Menunaikan Amanah

Oleh: O. Solihin

Sering kali kita mengabaikan amanah yang telah dibebankan kepada kita. Amanah yang telah dibebankan Allah kepada kita termasuk seluruh bentuk amanah dalam kehidupan ini. Entah itu amanah tentang menjaga keluarga sampai amanah yang termasuk berat seperti mengurus pemerintahan dengan menerapkan aturan yang benar-benar adil bagi rakyat. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. an-Nisaa’ [4]: 58).

Yang dimaksud dari ayat tersebut tentang menyampaikan amanah kepada ahlinya adalah serupa pengertiannya dengan memberikan tempat yang pas dan layak kepada ahlinya. Bila tidak, tentu saja akan menimbulkan berbagai masalah yang bisa mengancam keberlangsungan hidup ini. Berkaitan dengan hal ini, tentu saja kita tidak boleh memberikan keprcayaan untuk mengurus masjid kepada preman, misalnya. Karena bisa jadi seluruh asset masjid bisa terkuras tak karu-karuan. Dari masalah yang ‘sederhana’ ini tentu saja untuk mengurus masalah-masalah besar seperti pemerintahan diperlukan orang yang pas dan layak. Selain itu orang tersebut bisa dipercaya dan punya jaminan untuk menerapkan aturan-aturannya dengan adil berdasarkan amanah yang telah dibebankan Allah kepadanya. Dengan kata lain, kita tidak boleh memberikan kepercayaan penuh kepada orang yang tidak amanah alias tidak pas dan tidak layak untuk menduduki jabatan pemerintahan karena tak memiliki jaminan untuk bisa menunaikan amanah Allah dengan benar.

Dalam sebuah riwayat, ada dua orang yang berselisih tentang air (irigasi). Orang tersebut adalah Zubair bin Al Awwam dengan salah seorang dari kaum Anshor. Perselisihan tersebut tak menemui penyelesaian, akhirnya keduanya sepakat menemui Nabi Saw dan menyampaikan permasalahannya. Setelah mendengar penuturan kedua orang ini lalu Nabi Saw memberikan keputusan bahwa air tersebut harus dialirkan terlebih dulu kepada Zubair bin Al Awwam. Tapi rupanya orang dari Anshor ini tidak puas, bahkan sempat menuduh bahwa Nabi nepotisme —karena kebetulan Zubair masih famili Nabi. Meski diprotes, Nabi Saw tetap pada keputusannya. Akhirnya orang dari Anshor ini menemui Abu Bakar Ash Shiddieq, ia ceritakan semua masalahnya. Dan pernyataan Abu Bakar r.a. justeru mendukung keputusan Nabi SAW. Masih juga tidak puas, ia kemudian menemui Umar bin Khaththab. Setelah ia bercerita, Umar bertanya: “Apakah itu keputusan Nabi?” Orang dari Anshor ini menjawab, “Ya”. Umar lalu pergi menuju kamarnya dan kembali dengan menghunus pedang, sesaat kemudian Umar menebas leher orang tersebut. Lalu turunlah ayat 65 surat an-Nisaa’ [4] “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) dalam perkara yang mereka perselisihkan.”

Dalam penjelasan asbabun nuzul ayat di atas Nabi telah menjalan amanah yang telah dibebankan kepadanya sebagai kepala negara pada waktu itu. Tentu saja keputusan tersebut adalah keputusan yang adil yang telah diputuskan Nabi Saw. Karena Allah telah menjamin ucapan Nabi adalah wahyu-Nya, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. an-Najm [53]: 3-4).

Dengan demikian adalah termasuk dosa besar bila kita tidak melaksanakan amanah tersebut dengan benar dan adil, termasuk dosa besar pula bila kita memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak ahli (layak) untuk menunaikan amanah tersebut. Wallahu’alam bi showab

By anakislam Posted in Hikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s