah yang berat, maka selain harus diemban oleh orang-orang yang sholeh dan ikhlash tapi sekaligus kapabel. “Dan dari Abu Dzar, ia berkata: ‘Aku bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah engkau tidak mau mengangkat aku sebagai amil (pegawai)? Katanya selanjutnya: Kemudian beliau menepuk pundakku seraya bersabda: ‘[i]Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah, sedang kekuasaan itu adalah suatu amanat, dan sesungguhnya dia (kekuasaan) itu kelak di akhirat akan merupakan kerugian dan penyesalan, kecuali orang yang mendapatkannya itu dengan hak dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya’.” [HR. Ahmad dan Muslim dalam tarjamah kitab Nailul Authar, jld. 6, hal. 3187].</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=45&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/meminta-jabatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasa Takut</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/rasa-takut/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/rasa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2007 06:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/rasa-takut/</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Diriwayatkan dalam hadits Bukhari tentang peristiwa penting dalam hijrahnya Rasul bersama Abu Bakar r.a. Ketika Rasul bersama Abu Bakar r.a. sampai di suatu tempat dan berlindung di sebuah gua, Abu Bakar ketakutan, khawatir bila orang-orang Quraisy memergoki tempat persembunyian mereka. Abu Bakar berkata: “Ya Rasulullah, sekiranya ada salah seorang melihat ke bawah, maka akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=44&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>O. Solihin</p>
<p>Diriwayatkan dalam hadits Bukhari tentang peristiwa penting dalam hijrahnya Rasul bersama Abu Bakar r.a. Ketika Rasul bersama Abu Bakar r.a. sampai di suatu tempat dan berlindung di sebuah gua, Abu Bakar ketakutan, khawatir bila orang-orang Quraisy memergoki tempat persembunyian mereka. Abu Bakar berkata: “Ya Rasulullah, sekiranya ada salah seorang melihat ke bawah, maka akan melihat kita.” Maka Nabi menjawab: “Diam ya Abu Bakar, kita berdua dan Allah ketiganya.”<span id="more-44"></span></p>
<p>Rasa takut adalah penampakan dari gharizah al-baqa’ atau naluri mempertahankan diri. Setiap manusia pasti memiliki naluri ini. Jangankan manusia, hewan sekalipun memiliki naluri mempertahankan diri ini. Seringkali kita menyaksikan, seorang pemburu harus bercapek-capek mengejar buruannya. Kalau tidak punya naluri mempertahankan diri, hewan buruan itu tak akan lari melihat gelagat yang bakal membahayakan dirinya.</p>
<p>Hanya saja, kadang kala rasa takut kita itu salah alamat alias bukan pada tempatnya. Misalnya, kita takut kepada hal-hal yang sebenarnya di luar jangkauan logika kita; takut kepada hantu, takut bila posisi jabatannya bakal ada yang merebut, takut kepada hal-hal yang ditabukan yang tak pernah ada dasarnya sama sekali dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Allah sudah mewanti-wanti bahwa rasa takut itu hanya kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>“Janganlah takut pada mereka, tapi takutlah kepada-Ku, jika kalian orang-orang yang beriman.”</em> <strong>(Qs. Ali-Imran [3]: 175).</strong></p>
<p>Jadi, rasa takut itu hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Kepada manusia, misalnya, kita tak perlu memiliki rasa takut. Dikisahkan, suatu ketika salah seorang murid Imam Al Izzu’ bin Abdus Salam bertanya kepada gurunya setelah beliau mengkritik seorang penguasa yang melakukan kesalahan. “Apakah engkau tidak takut padanya?” “Demi Allah wahai anakku,” jawab Imam Al Izzu’ bin Abdus Salam, “Sesungguhnya aku telah menghadirkan kehebatan Allah ta’ala, maka seketika penguasa itu tampak di hadapanku seperti seekor kucing.” (Taqarrub ilallah, hal. 46).</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang tatkala disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka dan jika dibacakan pada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan dan kepada Rabb mereka bertawakkal.”</em> <strong>(Qs. al-Anfâl [8]: 2).</strong></p>
<p>Bayangkan, hanya disebut nama Allah hati mereka bergetar tak karuan, karena takut. Begitu pun ketika dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, keimanannya akan semakin bertambah dengan meyakini ayat-ayat tersebut. Suatu ketika Rasulullah Saw memberitakan kepada para sahabatnya bahwa kalau saja neraka itu bocor sebesar lubang jarum saja, maka api yang dikeluarkannya bakal melumat dunia dan seluruh isinya. Mendengar itu para sahabat terdiam dan menangis membayangkan dahsyatnya api neraka itu.</p>
<p>Yang memprihatinkan, sebagian dari kita malah bangga dengan dosa-dosa. Korupsi, kolusi dan nepotisme, mendhalimi rakyat, melakukan pemaksaan kehendak, memicu kerusuhan, saling menghujat sudah akrab dengan kehidupan kita. Ternyata kita telah meremehkan dosa. Tak merasa sedikitpun takut bila di akhirat nanti kita bakal dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas setiap perbuatan kita di dunia ini. Walhasil, kita sudah tidak gentar lagi menantang Allah. Naudzubillah min dzalik.</p>
<p>Ketakutan-ketakuan itu semestinya senantiasa kita tumbuhkan dalam diri kita, dalam setiap doa kita kepada Allah senantiasa kita memohon keselamatan di dunia maupun di akhirat. Seorang ibu selalu berdoa agar anaknya terhindar dari petaka dunia dan akhirat. Terhindar dari segala keburukan dan memohon kebaikan. Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita, beliau selalu berdoa dalam setiap sholatnya: <em>“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kami berlindung kepada-Mu dari kefakiran.”</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=44&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/26/rasa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunaikan Amanah</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/22/menunaikan-amanah/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/22/menunaikan-amanah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 04:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/22/menunaikan-amanah/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: O. Solihin
Sering kali kita mengabaikan amanah yang telah dibebankan kepada kita. Amanah yang telah dibebankan Allah kepada kita termasuk seluruh bentuk amanah dalam kehidupan ini. Entah itu amanah tentang menjaga keluarga sampai amanah yang termasuk berat seperti mengurus pemerintahan dengan menerapkan aturan yang benar-benar adil bagi rakyat. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=40&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: O. Solihin</p>
<p>Sering kali kita mengabaikan amanah yang telah dibebankan kepada kita. Amanah yang telah dibebankan Allah kepada kita termasuk seluruh bentuk amanah dalam kehidupan ini. Entah itu amanah tentang menjaga keluarga sampai amanah yang termasuk berat seperti mengurus pemerintahan dengan menerapkan aturan yang benar-benar adil bagi rakyat. <span id="more-40"></span>Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. an-Nisaa’ [4]: 58).</p>
<p>Yang dimaksud dari ayat tersebut tentang menyampaikan amanah kepada ahlinya adalah serupa pengertiannya dengan memberikan tempat yang pas dan layak kepada ahlinya. Bila tidak, tentu saja akan menimbulkan berbagai masalah yang bisa mengancam keberlangsungan hidup ini. Berkaitan dengan hal ini, tentu saja kita tidak boleh memberikan keprcayaan untuk mengurus masjid kepada preman, misalnya. Karena bisa jadi seluruh asset masjid bisa terkuras tak karu-karuan. Dari masalah yang ‘sederhana’ ini tentu saja untuk mengurus masalah-masalah besar seperti pemerintahan diperlukan orang yang pas dan layak. Selain itu orang tersebut bisa dipercaya dan punya jaminan untuk menerapkan aturan-aturannya dengan adil berdasarkan amanah yang telah dibebankan Allah kepadanya. Dengan kata lain, kita tidak boleh memberikan kepercayaan penuh kepada orang yang tidak amanah alias tidak pas dan tidak layak untuk menduduki jabatan pemerintahan karena tak memiliki jaminan untuk bisa menunaikan amanah Allah dengan benar.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat, ada dua orang yang berselisih tentang air (irigasi). Orang tersebut adalah Zubair bin Al Awwam dengan salah seorang dari kaum Anshor. Perselisihan tersebut tak menemui penyelesaian, akhirnya keduanya sepakat menemui Nabi Saw dan menyampaikan permasalahannya. Setelah mendengar penuturan kedua orang ini lalu Nabi Saw memberikan keputusan bahwa air tersebut harus dialirkan terlebih dulu kepada Zubair bin Al Awwam. Tapi rupanya orang dari Anshor ini tidak puas, bahkan sempat menuduh bahwa Nabi nepotisme —karena kebetulan Zubair masih famili Nabi. Meski diprotes, Nabi Saw tetap pada keputusannya. Akhirnya orang dari Anshor ini menemui Abu Bakar Ash Shiddieq, ia ceritakan semua masalahnya. Dan pernyataan Abu Bakar r.a. justeru mendukung keputusan Nabi SAW. Masih juga tidak puas, ia kemudian menemui Umar bin Khaththab. Setelah ia bercerita, Umar bertanya: “Apakah itu keputusan Nabi?” Orang dari Anshor ini menjawab, “Ya”. Umar lalu pergi menuju kamarnya dan kembali dengan menghunus pedang, sesaat kemudian Umar menebas leher orang tersebut. Lalu turunlah ayat 65 surat an-Nisaa’ [4] “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) dalam perkara yang mereka perselisihkan.”</p>
<p>Dalam penjelasan asbabun nuzul ayat di atas Nabi telah menjalan amanah yang telah dibebankan kepadanya sebagai kepala negara pada waktu itu. Tentu saja keputusan tersebut adalah keputusan yang adil yang telah diputuskan Nabi Saw. Karena Allah telah menjamin ucapan Nabi adalah wahyu-Nya, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. an-Najm [53]: 3-4).</p>
<p>Dengan demikian adalah termasuk dosa besar bila kita tidak melaksanakan amanah tersebut dengan benar dan adil, termasuk dosa besar pula bila kita memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak ahli (layak) untuk menunaikan amanah tersebut. Wallahu’alam bi showab</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=40&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/22/menunaikan-amanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengelola Harta</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/mengelola-harta/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/mengelola-harta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 09:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/mengelola-harta/</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Sebagai manusia yang terlahir tanpa membawa modal kita patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai kenikmatan di dunia ini. Semua harta yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah. Dan alhamdulillah, Allah berkenan mengusahakan kepada kita untuk memilikinya dengan seizin-Nya. Firman Allah:
“Dialah Allah yang telah menciptakan apa saja yang ada di muka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=39&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>O. Solihin<br />
Sebagai manusia yang terlahir tanpa membawa modal kita patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai kenikmatan di dunia ini. Semua harta yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah. Dan alhamdulillah, Allah berkenan mengusahakan kepada kita untuk memilikinya dengan seizin-Nya.<span id="more-39"></span> Firman Allah:</p>
<p>“Dialah Allah yang telah menciptakan apa saja yang ada di muka bumi buat kalian semuanya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 29).</p>
<p>Perlu dipahami, bahwa kepemilikan manusia atas harta tersebut adalah sebatas izin-Nya. Dan Allah telah mengizinkan manusia untuk memiliki atau mendapatkan harta dari sebab-sebab yang dibolehkan (dihalalkan) oleh Allah SWT.</p>
<p>Dalam kitab Nizhamul Iqtishadiy fil Islam, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa sebab-sebab kepemilikan harta tersebut bisa melalui aktivitas bekerja; seperti menghidupkan tanah yang mati, menggali kandungan bumi, makelar (samsarah), berburu, mengelola harta orang dalam mudharabah, menyirami tanaman orang (musaqat), dan menjadi pekerja dalam tenaga kontrak (ijarah). Atau bisa juga melalui warisan, kemudian mendapatkan harta pemberian negara kepada rakyat, juga bisa didapat dari harta yang diperoleh seseorang tanpa mengeluarkan harta atau tenaga apapun, seperti hadiah/hibah atau mahar dan lain-lain.</p>
<p>Dengan demikian dalam masalah kepemilikan ini Islam melarang (mengharamkan) manusia dalam memiliki harta lewat mencuri, berjudi, merampok, menjarah, korupsi, riba dan yang sejenisnya. Manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas harta yang diperolehnya lewat jalan yang bathil.</p>
<p>Kemudian setelah manusia itu memiliki harta, maka adalah wajar bila ia ingin mengembangkan atau mengelola harta yang dimilikinya. Tentu saja, seperti halnya pemilikan yang harus didapat dari cara yang halal, maka pengembangan atau pengelolaan harta ini pun harus dengan cara yang halal pula, seperti jual-beli misalnya. Firman Allah Ta’ala:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan harta sesama kalian dengan jalan yang bathil, melainkan dengan jalan perdagangan yang berlaku suka sama suka di antara kalian.” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 29).</p>
<p>Dan, sebagai seorang muslim, tentu kita menginginkan agar harta yang dikelola tersebut benar-benar berkah. Karenanya adalah wajar bila kita menghindari pengembangan harta lewat riba, misalnya. Firman Allah Ta’ala:</p>
<p>“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan antara (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), ‘sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba’. Padahal Allah telah menghalalkan jula beli dan mengharamkan riba.” (Qs. al-Baqarah [2]: 275).</p>
<p>Mengembangkan harta lewat riba termasuk pengelolaan harta yang bathil, dan tentu saja tidak membawa keberkahan —meski hasil yang didapat tampak besar. Harta yang berkah itu tidak tergantung dari besar atau kecil jumlahnya, tetapi diridhoi atau tidak oleh Allah SWT. Dan Allah akan memberikan keberkahan kepada pemilik harta yang dikembangkan dengan cara-cara yang halal, meski hasil yang didapatnya jauh lebih kecil.</p>
<p>Dengan demikian, mulai sekarang kita mencoba untuk memiliki harta dan mengembangkan atau mengelola harta dengan cara yang halal yang telah diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Karena percuma saja kita memiliki harta yang banyak bahkan berlimpah-ruah, tapi didapat dari jalan yang haram dan dikembangkan dengan cara yang haram pula, nisacaya harta tersebut tidak akan berkah. Wallahu’alam bish showab</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=39&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/mengelola-harta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Janji</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/janji/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/janji/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 09:51:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/janji/</guid>
		<description><![CDATA[ O. Solihin
Saat ini, janji-janji begitu mudah diucapkan. Hampir seluruh parpol peserta pemilu seperti mengobral janji-janjinya saat kampanye. Beragam janji dilontarkan. Tentu adalah janji-janji manis dan terkesan memberikan kesenangan. Hanya saja, kadangkala kita menyaksikan, bahwa tak selamanya janji itu bisa diwujudkan. Karena urusan janji yang satu ini berkaitan erat dengan ambisi-ambisi yang ingin diraih. Sehingga, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=38&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> O. Solihin</p>
<p>Saat ini, janji-janji begitu mudah diucapkan. Hampir seluruh parpol peserta pemilu seperti mengobral janji-janjinya saat kampanye. Beragam janji dilontarkan. Tentu adalah janji-janji manis dan terkesan memberikan kesenangan. Hanya saja, kadangkala kita menyaksikan, bahwa tak selamanya janji itu bisa diwujudkan.<span id="more-38"></span> Karena urusan janji yang satu ini berkaitan erat dengan ambisi-ambisi yang ingin diraih. Sehingga, tak mustahil bila kemudian mudahnya mengucapkan janji semudah mengingkarinya. Entahlah, yang pasti fakta masa lalu menunjukkan bukti.</p>
<p>Dalam urusan janji ini, memang kita mesti hati-hati. Bila ada kemungkinan tidak bisa menepatinya, maka janganlah membuat janji. Dengan kata lain, jangan berani memberikan janji-janji yang sebenarnya punya potensi untuk tidak dapat memenuhinya.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 1).</p>
<p>Ini sebagai patokan bagi kita agar tak sembarangan memberikan harapan dan janji-janji bila potensi untuk tidak bisa memenuhinya tinggi. Jangan mudah mengumbar janji. Karena janji ini masuk dalam pembahasan mu’amalah, yang berkaitan dengan orang lain. Maka, sudah sepantasnya kita memenuhinya bila telah mengadakan ikatan perjanjian. Firman Allah:</p>
<p>“Sebenarnya, siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali-Imran [3]: 76).</p>
<p>Janji-janji yang menyenangkan memang enak didengar. Namun, kita juga harus menyadari bahwa tak selamanya janji itu manis. Apalagi kalau ternyata buktinya tak ada. Walhasil, janji-janji itu akhirnya hanya berupa omong kosong saja. Selain kita tidak memenuhi seruan Allah untuk menepati janji, sekaligus kita pun telah memberikan keburukan bagi orang lain. Bayangkan, saat kita dengan mudahnya mengucapkan janji-janji manis —ketika kampanye, misalnya— tapi kemudian setelah mendapatkan kekuasaan janji itu diinjak-injaknya sendiri dengan tidak menepatinya. Bukankah itu sebuah perbuatan tercela? Dan jelas selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Kita dicela oleh Allah Ta’ala juga kita dicaci dan dimaki orang.</p>
<p>Sikap hati-hati dalam memberikan harapan kepada orang lain adalah sikap bijaksana. Dan kita pun mesti hati-hati pula bila mendapatkan orang yang sepertinya mengumbar berbagai janji manis, apalagi hubungannya dengan masa kampanye sekarang yang tentu saja janji-janji itu sedikit banyaknya terpengaruh dengan kepentingan lain —untuk memperoleh suara mayoritas— misalnya. Tentu, tujuan akhirnya agar parpolnya menang dan berkuasa.</p>
<p>Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak sembarangan memberikan janji kepada orang lain. Rasul sering mengucapkan kalimat insya Allah bila beliau berjanji kepada para sahabatnya. Ucapan yang baik ini mengajarkan kepada kita untuk hati-hati, arti dari kalimat itu adalah “jika Allah menghendaki”. Ungkapan ini sekaligus memberikan kesan bahwa memang kita berusaha untuk bisa memenuhinya, tentu saja jika Allah menghendaki atau atas seijin Allah. Namun, pada saat kampanye ini kita kesulitan untuk membedakan mana janji yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya sekadar lipstik yang dibuat oleh para jurkam parpol peserta pemilu. Terlalu banyak kepentingan dari pernyataan janji-janji manis itu.</p>
<p>Jadi, janganlah kita mudah membuat janji bila akhirnya kita mudah pula mengingkarinya. Jangan sampai, karena hanya menginginkan suara mayoritas dari pemilih, lalu akhirnya kita memberikan harapan-harapan yang muluk-muluk, padahal belum tentu kita bisa memenuhinya. Allah mencela orang-orang yang membuat janji tapi tak menepatinya. Wallahu ‘alam bshowab</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=38&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/janji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesetiaan dan Kepasrahan</title>
		<link>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/kesetiaan-dan-kepasrahan/</link>
		<comments>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/kesetiaan-dan-kepasrahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 09:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anakislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/kesetiaan-dan-kepasrahan/</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Firman Allah SWT:
Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah).” (Qs. al-An’âm [6]: 162-163.
Rangkaian kata-kata tersebut sering kita ucapkan langsung kepada Allah dalam setiap sholat kita. sebagai bukti kesetian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=37&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>O. Solihin</p>
<p>Firman Allah SWT:<br />
Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah).” (Qs. al-An’âm [6]: 162-163.<span id="more-37"></span></p>
<p>Rangkaian kata-kata tersebut sering kita ucapkan langsung kepada Allah dalam setiap sholat kita. sebagai bukti kesetian dan kepasrahan diri kita seutuhnya kepada Allah. Setia dan rela hanya Allah lah Tuhan kita. Dengan begitu kita sudah menyatakan kepatuhan segalanya untuk Allah, sholat, ibadah, hidup, bahkan mati pun hanya untuk Allah semata. Betapa setianya kita setiap kali itu diucapkan dalam sholat. Kesetiaan yang sekaligus perwujudan kepasrahan kepada Allah. Hanya Allah lah yang berhak mengatur kita, hanya Allah lah yang berhak dan wajib disembah dan ditaati segala perintah dan larangan-Nya. Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk taat dan bertaqwa, kita senantiasa dituntut untuk berbuat yang benar dan baik dalam hidup ini. Jangan sampai ucapan kesetian dan kepasrahan kita kepada Allah dalam setiap sholat hanya sebatas lipstick alias penghias bibir saja.</p>
<p>Sementara hati kita dan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari bertolak belakang dengan apa yang kita ucapkan dalam sholat. Semua untuk Allah, tapi dalam praktek kehidupan sehari-hari kita malah menantang Allah dengan melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Sholat kita sangatlah khusuk, tetapi kita pun aktif melakukan perbuatan maksiat. Tidak ada munasiban (kesesuaian) antara ucapan dengan perbuatan. Lain ketika sholat, lain pula ketika berbuat. Kontradiktif.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. ash-Shaff [61]: 2-3).</p>
<p>Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk menjadi yang terbaik, tentu saja tidak menginginkan kemurkaan Allah atas segala perbuatan yang kita lakukan. Namun pada faktanya, justru sebagian dari kita melakukannya. Memang kita tidak menutup mata dengan kenyataan yang terjadi daat ini, dimana ide fashluddin ‘anil hayah atau memisahkan perkara agama dari peraturan dalam kehidupan bermasyarakat tengah menggejala hebat. Ide yang lahir dari ideologi Kapitalisme yang memang memiliki akidah sekuler ini, telah jadi primadona rujukan masyarakat kita. Tak bisa dipungkiri bahwa perilaku masyarakat kita yang amburadul adalah akibat mengadopsi nilai-nilai kapitalisme tersebut.</p>
<p>Asas manfaat yang dijadikan sebagai tameng dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari kerap menghiasi berbagai kepentingan. Hanya dengan melihat suatu barang atau perbuatan itu bermanfaat, maka ia serta merta menggunakan barang tersebut atau melakukan perbuatan diyakininya mendatangkan manfaat, tanpa melihat halal atau haram barang dan perbuatan tersebut. Cuma karena melihat basahnya bisnis miras dan narkotika, ramai-ramai berusaha menjadi yang terdepan dalam bisnis tersebut. Begitu pun ketika bisnis pelacuran menjadi primadona devisa dengan untung miliaran rupiah, juga serta merta mengkoordinir usaha seks bebas tersebut.</p>
<p>Lalu, kalau begitu diletakkan di mana kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah? Setiap hari, paling tidak lima kali dalam sholat kita ucapkan kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah. Setia dan rela diatur oleh Sang Maha Pencipta. Pasrah dengan apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Kita manut saja. Karena hanya Allah lah yang wajib disembah, wajib ditaati segala perintah dan larangan-Nya, sekaligus mengakui, hanya Allah lah Pencipta kita.</p>
<p>Kondisi masyarakat yang amburadul seperti ini, adalah tantangan tersendiri bagi kita untuk berusaha menunjukkan arti kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah. Kesetiaan dan kepasrahan yang sebenar-benarnya. Kita harus berusaha konsisten dengan apa yang kita ucapkan dalam sholat kita, lalu kita praktekkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Seharusnya bisa, karena kadang kala di hadapan manusia kita bisa menunjukkan kesetiaan dan kepasrahan. Kepada atasan, kita bisa setia dan pasrah, supaya atasan kita tidak mengusik posisi kita. Kemudian senantiasa kita memperlihatkan perilaku baik di hadapannya sebagai perwujudan kesetiaan dan kepasrahan yang sungguh-sungguh.</p>
<p>Hanya kepada Allah lah kita mempercayakan hidup kita, hanya kepada Allah lah kita memasrahkan seluruh jiwa kita. Karena sebaik-baik taat adalah kepada Allah dan Rasul-Nya yang tidak dan tidak akan pernah menyuruh berbuat jahat dan kehancuran.</p>
<p>“Barangsiapa ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (Qs. an-Nisâ’: 13).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hayatulislam.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hayatulislam.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayatulislam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayatulislam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayatulislam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayatulislam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayatulislam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayatulislam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayatulislam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayatulislam.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayatulislam.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayatulislam.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayatulislam.wordpress.com&blog=699509&post=37&subd=hayatulislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayatulislam.wordpress.com/2007/01/19/kesetiaan-dan-kepasrahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b676a3a2377065d5469a20c4f4fca89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">anakislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>