Memilih Pemimpin

O. Solihin

Sampai saat ini sebagian dari kaum Muslimin masih ada yang peduli terhadap calon pemimpinnya, sehingga sebelum menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon pemimpin negeri ini mereka mempertimbangkan banyak hal. Termasuk isyu yang masih hangat, yakni masalah kepemimpinan wanita. Meski terbagi ke dalam dua kubu, yakni antara pro dan kontra. Ini menunjukkan sebuah kepedulian dari sebagian kaum Muslimin.

Dalam Islam, menjadi pemimpin bukan perkara yang mudah. Tentu saja karena harus memenuhi beberapa kriteria. Baik itu kriteria mutlak atau tambahan. Syarat mutlak seorang pemimpin dalam Islam adalah muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil, dan berkemampuan. Syarat tambahan —termasuk syarat afdholiyah (keutamaan) adalah penduduk Quraisy dan mujtahid (Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Nidham al-Hukmi fil Islami).

Beberapa kriteria tersebut cukup untuk menjaring calon pemimpin unggulan. Dan mengingat seorang pemimpin dalam pandangan Islam adalah manusia yang paling bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya, maka konsekuensi logisnya adalah harus dipilih calon pemimpin yang handal dan kapabel berdasarkan syarat-syarat tersebut di atas. Sabda Rasulullah Saw:

“Pemimpin akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Juga harus dipahami oleh kaum Muslimin bahwa syarat-syarat calon pemimpin tersebut adalah syarat yang harus dipenuhi. Sebagai seorang Muslim kita harus tunduk dan patuh terhadap ajaran Islam yang diturunkan Allah dan dibawa oleh baginda Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, dalam hal memilih pemimpin pun kita harus mengembalikan kepada ajaran Islam. Tidak boleh berdasarkan akal atau hawa nafsu kita semata yang tidak mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Kita harus menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Firman Allah

“Tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk ibadah kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzariyat [51]: 56).

Menjadikan Allah sebagai pencipta dan dzat yang disembah, maka logikanya adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ini adalah konsekuensi logis dari pengabdian kita kepada Allah SWT.

Memilih pemimpin termasuk menentukan masa depan kita. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, maka alamat fatal yang kita terima. Kesalahan kita itu harus dibayar mahal dengan pengorbanan yang mungkin adalah kesia-siaan. Dengan demikian, harus pandai memilih dan memilah calon pemimpin kita. Tentu saja, mereka harus memenuhi syarat-syarat di atas. Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat baik dan membantu sanak kerabat. Dan mencegah dari kekejian dan kemungkaran dan aniaya (melampaui batas). Allah menasihati kamu supaya kamu ingat.” (Qs. an-Nahl [16]: 90).

Semoga kita masih peduli dengan masa depan Islam dan kaum Muslimin. Berpikir jernih dan mendalam sangat diperlukan kaum Muslimin sebelum menjatuhkan pilihannya. Bagaimana pun juga keputusan itu akan membawa dampak yang besar bagi kehidupan kaum Muslimin, khususnya di negeri ini.

About these ads
By anakislam Posted in Hikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s