Tanggung Jawab Umat Dalam Dakwah Islam

Jika seorang Muslim dihadapkan pada dua permasalahan, yaitu antara permasalahan dirinya sendiri dengan permasalahan umat, maka sudah seharusnya ia mendahulukan permasalahan yang dihadapi oleh umat. Sikap mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya pribadi merupakan sikap mulia dan termasuk ke dalam bentuk pemikiran yang bernilai tinggi. Sedemikian besar perhatian Islam terhadap permasalahan umat, Islam sampai menggolongkan orang yang tidak peduli dengan permasalahan umat sebagai orang yang tidak berguna, dan tidak tergolong ke dalam kelompok umat Muhammad. Rasulullah Saw:

Siapa saja yang bangun pagi, sementara ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka ia tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka. [HR. ath-Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari].

Islam tidak pernah membiarkan salah seorang dari para penganutnya bebas dari tanggung jawab. Sebaliknya, Islam memberikan kepada mereka beban tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai manusia, jika ia telah mencapai status akil balig. Rasulullah Saw bersabda:

Ketahuilah, bahwa setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas kepemim-pinannya. Seorang pria (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita (istri) adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang pelayan/hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas kepe-mimpinannya. Ketahuilah, bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan masing-masing harus mempertanggungjawabkan kepemim-pinannya. [HR. al-Bukhari Muslim].

Tanggung jawab semacam ini, bisa semakin luas bisa pula semakin sempit, sesuai dengan kondisi yang dibebankan kepadanya. Jika orang yang menerima hukum taklif (beban hukum) dapat melakukannya sendiri, misalnya beban untuk menafkahi isteri dan anak-anaknya, atau memberi makan kepada tetangganya yang kelaparan, atau menolong orang-orang yang menderita; maka beban tersebut menjadi tanggung jawab individu. Sebab, lingkup aktivitasnya masih dalam jangkauan kemampuan seseorang untuk berbuat.

Tanggung Jawab Individu, Umat, Dan Negara

Namun demikian, jika seorang individu tidak dapat menjalankannya, kecuali bersama-sama dengan jamaah kaum Muslim, atau hukum Islam telah membebankan suatu perkara kepada jamaah —misalnya saja mengemban dakwah Islam untuk menegakkan Khilafah Islamiyah dalam rangka menerapkan syariat Islam, atau melakukan koreksi (muhâsabah) terhadap penguasa, atau melaksanakan jihad fi sabilillah— dalam keadaan seperti ini, cakupan tanggung jawabnya meluas hingga harus dipikul oleh jamaah kaum Muslim, atau oleh institusi negara (Khilafah Islamiyah).

Sebagian besar dari beban hukum yang telah diberikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya kepada kaum Muslim tidaklah merupakan tanggung jawab seorang individu Muslim. Bahkan, sebagian besar sistem hukum Islam —dalam hal pelaksanaan praktisnya— dibebankan kepada negara sebagai pihak yang mengatur, memelihara, dan menjaga umat dalam menjalankan sistem hukum Islam. Siapa yang mampu mengatur pelaksanaan sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem militer Islam, sistem pendidikan Islam, sistem politik luar negeri Islam, sistem pemerintahan Islam, sistem peradilan Islam, dan sejenisnya? Tentu bukan individu Muslim, melainkan negara (penguasa dan seluruh staf pemerintahannya).

Oleh karena itu, tanggung jawab dalam menerapkan sistem hukum Islam menjadi tanggung jawab jamaah (yaitu seluruh kaum Muslim dan penguasa), bukan tanggung jawab individu. Demikian pula dengan kewajiban kaum Muslim untuk mengemban dakwah Islam. Kewajiban ini bukan saja harus dijalankan oleh seorang individu Muslim, melainkan oleh seluruh kaum Muslim, termasuk negara (penguasa). Kewajiban ini sama-sama menimpa seorang Muslim yang faqih maupun yang awam, perempuan maupun lelaki, individu maupun masyarakat dan negara.

Sasaran beban dakwah yang bukan hanya mencakup tanggung jawab individu tetapi juga menjadi ranaggung jawab jamaah dan bahkan negara (penguasa), sangat tampak dalam nash-nash berikut ini:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk golongan kaum Muslim”?(Qs. Fushshilat [41]: 33).

Ayat di atas ditujukan kepada individu Muslim, siapa pun orangnya, untuk menjalankan aktivitas dakwah Islam.

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang mengajak pada kebajikan (Islam), memerintahkan yang makruf, dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Qs. Ali-Imraan [3]: 104).

Ayat ini ditujukan kepada sekelompok kaum Muslim —sebagai sebuah jamaah— untuk menjalankan aktivitas dakwah Islam dan amar makruf nahi mungkar.

Dalam suatu hadis disebutkan demikian:

Rasulullah Saw tidak pernah memerangi suatu kaum melainkan sesudah terlebih dulu menyampaikan dakwah Islam kepada mereka. [HR. Ahmad, al-Hakim, dan ath-Thabrani].

Hadis ini menjelaskan kedudukan Rasulullah Saw sebagai kepala negara (penguasa) yang menjalankan aktivitas dakwah terlebih dulu (yaitu mengajak orang-orang kafir agar memeluk Islam atau bersedia tunduk di bawah kekuasaan Islam), sebelum —jika mereka menolak—melakukan jihad fi sabilillah untuk membuka dan mengubah Darul Kufur menjadi Darul Islam.

Walhasil, tanggung jawab umat Islam dalam mengemban dakwah dapat disimpulkan pada dua kondisi: (1) Jika kaum Muslim telah menjalankan sistem hukum Islam dan Daulah Islam telah berdiri berdasarkan akidah Islam, maka mereka wajib menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir yang ada di berbagai negara. (2) Jika kaum Muslim belum dapat menjalankan sistem hukum Islam secara total, dan Daulah Islam belum tegak, maka kewajiban yang utama atas kaum Muslim adalah mengemban dakwah Islam dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam yang telah lenyap, yaitu dengan jalan mendirikan Daulah Islam yang berdiri berasaskan akidah Islam dan yang akan menerapkan sistem hukum Islam secara total.

Bahaya yang Mengancam Eksistensi Kaum Muslim

Saat ini, kaum Muslim berada dalam lingkungan masyarakat yang menganut berbagai pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran Islam. Bahaya-bahaya yang mengancam tubuh kaum Muslim berasal dari luar (eksternal) maupun berasal dari dalam (internal) kaum Muslim. Bahaya-bahaya itu antara lain:

A. Bahaya eksternal, mencakup: (1) Berkembangnya pemikiran-pemikiran yang berasal dari peradaban Barat yang menekankan doktrin pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). (2) Pemikiran Komunisme atau Sosialisme yang menolak adanya unsur agama dan mengatakan bahwa agama adalah candu yang membahayakan masyarakat. (3) Pemikiran-pemikiran lain yang membahayakan aqidah Islam dan syariatnya yang berasal dari Barat seperti: nasionalisme, demokrasi, pluralisme, liberalisme, dan yang sejenisnya.

B. Bahaya internal, mencakup muncul dan berkembangnya gerakan-gerakan penghancur seperti Ahmadiyah, Baha’iyah, aliran kebatinan, inkarus sunnah, freemasonry, ideologi Dunia Ketiga (yang dikembangkan oleh Khadafi di Libia), dan sejenisnya.

Semua itu muncul sebagai akibat dari serangan pemikiran (ghazw al-fikr) yang dilontarkan oleh Dunia Barat yang kafir kepada kaum Muslim. Di samping itu, serangan-serangan dalam wujud manuver politik, ekonomi, hingga militer terus melanda negeri-negeri kaum Muslim hingga saat ini; tanpa bisa dibendung lagi oleh kaum Muslim. Selain itu, identitas kaum Muslim yang memiliki standar pemikiran yang mengacu pada akidahnya yang jernih dan syariatnya yang agung lambat laun sirna; peranannya digantikan oleh akal, faktor kemaslahatan, adat istiadat, tradisi, bahkan hawa nafsu semata. Mereka tidak lagi menjadikan halal-haram sebagai tolok ukurnya.

Jika hal ini dibiarkan, sementara kaum Muslim melepas tanggung jawabnya dan tidak peduli dengan kondisi yang melanda mereka, maka kehancuran umat ini hanya soal waktu.

Tanggung Jawab Kaum Muslim Saat Ini

Dalam rangka merealisasikan berdirinya Negara Khilafah —yang akan menjamin dilanjutkannya kembali kehidupan Islam, menerapkan seluruh sistem hukum Islam secara total, serta mengemban dakwah Islam ke luar negeri dengan jalan dakwah dan jihad— maka harus ada pertarungan pemikiran (ash-shira’ al-fikrî) untuk menghancurkan dan melenyapkan seluruh pemikiran kufur yang betolak belakang dengan akidah dan syariat Islam. Tujuannya adalah agar kaum Muslim dapat menemukan kembali pemikiran-pemikiran Islam yang mampu mengatasi seluruh problematika kehidupan manusia, sekaligus mencampakkan seluruh bentuk pemikiran kufur yang bertentangan dengan Islam dan nyata-nyata telah menjadi standar sebagian besar kaum Muslim di seluruh dunia.

Pertarungan pemikiran dilakukan dengan cara mengungkap kerusakan, kekeliruan, kelemahan, dan ketidakberdayaan pemikiran-pemikiran kufur tersebut, yang memang tidak layak dijadikan tolok ukur bagi kaum Muslim dalam menyelesaikan problematika kehidupannya. Dalam waktu yang sama, harus dijelaskan keagungan pemikiran Islam, terutama sebagai pemikiran praktis yang layak dijadikan satu-satunya tolok ukur bagi seluruh umat manusia.

Di samping itu, hal ini membutuhkan perjuangan politik (al-kifâh as-siyâsî) yang sungguh-sungguh dari segenap kaum Muslim. Dengan itu, tujuan utamanya, yaitu melanjutkan kembali kehidupan Islam, dapat tercapai. Perjuangan politik tersebut dilakukan dengan jalan:

1. Membeberkan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh negara-negara imperialis, termasuk tindakan-tindakan kriminal dan persekongkolan jahat mereka terhadap kaum Muslim.

2. Menjelaskan berbagai bahaya kecurangan politik yang diterapkan secara paksa atas negeri-negeri kaum Muslim.

3. Mengungkap hakikat oknum-oknum penguasa yang menjadi antek-antek musuh-musuh Islam dan kaum Muslim.

4. Menjelaskan hakikat tokoh-tokoh politik yang menentang Islam dan bersikap munafik, baik yang berasal dari kalangan partai-partai politik, pejabat pemerintah, ataupun intelektual Muslim yang selalu menyesatkan kaum Muslim, memutarbalikkan fakta, dan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan.

5. Menjatuhkan martabat kepemimpinan beserta pribadi para tokoh yang aktivitasnya hanya menyesatkan umat Islam.

Dalam menjalankan aktivitas pergulatan pemikiran dan perjuangan politik ini (ash-shirâ’ al-fikrî wa al-kifâh as-siyâsî) ini, kaum Muslim tidak diperkenankan bermanis muka terhadap musuh-musuh Islam dan seluruh kaki tangan mereka. Allah SWT telah melarang Rasulullah Saw bersikap lunak dan bermanis muka terhadap musuh-musuh Islam. Allah SWT berfirman:

Janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula) kepadamu. (Qs. al-Qalam [68]: 8-9).

Perjuangan politik harus terus dilakukan sampai para penguasa bersedia tunduk kepada Islam, sekaligus rela meninggalkan kezaliman, pengkhianatan, dan persekongkolan dengan musuh-musuh Islam. Aktivitas perjuangan politik ini harus terus dilakukan meskipun menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, dan bahaya yang bisa mengorbankan harta maupun jiwa.

Tanpa kesadaran politik, pertarungan pemikiran, dan perjuangan politik, maka para pengemban dakwah Islam tidak akan menyadari problematika umat yang sebenarnya. Artinya, mereka tidak akan menjumpai jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi umat Islam. Mereka juga pasti tidak akan mampu mengatur dan memelihara urusan-urusan umat, jika —pada suatu saat— roda pemerintahan dialihkan dan diberikan kepada mereka.

Dengan demikian, selama seorang pengemban dakwah tidak berusaha mengembangkan pemikiran-pemikiran Islamnya yang jernih serta berusaha memiliki kesadaran politik yang tinggi dengan manjalankan aktivitas pergulatan pemikiran dan perjuangan politik, maka tidak mungkin ia menjadi pemimpin umat. Ia hanya mampu menjadi seorang pengajar, khatib, syaikh, dan sejenisnya. [Majalah al-Wa'ie, No. 6]

38 comments on “Tanggung Jawab Umat Dalam Dakwah Islam

    • alhamdulillah ,akhi..saya mau tanya ..koq akhi pasang bendera salafy..???
      kita semua adalah islam jadi ayodakwah kan agama jangan saling sikut ..ok???

  1. assalamualaikum,saya dah tau sunnah sebenarnya yang saudara salafyindonesia pinta pasti sunnah kelompok anda yaitu kelompok yang mengaku “ahlussunnah wal jamah”,Benar saya mau kok ,malahan berlomba-lomba untuk bergabung sesuai dengan ahlussunnah wal jamaah dalam hadits rasul,tapi bukan untuk bergabung pada Platform organisasi ahlussunnah,emang kamu sendiri ahlussunnah?,islam bukan memeperjuangkan mazhab mas?…

  2. Assalamua’alaikum ana setuju dgn uraian yang baru saja ana baca,…melihat kondisi umat ini memang sangat memprihatinkan,…ana telah banyak belajar dan membaca literatur tentang kepemimpinan dalam islam..sebuah negara benar2 akan terjamin keselamatanya jika di terapkan sistem islam…
    dan mengenai dakwah sendiri itu adalah kewajiban bagi tiap muslim,…sbg contoh lingkungan keluarga ana yang tadinya,…anti alergi dgn yang namanya syariat islam,pdhl notabene kita islam sejak lahir,..tp takut dgn ajaran sendiri…ini akibat dari kejahilan diri kita yang tak mau belajar dan enggan untuk berusaha mencari kebenaran…
    akibatnya,…gampang sekali pikiran dan ajaran2 yang bertentangan masuk dalam pikiran umat…
    ana yakin bila ada pembinaan yang berkesinambungan dari kader dakwah itu sendiri dan terbentuk tim yang solit untuk saling bekerjasama sesama organisasi dan elemen dakwah …insya Allah akan tercipta kehidupan yang tentram dan damai bagi umat manusia,…sebagaimana Rasullullah dan para sahabat,,,berjuang menegakan Kalimat Allah di muka bumi dengan berdakwah. Di mulai dari pembentukan Akidah iman islam yang mantap menjadikan Allah sebagai satu2nya Illah menjauhkan diri dari segala bid’ah dan kesyirikan,maka akan timbul kesadaran berislam yang baik dari tiap individu yang merindukan syariat islam tegak di muka bumi ini,…dimana Al-Qur’an dan Sunnah Rasul menjadi Pedoman Hidup…
    Menjadi satu2nya sumber Hukum yang Haq.
    Semoga semua usaha dan niat baik saudara2 muslim kita semua mendapat ridho Allah…
    apa pun jamaah kita,…profesi dan juga kedudukan kita kini,…Bila kita Bersatu padu maka tak ada yang dapat mengalahkan Kekuatan umat islam,..sayangnya byk saudara kita yang ego dgn jamaahnya dan saling merendahkan bila berbeda golongan dengan mereka, padahal Rasullullah sendiri mengajarkan kasih sayang dan lemah lembut kepada sesama muslim. dalam berdakwah pun beliau mengedepankan akhlak yang baik, menjadikan AlQuran sbg Pribadi beliau yang Mulia,…sekarang kembali kpd diri kita sendiri sudahkan kita menjadi tauladan untuk keluarga kita, lingkungan kita,masyarakat kita? Mungkin ini jadi muhasabah kita pribadi, yang jelas selalu ada pertanggung jawaban dari setiap amal yang kita lakukan. Sekarang marilah sama2 kita membangun kekuatan itu di mulai dari diri kita pribadi,keluarga terdekat kita,lingkungan dan jg bangsa ini.Melanjut kisah tadi….
    Alhamdulillah kini keluarga ana telah berada dlm naungan yang di ridhoi Allah. Sekarang sudah tumbuh kesadaran dalam berislam yang benar dan kita rutin mengadakan pengajian di rumah2, mengundang ulama yang mengerti dan paham ttg mengkaji islam yang benar2 berlandaskan pada Al-Quran,Sunnah…
    semoga Allah selalu memberi petunjuk kpd kita semua dan mengembalikan Islam kembali jaya dan tegak di bumi ini.Aamiin. Allahu Akbar
    sbg hamba Allah untuk saat itu baru itu yang bisa kami lakukan,…dan langkah selanjutnya telah berdiri sebuah stasiun Radio yang insya allah itu jadi upaya kami untuk mengibarkan kembali bendera islam.Dan mengembalikan umat ini pada jalan yang di Rahmati Jalan kebenaran yaitu Islam yang Murni dan Suci sebagaimana Rasul dan Para Sahabat memperjuangkannya…Aamiin..
    Wsslm

  3. assmlkm w w.
    istilah “ahlulsunnah wal jamaah” itu bukan bentuk suatu bentuk organisasi, tapi suatu “amalan agama”. jadi siapa saja orang islam, dari golongan mana saja yg menjalankan /mengamalkan full sunnah Rusullah saw. bisa kita sebut sebagai ahlul sunnah wal jamaah.

  4. kita ini saudara…………. apapun bahasamu, … warna kulitmu,…… negaramu,….. apabila sudah mengucap SYAHADATIN maka itu saudara kita jadi tidak usah eker-ekeran. Dakwahlah dengan AKHLAK ROSULLULLAH,

  5. Assalamualaikum…
    Saudara-saurara…..Islam itu satu yang akan kita tegakkan di Bumi ini…, Jangan mengkotak-kotakan golongan….pahami dahulu arti sebenarnya “ahlussunnah wal jamah”, semua hamba Allah berhak mengklaim dirinya ahlussunnah wal jamah..tetapi selagi di menjalankan Syariat-Nya berdasarkan Sunnah Rasulullah…

  6. sikap mengklaim paling benar adalah buruk, benar bukan menurut kata manusia, benar dan salah haruslah ditinjau dari nash yang paling kuat, yaitu kitabbullah dan hadist dari Rosullah, mempejarinya juga tidak bisa separuh tetapi harus komperensif, semua ditinjau…., termasuk dari perilaku Rosul, Rosul menegakkan islam, bukan hanya untuk perintah sholat saja, tetapi juga untuk membawa semua permasalahatan umat manusia, jadi so friend….., kaji islam dengan ikhlas bukan dengan nafsu, kaji islam dengan iman bukan dengan kemunafikan, kaji islam dengan mencari ridho Allah semata bukan dengan sikap fanatik terhadap golongan…., cari kebenaran dengan ikhlas…..

  7. salah satu penyebab lemahnya dakwah Islam adalah ketakutan salah dalam mengajak kepada kebenaran.. katanya, hati2 dengan berdakwah, baru tahu sedikit udah bicara banyak.. sebaliknya orang yang banyak tahu justru sedikit berbicara (berdakwah).. ancamannya adalah “dosa”.. pertanyaanya, bila kita wajib berdakwah apa yang kita dakwahkan, kita tak punya Ilmu… apalagi kasusnya seperti ini, seorang perokok tentu saja tidak akan mengajak orang lain untuk tdk merokok, seorang koruptor tidak akan melarang anak buahnya korupsi… kiranya perlu dijelaskan kriteria berdakwah bagi seseorang, juga bagaimana baiknya sikap kita terhadap pendakwah yang secara subjektif kurang kompetens… biasanya, orang jarang memperhatikan isi dakwah tetapi siapa yang memberi dakwah itu, subjektif. Maaf, mohon seseorang bisa menjelasakannya. Terima kasih.

  8. Terima kasih atas peringatannya yang sangat bermanfaat. Mudah saja, dakwah itu prinsipnya, ya’muru bil ma’ruf wa yanhauna ‘anilmunlar, balighu anni walau ayatan. Jadi untuk berdakwah tidak harus pintar atau khatam Qur’an Hadist dulu. Tahu sat ayatpun kita sudah berkewajiban untuk menularkannya pada yang lain. Yang penting apa yang kita sampaikan benar-benar berdasarkan firman Allah dan sanda Nabi. Bagaimana menurut anda?

  9. Sampaikan dengan bahasa kaumnya dan sampaikanlah walau satu ayat…… setiap umat Islam diwajibkan berdakwah dengan bahasa kaumnya dan bukan bahasa yang ngak dimengerti…. bukankah begitu….?

  10. isl@m pd dsrny @ @dalah 1 paket lngkp tnpa cacat,,,,slm quran dan sunah jadi rujukan,,,,gitu a j a kokrepot,,,(by gus dur]

  11. Nuh tidak tahu, bahwa air bah akan membanjir, ketika Allah memerintahkannya membuat bahtera..Ibrahim tidak tahu, bahwa seekor domba akan didatangkan, ketika Allah memerintahkannya menyembelih anaknya…Musa tidak tahu, bahwa laut akan terbelah, ketika Allah memerintahkannya memukulkan tongkat…Yang mereka tahu, Allah …tidak
    akan meninggalkan hambaNya…

  12. ALLAHU AKBAR..!!!
    6 SIFAT SHAHABAT NABI SAW. :
    1. yakin terhadap kalimat thayyibah “LAA ILAHA ILALLAHU MUHAMMADUROSULULLAH
    2. SHALAT KHUSU’ WAL KHUDU’
    3. ILMU MAA DIKIR
    4. IKROMUL MUSLIMIN
    5. TASKHIKHUNIYYAH
    6. DAKWAH WA TABLIGH

  13. Mengenai golongan islam yang mana yang paling benar dalam mengimani agama islam
    nya, mari kita belajar dari sejarah umat umat terdahulu yang diceritakan di
    dalam Al Quran.

    Surah Yunus (10)
    Ayat 36….Kebanyakan dari kalangan manusia hanya bersandarkan kepada andaian
    semata. Yang nyata, andaian tidak dapat menggantikan yang haq. Sesungguhnya
    Allah Maha Tahu apa yang mereka lakukan.

    Ayat 37….Dan Quran ini tidak bisa diciptakan selain oleh Allah, dimana ia
    mengesahkan apa apa yang sebelumnya dan menjelaskan apa apa yang telah
    ditetapkan untuk manusia. Padanya tiada keraguan dari Tuhan sakelian alam.

    Dari ceriita2 umat umat terdahulu itu, kita akan dapati bahawa golongan
    mayoritas nya cenderung kpd penyimpangan satelah setiap kali Nabi yg di turunkan
    Allah itu wafat. Penyesatan atau penyimpangan itu akan mula terjadi paling tidak
    sekitar 50 tahun kemudian satelah wafat nya para nabi2 mereka. Sejarah

    penyesesatan umat terdahulu itu seakan akan satu hal yg lumrah. Penyimpangan
    dari landasan yg telah ditetapkan oleh para Nabi2 Allah itu pasti terjadi.

    Saya percaya umat Nabi Muhammaad juga tidak terkecuali. Nah sekarang umat Nabi
    Muhammad ini sudah 1400 tahun lebih. Apakah kita yakin kita tidak saperti umat
    umat yang terdahulu itu yg cenderung kpd penyimpangan? Apa istimewa nya kita,
    umat Nabi Muhd.ini? Tidak ada keistimewaan nya dan tak ada bezanya. Saya yakin
    kita jugak sama saperti umat terdahulu itu yg cenderung kpd penyesesatan dan

    penyimpangan. Nah. Sekarang kalau kita kaji dari segi mana nya kesesatan
    golongan mayoritas umat Mohammad ini kita akan dapati bahawa penyesesatan
    golongan mayoritas adalah dalam mengimani kpd apa yg di sebut Hadis dan Sunnah
    Nabi. Baik mereka yg mengaku Ahli Sunnah Wal Jamaah, Baik mereka yg mengaku
    Ahlul Bait (Golongan Syiah). Baik mereka yg mengaku Wahabi.dan saterus nya. Rata
    rata golongan2 ini yg juga menjajdi golongan mayoritas umat islam ini tidak
    lepas dari taasubnya kpd ulama2 mereka atau imam2 mereka selain dari Hadis dan
    Sunnah Nabi itu. Karena apa? Karena Hadis dan Sunnah ini tidak ada pada waktu
    sekitar 100 tahun satelah wafat nya nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada yg nama nya

    Bukhari-Muslim dan saterus nya. Tidak ada Iman Empat (Shafii, Maliki, Hanbali
    dan Hanafi). Unsur2 dari kitab2 ini dan pendapat ulama2 ini hanya berdasarkan
    andaian semata.

    Mahukah kita ambil iktibar dan pelajaran dari umat umat terdahulu yg di
    ceritakan kpd kita melalui Al Quran.? Saya yakin tidak ramai yg akan mengambil
    iktibar dan pelajaran dari hakikat ini sebagaimana nya tidak ramai dari umat yg
    terdahulu. Namun sabagai amanah yg diwajibkan tulisan ini hanya sebagai usaha
    utk mereka yg mahu belajar dari sumber yg kuat dan meyakinkan ia itu kitabullah
    Al Quran dan buat mereka yg mahu BERFIKIR SECARA BERANI, ADIL, IKHLAS dan RENDAH
    HATI demi utk mendapatkan keredhaan kpd Allah subhanahu wataalaa…..

    Amin…..

  14. kalau menurut ane, yang namanya Ahlussunnah Wal Jamaah, itu adalah sebuah platform ideologi (baca Aqidah) karena, Ahlussunnah wal Jamaah itu memiliki tiga bagian, yang pertama adalah ahlul Wijdan, yang kedua adalah ahlul Kalam, dan yang ketiga adalah ahlul hadits. dan bukan madzhab ataupun sebuah pemahaman fikih, fikihmah luas bro, kalau memang layak untuk menjadi Mujtahid Mutlaq Mustaqil, silahkan anda berijtihad dan jadilah Madzhab, tapi untuk aqidah kalau bukan ahlussunnah wal jamaah wah itu bahaya banget.

  15. setahu sy ahlussunah wal jamaah adalah orang or jamaah yang mengamalkan sunah-sunah baginda RASULULLOH SAW seperti yg telah dcontohkan oleh rosululloh saw dan para sahabat

  16. Its like you learn my thoughts! You appear to grasp so much approximately
    this, such as you wrote the ebook in it or something.
    I believe that you just can do with some percent to pressure the message house a bit, but other than that, this is excellent blog.
    A fantastic read. I’ll definitely be back.

  17. Hi there very nice website!! Guy .. Beautiful .
    . Amazing .. I’ll bookmark your website and take the feeds also? I am happy to find a lot of useful info here in the submit, we need work out more strategies in this regard, thanks for sharing. . . . . .

  18. I’m really impressed with your writing skills and also with the layout on your weblog. Is this a paid theme or did you customize it yourself? Anyway keep up the excellent quality writing, it is rare to see a nice blog like this one nowadays.

  19. I seldom leave comments, however i did some searching and wound up here Tanggung Jawab Umat Dalam
    Dakwah Islam | HAYATUL ISLAM. And I do have 2 questions for you if it’s allright. Is it simply me or does it look as if like a few of the remarks look like they are coming from brain dead folks? :-P And, if you are posting at additional places, I’d
    like to follow anything new you have to post.
    Would you make a list of the complete urls of all
    your shared pages like your twitter feed, Facebook page or linkedin profile?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s