Nafais Tsamarat: Menyongsong Kematian

Abu Bakar berkata: Berkeinginan kuatlah untuk menyongsong kematian, maka hal itu akan memberikan kamu kehidupan (Ibn Khalikan, Wafiyat al-A’yan, III/67).

Maksudnya, ketika pikiran seseorang tertuju untuk menyongsong kebaikan dan hidup setelah kematian, maka dia akan menemukan makna dan tujuan hidupnya.[]

By anakislam Posted in 1

Israel Menenggelamkan Al-Quds Dengan 218 Sinagog

Dr. Hassan Khater, Sekretaris Jenderal Organisasi Islam-Kristen untuk menolong Al-Quds (Yerusalem) dan tempat-tempat suci, hari ini (11/4) membongkar keberadaan (218) sinagog di dalam kota Al-Quds, dan (70) di antaranya berada di dalam Kota Tua.

Khater dalam sebuah pernyataan pers menyebutkan bahwa otoritas pendudukan terus membangun rumah-rumah ibadat (sinagog) dan simbol-simbol keagamaan Yahudi di sebagian besar kota suci. Dan Kota Tua sebagai target utamanya. Ia menegaskan bahwa ada rencana baru yang telah terbongkar baru-baru ini untuk membangun sinagog besar di sekitar Masjid Al-Aqsha, dan hingga di sebelah timur Sinagog Hurva yang telah resmi dibuka pada akhir Maret.

Khater menilai bahwa apa yang dilakukan otoritas pendudukan dalam hal ini bukan untuk memenuhi kebutuhan yang wajar, melainkan untuk mengubah gambaran yang wajar bagi kota suci, dan mengubah karakter alami agama asli yang membedakannya sepanjang sejarah-yaitu karakter Arab Islam-Kristen yang mengakar-menjadi karakter asing yang dibuat melalui inspirasi pendudukan yang sebelumnya tidak pernah dikenal oleh kota dan warganya.

Sekretaris Jenderal Organisasi ini menjelaskan bahwa pendudukan melalui kelompok ekstremis keagamaannya bekerja sesuai dengan rencana yang serius, dan jangka panjang untuk menenggelamkan kota tua dan kota Al-Quds secara umum dengan sinagog dan simbol-simbol keagamaan yang dibuat-buat, dalam upaya signifikan dan serius, yang bertujuan untuk memperkuat identitas keagamaan bagi proyek pemukiman Yahudi, dan menyamarkan identitas proyek ini, yang pada kenyataanya proyek-proyek ini tidak lain adalah kolonialisme era modern, disamping cara menipu dan menyesatkan sebagian besar orang Yahudi di dunia yang masih di luar lingkaran petualangan jahat dan keji ini.

Khater memberikan tanggung jawab penuh kepada masyarakat internasional yang diwakili UNESCO, Organisasi Konferensi Islam (OKI), Vatikan, dan PBB atas apa yang sedang dihadapi Al-Quds, yaitu Yahudinisasi keagamaan yang serius, yang bertujuan mengubah identitas, kesucian, dan sejarahnya.

Khater juga meminta ulama dan pendeta Kristen yang peduli dengan kondisi saat ini dan masa depan Al-Quds untuk segera bertindak, dan mengadakan KTT internasional bagi para ulama untuk mengkaji apa yang dilakukan oleh otoritas pendudukan terhadap Al-Quds untuk menyusun mekanisme dan langkah-langkah efektif guna memberikan kontribusi dalam upaya menyelamatkan kota, dan tempat-tempat sucinya sebelum terlambat.

Khater mengatakan bahwa peran cendekiawan dan tokoh agama-Islam dan Kristen-dalam melakukan pembelaan terhadap Al-Quds sangat lemah dari pada peran para rabi dan kelompok keagamaan Yahudi dalam melakukan Yahudinisasi Al-Quds. Bahkan ia menegaskan bahwa peran cendekiawan dan tokoh agama dalam hal ini adalah sama pentingnya dengan peran para pemimpin dan politisi, terutama pertempuran di panggung Al-Quds dan tempat-tempat suci. (mediaumat.com, 11/4/2010)

By anakislam Posted in 1

HTI: Kunjungan Obama Bak Politik Belah Bambu

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali menegaskan penolakannya atas kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. HTI menilai, meski Obama keturunan muslim bukan berarti punya hak istimewa di Indonesia.

“Memang Obama pernah tinggal di Jakarta. Dan nenek moyangnya juga ada yang beragama Islam, tapi itu tidak bisa dijadikan untuk mengistimewakan dirinya,” kata juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto. Continue reading

Obama Batal Berkunjung, MUI Beberkan 3 Catatan Buruk AS

Jakarta – Rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, yang ditunda hingga Juni 2010 terus menuai kritik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengantongi 3 catatan buruk tentang Amerika.

“Karena ada tiga catatan buruk Amerika maka ada sebagian umat Islam menentang kehadiran Obama,” kata Ketua MUI Amidhan dalam diskusi Polemik bertajuk “Batalnya Kunjungan Obama ke Indonesia” di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (20/3/2010). Continue reading

Dua Kali Obama Gagal Hadir, Siapa Rugi?

Jakarta – Penundaan kedatangan Presiden AS Barrack Obama menjadi antiklimaks. Harus diakui, publik tersedot pemberitaan ihwal kehadiran Obama daripada persoalan krusial domestik. Siapa yang merugi?

Harus diakui, pemberitaan Obama dalam satu pekan terakhir ini memang cukup massif. Salah satu faktor yang muncul dikarenakan Obama pernah tinggal di Indonesia. Selain itu, kehadiran Obama mewakili negara adikuasa yaitu Amerika Serikat. Kegairahan publik ini juga tidak terlepas andil Istana yang acap menginformasikan ragam persiapan penyambutan Presiden ‘Barry’ itu. Continue reading

Obama Batal ke Indonesia

Pilih Bergandeng Tangan dengan Teroris Israel Netanyahu

Apa pentingnya Indonesia bagi Amerika daripada sekutu dekatnya Israel. Setelah membatalkan kunjungannya ke Indonesia, Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pekan depan. Netanyahu akan duduk bersama dengan Obama di sela-sela konvensi AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) pada hari Selasa, demikian dilaporkan FOX News, Jumat. Continue reading

Tidak ada Kewajiban Memuliakan Tamu yang Menumpahkan Darah Jutaan Umat Islam !

Kalau menolak kedatangan Obama tidak bisa kita lakukan, apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan pembelaan kita terhadap saudara yang menderita akibat penjajahan Amerika ?, (Ismail Yusanto)

HTI-Press. Pernyataan beberapa pihak yang menerima Obama dengan dalih menghormati tamu ditolak Hizbut Tahrir Indonesia. Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, mengatakan Obama memang tamu. Tapi tamu itu ada dua macam. Tamu yang baik dan tamu yang bermasalah. Obama adalah jenis tamu yang kedua, karena dia hingga sekarang terus menghancurkan negeri-negeri Muslim dan membunuhi umat Islam di berbagai negara.

Menurut Ismail , Obama adalah presiden dari sebuah negara yang saat ini jelas-jelas tengah menjajah negeri Muslim, seperti Irak dan Afghanistan. AS juga terus menyerang wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Akibatnya, negara-negara itu kini hancur berantakan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Tak terhitung besarnya kerugian yang ditimbulkan. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan rakyat di sana meninggal karenanya.

Menurut penelitian John Hopkins University, akibat invasi AS ke Irak sejak tahun 2003 lebih dari 1 juta warga sipil Irak tewas. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua tragedi ini? Amerika Serikat tentu. Dan kini negara itu dipimpin oleh Obama. Memang dulu ketika AS menginvasi Irak dan Afghanistan, AS dipimpin oleh Presiden Bush. Tapi Obama tidak mengubah kebijakan biadab itu. Memang pernah ada rencana untuk menarik pasukan dari Irak tapi hingga sekarang belum diwujudkan. Ia bahkan sudah memutuskan menambah 30 ribu pasukan ke Afghanistan. Itu artinya tingkat kerusakan dan penderitaan rakyat di sana, termasuk yang kemungkinan bakal tewas, akan meningkat.

Masih menurut Ismail, Obama tidak jauh beda dengan Bush, yang tangannya berlumuran darah dan yang tidak memiliki rasa belas kasih sedikitpun. Ia misalnya, hingga sekarang tidak sedikitpun mengungkapkan rasa simpati terhadap para korban tragedi Gaza setahun lalu. Jangankan simpati terhadap korban atau kutukan terhadap pelaku, menyinggung peristiwa itu saja tidak pernah ia lakukan. Dalam pidato inagurasi atau pelantikannya sebagai Presiden, tak sedikitpun ia menyinggung soal Gaza. Padahal itu peristiwa besar dengan korban lebih dari 1.300 orang tewas, yang telah menarik perhatian masyarakat dunia. Tapi bagi Obama, tragedi Gaza itu seolah tidak pernah ada.

Ketika ditanya bukankah Rosulullah saw mewajibkan memuliakan tamu meskipun kafir ? Ismail menjawab, benar, kalau tamu itu bermaksud baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap umat Islam seperti ingin menuntut Ilmu atau mengetahui Islam. Atau tamu itu merupakan utusan negara musuh yang akan membicarakan perundingan damai dengan umat Islam, itupun dengan catatan menghentikan peperangannya dulu, baru berunding.

Karena itu untuk bisa diterima Obama sebagai tamu yang baik, Obama haruslah terlebih dahulu memerintahkan untuk menghentikan kejahatan Amerika di seluruh dunia Islam, menarik pasukan dari Irak, Afghanistan, Pakistan, termasuk tidak lagi mendukung Israel yang terus membunuh umat Islam. Tapi Obama datang ke Indonesia sama sekali bukan membicarakan hal itu, bagaimana kita menyambut tamu sementara tangan tamu itu masih menghunuskan pisau yang berlumuran darah saudara kita, umat Islam ?, Tanya Ismail Yusanto.

Ismail kemudian mengutip Hadits Rosulullah saw :

Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya pada saat tidak berada di dekatnya, maka Allah pasti akan membebaskannya dari api neraka.[HR. Ishaq bin Rahwiyyah dari Asma' binti Yazid]

Wujud pembelaan seorang Muslim terhadap kaum Muslim di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina yang saat ini tengah menghadapi invasi militer Amerika, adalah menolak kunjungan, kerjasama, maupun intervensi non fisik dari penguasa-penguasa kafir imperialis dan antek-anteknya, semacam Amerika, Inggris, dan Israel. Kalau menolak kedatangan Obama tidak bisa kita lakukan, apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan pembelaan kita terhadap saudara kita ?, tanya Ismail .

Ibnu Hisyam dalam As Sirah An Nabawiyyah meriwayatkan bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap Abu Sofyan pemimpin kafir Quraisy (yang juga mertua Rosulullah saw) , beliau saw sama sekali tidak menggubris kedatangannya, bahkan beliau siap menyerang Mekah, karena pengkhianatan kaum Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyyah. Nabi saw tidak pernah menerima dan menyambut Abi Sofyan bin Harb dengan penyambutan kenegaraan yang menunjukkan rasa hormat dan belas kasih, namun beliau saw memperlakukan Abu Sofyan ra dengan sangat keras, hingga harga diri dan kesombongan Abu Sofyan luruh bagaikan sekawanan laron yang tersambar api pelita.

Artinya terhadap utusan yang membicarakan perdamaian dengan umat Islam saja diperlakukan dengan buruk oleh Rosulullah saw karena telah mengkhianti kesepakatan damai. Sementara Obama datang bukan untuk perundingan menghentikan kejahatan perangnya terhadap umat Islam.

Lalu, dari arah mana bisa dinyatakan bahwa para penguasa negeri-negeri Islam wajib menerima, menyambut, dan memulyakan tamu dari kalangan para penguasa kafir yang lalim dan dzalim itu, dengan alasan bahwa Nabi saw pernah menerima dan menyambut Abu Sofyan bin Harb? Padahal, bukankah Nabi saw jelas-jelas menolak dan tidak menggubris kedatangan Abu Sofyan bin Harb, begitu pula sikap para shahabat? Atas dasar itu, menggunakan kisah kedatangan Abu Sofyan ke Madinah adalah istinbath yang keliru dan mengada-ada.(FW)

By anakislam Posted in Opini