HAYATUL ISLAM

Janji

19 Januari 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

O. Solihin

Saat ini, janji-janji begitu mudah diucapkan. Hampir seluruh parpol peserta pemilu seperti mengobral janji-janjinya saat kampanye. Beragam janji dilontarkan. Tentu adalah janji-janji manis dan terkesan memberikan kesenangan. Hanya saja, kadangkala kita menyaksikan, bahwa tak selamanya janji itu bisa diwujudkan. Karena urusan janji yang satu ini berkaitan erat dengan ambisi-ambisi yang ingin diraih. Sehingga, tak mustahil bila kemudian mudahnya mengucapkan janji semudah mengingkarinya. Entahlah, yang pasti fakta masa lalu menunjukkan bukti.

Dalam urusan janji ini, memang kita mesti hati-hati. Bila ada kemungkinan tidak bisa menepatinya, maka janganlah membuat janji. Dengan kata lain, jangan berani memberikan janji-janji yang sebenarnya punya potensi untuk tidak dapat memenuhinya.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 1).

Ini sebagai patokan bagi kita agar tak sembarangan memberikan harapan dan janji-janji bila potensi untuk tidak bisa memenuhinya tinggi. Jangan mudah mengumbar janji. Karena janji ini masuk dalam pembahasan mu’amalah, yang berkaitan dengan orang lain. Maka, sudah sepantasnya kita memenuhinya bila telah mengadakan ikatan perjanjian. Firman Allah:

“Sebenarnya, siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali-Imran [3]: 76).

Janji-janji yang menyenangkan memang enak didengar. Namun, kita juga harus menyadari bahwa tak selamanya janji itu manis. Apalagi kalau ternyata buktinya tak ada. Walhasil, janji-janji itu akhirnya hanya berupa omong kosong saja. Selain kita tidak memenuhi seruan Allah untuk menepati janji, sekaligus kita pun telah memberikan keburukan bagi orang lain. Bayangkan, saat kita dengan mudahnya mengucapkan janji-janji manis —ketika kampanye, misalnya— tapi kemudian setelah mendapatkan kekuasaan janji itu diinjak-injaknya sendiri dengan tidak menepatinya. Bukankah itu sebuah perbuatan tercela? Dan jelas selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Kita dicela oleh Allah Ta’ala juga kita dicaci dan dimaki orang.

Sikap hati-hati dalam memberikan harapan kepada orang lain adalah sikap bijaksana. Dan kita pun mesti hati-hati pula bila mendapatkan orang yang sepertinya mengumbar berbagai janji manis, apalagi hubungannya dengan masa kampanye sekarang yang tentu saja janji-janji itu sedikit banyaknya terpengaruh dengan kepentingan lain —untuk memperoleh suara mayoritas— misalnya. Tentu, tujuan akhirnya agar parpolnya menang dan berkuasa.

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak sembarangan memberikan janji kepada orang lain. Rasul sering mengucapkan kalimat insya Allah bila beliau berjanji kepada para sahabatnya. Ucapan yang baik ini mengajarkan kepada kita untuk hati-hati, arti dari kalimat itu adalah “jika Allah menghendaki”. Ungkapan ini sekaligus memberikan kesan bahwa memang kita berusaha untuk bisa memenuhinya, tentu saja jika Allah menghendaki atau atas seijin Allah. Namun, pada saat kampanye ini kita kesulitan untuk membedakan mana janji yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya sekadar lipstik yang dibuat oleh para jurkam parpol peserta pemilu. Terlalu banyak kepentingan dari pernyataan janji-janji manis itu.

Jadi, janganlah kita mudah membuat janji bila akhirnya kita mudah pula mengingkarinya. Jangan sampai, karena hanya menginginkan suara mayoritas dari pemilih, lalu akhirnya kita memberikan harapan-harapan yang muluk-muluk, padahal belum tentu kita bisa memenuhinya. Allah mencela orang-orang yang membuat janji tapi tak menepatinya. Wallahu ‘alam bshowab

Kategori: Hikmah

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar